Aksi Protes di Paris Bentrok

Senin, 09 Nov 2026, 02:11 WIB

PARIS - Ribuan orang pada Sabtu (7/11) menggelar aksi protes di seluruh Prancis sebagai bentuk kemarahan baru terhadap pemerintah. Di Paris, bentrokan pecah antara polisi dan sejumlah pengunjuk rasa, meskipun jumlah peserta aksi lebih sedikit dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.

Aksi ini menandai akhir pekan keempat berturut-turut demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup. Gelombang protes ini muncul saat negara tersebut bersiap menghadapi pemilihan presiden dalam lima bulan ke depan yang merupakan sebuah momentum yang dipandang oleh kelompok sayap kanan sebagai peluang terbaik mereka untuk meraih kekuasaan.

Ket. Foto: Bentrokan l Seorang pengunjuk rasa berupaya menendang peluru gas air mata saat terjadi bentrokan dalam aksi protes di Paris, Prancis, pada Sabtu (7/11) lalu. Aksi protes kembali terjadi di seluruh Prancis untuk menyuarakan penentangan atas kenaikan biaya hidup. — Sumber: AFP/SEBASTIEN BOZON

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa total 146.000 orang berpartisipasi dalam demonstrasi di seluruh Prancis pada hari Sabtu, dengan 46.000 orang di antaranya berada di Paris. Sementara itu, pihak serikat pekerja mencatat angka 250.000 pengunjuk rasa secara nasional, termasuk 75.000 orang di ibu kota.

Angka-angka ini lebih rendah dibandingkan tiga akhir pekan sebelumnya, namun terjadi setelah aksi protes besar-besaran yang diorganisir serikat pekerja pada hari Kamis (5/11), yang menurut pihak berwenang diikuti oleh 575.000 orang, sementara menurut serikat pekerja, jumlahnya mencapai 1,6 juta orang.

Menjelang akhir aksi protes di Paris, polisi menggunakan gas air mata terhadap sejumlah individu yang melemparkan proyektil dan kembang api rakitan ke arah aparat keamanan, ungkap seorang koresponden AFP.

Polisi menyatakan bahwa sekelompok yang terdiri dari 200 orang bertindak anarkis dengan menyerang petugas saat mereka sedang menangkap seorang pria yang membakar tempat sampah di alun-alun tersebut.

Sekitar 70.000 perso­nel keamanan dikerahkan pada hari Sabtu, bersiaga untuk merespons dengan cepat menyusul aksi protes massal pada 17 Oktober lalu yang berujung pada kerusuhan terburuk di Prancis dalam beberapa tahun terakhir.

Serikat pekerja menggelar pawai melalui rute tradisional, dari Place de la République di pusat Kota Paris menuju Place de la Nation di bagian timur kota, yang merupakan lokasi di mana bentrokan pecah menjelang akhir aksi.

Namun gerakan Rompi Kuning (Yellow Vests), kelompok yang aksi protesnya sempat mengguncang pemerintahan Emmanuel Macron pada awal masa jabatannya, menyerukan demonstrasi tandingan di Place de la Concorde, pusat Kota Paris. Lokasi ini terletak sangat dekat dengan Istana Élysée (kediaman presiden) dan gedung majelis rendah parlemen.

Aksi ini telah dilarang oleh pihak berwenang,dan pada hari Sabtu kehadiran polisi dalam jumlah besar berhasil mencegah para pengunjuk rasa untuk mendekat.

Sekitar 100 orang yang tiba di lokasi dikepung oleh polisi. Menurut seorang reporter AFP, salah satu koordinator gerakan tersebut, Benjamin Ball, serta juru bicaranya, Azelma Sigaux, termasuk di antara mereka yang ditangkap oleh polisi.

Di Kota Lyon, wilayah tenggara Prancis, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan ratusan orang di pusat kota yang memblokir jalan selama sebuah pertemuan tanpa izin.

Pemicu Demo

Gelombang demonstrasi ini dipicu oleh gerakan para siswa sekolah menengah pada akhir September, yang merasa geram dengan kondisi di sekolah mereka. Para remaja ini, yang kemudian bergabung dengan mahasiswa universitas, tetap menjadi penggerak utama aksi protes tersebut.

“Hari ini adalah momen untuk terus memberikan tekanan,” ujar Sabine Kharbach, juru bicara Serikat Mahasiswa. “Banyak anak muda yang bergerak karena respons pemerintah masih belum memuaskan,” imbuh dia.

Tindakan kepolisian me­nuai kritik karena dianggap terlalu keras dengan puluhan investigasi internal telah diluncurkan terkait dugaan kebrutalan terhadap para pengunjuk rasa.

Sementara itu, kelompok pelajar dan guru di Prancis telah menyerukan aksi mogok baru pada hari Selasa (10/11) guna terus menekan pemerintah agar meningkatkan anggar­an pendidikan. Mereka menyatakan bahwa saat ini mereka berada dalam posisi yang kuat, sementara pemerintah berada dalam posisi lemah dan mulai melunak. AFP/I-1

  • Bentrokan

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.