Pemimpin Oposisi Ancam Spanyol Mundur dari Piala Dunia 2030 jika Tak Jadi Tuan Rumah Laga Final

Minggu, 08 Nov 2026, 00:30 WIB

MADRID – Pemimpin Partai Rakyat (Popular Party/PP) Spanyol, Alberto Nunez Feijoo, menyatakan negaranya sebaiknya mundur dari penyelenggaraan bersama Piala Dunia 2030 apabila tidak mendapat hak untuk menggelar pertandingan partai final.

Pernyataan tersebut disampaikan Feijoo dalam wawancara dengan program televisi Spanyol, El Chiringuito, Sabtu (7/11). Ia menilai partai puncak turnamen sepak bola terbesar di dunia itu semestinya digelar di Spanyol.

Ket. Foto: Pemimpin Partai Rakyat (Popular Party/PP) Spanyol, Alberto Nunez Feijoo. — Sumber: istimewa

“Final Piala Dunia harus berlangsung di tempat yang adil, tepat, dan tidak perlu dipertanyakan: di Spanyol,” kata Feijoo.

Ketika ditanya apakah ia akan mendorong Spanyol mundur dari penyelenggaraan bersama Portugal dan Maroko jika final diberikan kepada Maroko, Feijoo menjawab tegas.

“Ya. Jawabannya ya,” ujarnya.

Dalam unggahan di media sosial X, Feijoo kembali menegaskan sikapnya. “Anda tidak boleh merendahkan kekuatan utama sepak bola internasional,” tulisnya.

Spanyol, Portugal, dan Maroko merupakan tiga negara yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030. Ketiganya kini bersaing untuk mendapatkan hak menggelar pertandingan final.

Dua stadion yang dipandang sebagai kandidat utama adalah Santiago Bernabeu, markas Real Madrid, serta stadion baru berkapasitas 115.000 penonton yang direncanakan dibangun di Benslimane, dekat Casablanca, Maroko.

Presiden Federasi Sepak Bola Maroko, Fouzi Lekjaa, pada September lalu menyatakan bahwa pertandingan final akan digelar di negaranya, terlepas dari keberatan pihak lain.

“Final akan berlangsung di Maroko, suka atau tidak suka,” kata Lekjaa.

Lekjaa dikenal sebagai salah satu pendukung paling konsisten Presiden FIFA Gianni Infantino. Namun, FIFA menegaskan bahwa hingga kini belum ada keputusan mengenai stadion yang akan menjadi lokasi pertandingan final.

Persaingan memperebutkan final Piala Dunia 2030 berlangsung di tengah hubungan diplomatik Spanyol dan Maroko yang sedang tegang.

Ketegangan meningkat setelah peristiwa penyeberangan massal migran ke wilayah Ceuta, teritori Spanyol di Afrika Utara, pada Juli. Saat itu, puluhan ribu orang memasuki wilayah tersebut dari negara tetangga, Maroko.

Feijoo menuding Maroko berada di balik peristiwa yang ia sebut sebagai “invasi”. Ia juga berjanji akan mengambil sikap lebih tegas terhadap negara tersebut apabila terpilih menjadi perdana menteri.

Partai Rakyat yang dipimpin Feijoo berada di atas Partai Sosialis pimpinan Perdana Menteri Pedro Sanchez dalam sejumlah jajak pendapat menjelang pemilihan umum yang dipercepat pada 29 November. Meski demikian, PP berpotensi membutuhkan dukungan partai sayap kanan Vox untuk membentuk pemerintahan.

Vox juga menyerukan pendekatan yang lebih keras terhadap Maroko. Partai tersebut menuduh Maroko mengancam kedaulatan Spanyol dan menggunakan isu migrasi sebagai alat tekanan politik.

Di tengah perdebatan politik tersebut, pelatih tim nasional Spanyol, Luis de la Fuente, kembali menyampaikan dukungannya agar final Piala Dunia 2030 digelar di negaranya.

Namun, ia menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah mempersiapkan tim yang kompetitif untuk menghadapi turnamen mendatang dan berupaya meraih gelar juara dunia berikutnya.

“Untuk hal-hal lainnya, biarlah setiap orang mengurus apa yang memang menjadi tanggung jawab mereka,” kata De la Fuente dalam konferensi pers, Jumat, setelah mengumumkan skuad untuk pertandingan UEFA Nations League mendatang.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.