Pelatihan Meracik Biopestisida dari Buah Maja di Sumsel

Minggu, 08 Nov 2026, 23:07 WIB

Palembang - Sekolah Lapang Tim Pengabdian Departemen Biologi, Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang mengedukasi petani cabai di Sumatera Selatan (Sumsel) terkait cara meracik biopestisida dari buah maja.

"Cara meracik biopestisida dari buah maja atau Mabio-Unsri dikenalkan kepada petani sebagai pengendali hama dan penyakit cabai dari bahan lokal," kata Ketua Pelaksana Pengabdian Departemen Biologi Fakultas MIPA Unsri, Dr Rahmat Pratama di Palembang, Minggu.

Ket. Foto: Tim Pengabdian Departemen Biologi, Fakultas MIPA Unsri edukasi cara meracik biopestisida dari buah maja kepada petani cabai di Desa Tanjung Pering, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel. — Sumber: Antara

Dia menjelaskan kegiatan edukasi yang digelar pada bulan ini untuk 25 petani cabai di Desa Tanjung Pering, Kabupaten Ogan Ilir, oleh tim pelaksana pakar.

Setelah mengikuti pelatihan, berdasarkan hasil evaluasi tim, yakni Ayu Safitri, Rahmat Pratama, Muhammad Komarul Huda, Guntur Pragustiandi, Yuniar Harvianti, dan Yadi Oktariansyah, dibantu sejumlah mahasiswa pendamping lapangan, menunjukkan rata-rata nilai pengetahuan petani naik dari 44,0 sebelum pelatihan menjadi 75,2 sesudahnya.

"Sesuai hasil pelatihan dan evaluasi itu, petani cabai Desa Tanjung Pering mampu membuat biopestisida sendiri dari buah maja," ujarnya.

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari skema pengabdian berbasis masyarakat Unsri dengan judul “Inovasi Pestisida Nabati Berbasis Flora Lokal guna Mewujudkan Budidaya Cabai yang Tangguh dan Berkelanjutan”.

Serangan hama dan penyakit, seperti kutu daun, thrips, ulat grayak, antraknosa, dan bercak daun masih menjadi persoalan utama.

Sebagian besar petani mengandalkan pestisida kimia sintetis, sering kali tanpa mempertimbangkan tingkat serangan di lapangan. Untuk itu, pihaknya berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia pada cabai.

Bahan lokal, seperti buah maja dan lainnya yang bisa dimanfaatkan tersedia di sekitar mereka. Sebagai jawabannya, tim memperkenalkan Mabio-Unsri, yaitu mikroorganisme lokal (MOL) cair berbahan dasar buah maja matang (Aegle marmelos) dan air kelapa.

Formulasi ini ditambah air cucian beras serta gula merah atau molase sebagai media fermentasi. Campuran difermentasi sekitar 15 hari, lalu disaring dan diencerkan sebelum disemprotkan.

Dosis yang diajarkan adalah 10 mL per liter air untuk pencegahan dan 10–20 mL per liter air untuk serangan ringan, dengan waktu penyemprotan dilakukan pagi atau sore interval 7–10 hari.

Belajar sambil praktik pelatihan memakai pendekatan Sekolah Lapang (Farmer Field School), yakni penyuluhan, demonstrasi, praktik pembuatan, simulasi aplikasi di kebun, lalu diskusi dan evaluasi bersama.

Petani tidak hanya menerima materi, tetapi ikut memilih buah, menghancurkan bahan, mencampur, memantau fermentasi, hingga menyemprot tanaman.

Hasilnya terlihat pada evaluasi pre-test dan post-test: Nilai rata-rata naik 31,2 poin, dari 44,0 menjadi 75,2, dan seluruh peserta mengalami peningkatan skor dengan uji statistik menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan (p < 0,001).

Pada kuesioner persepsi, 88 persen peserta memberi nilai tertinggi (5 dari 5) untuk metode penyampaian. Sebanyak 84 persen menilai manfaat materi untuk praktik budi daya sangat tinggi, dan 80 persen menilai materi sangat sesuai dengan kebutuhan mereka.

Gejala awal di lahan percontohan selama empat minggu, tim membandingkan tanaman cabai yang disemprot Mabio-Unsri dengan tanaman tanpa perlakuan.

Pada plot perlakuan, intensitas penyakit bercak daun (Cercospora sp.) tercatat 12 persen dibanding 30 persen pada plot kontrol.

Intensitas serangan kutu daun tercatat 10 persen dibanding 28 persen. Tinggi tanaman rata-rata juga lebih baik, yaitu 58,4 cm dibanding 51,2 cm.

Tim menegaskan bahwa temuan ini masih bersifat awal dan berasal dari lahan percontohan. Mabio-Unsri diposisikan sebagai salah satu komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT), bukan pengganti seluruh metode pengendalian. Efektivitasnya masih perlu diuji pada lebih banyak lahan dan musim tanam.

Tahap berikutnya panen, hitungan biaya, dan pendampingan kegiatan masih berjalan. Tim sedang menyiapkan panen raya dan analisis ekonomi, yakni perbandingan biaya produksi dengan bahan lokal dibanding pestisida kimia.

Setelah itu akan ada evaluasi dampak sosial dan lingkungan. Rencana lanjutan mencakup pendampingan pada musim tanam berikutnya, pencatatan dosis dan hasil panen oleh petani, pengembangan formulasi yang lebih awet, serta penguatan kelompok tani agar mampu memproduksi input pertanian secara mandiri.

Program ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pertanian berkelanjutan, kesehatan, produksi yang bertanggung jawab, dan pelestarian ekosistem darat.

Tim berharap model tersebut dapat direplikasi di desa lain dalam wilayah provinsi dengan 17 kabupaten dan kota itu yang mengembangkan budi daya cabai sebagai komoditas andalan petani.

Sementara itu,Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel Ruzuan Efendi mengatakan pihaknya mendorong peningkatan produksi dan kualitas cabai provinsi setempat karena pada waktu tertentu pasokannya didukung dari luar daerah untuk menjaga keseimbangan kebutuhan pasar.

Untuk memperkuat pasokan dalam jangka panjang, pihaknya terus mendorong pelaksanaan program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) dengan melibatkan ahli kalangan perguruan tinggi, serta mengajak masyarakat menanam cabai secara mandiri di pekarangan rumah dan memanfaatkan lahan sekitarnya yang tidak produktif.

"Melalui program tersebut, pemerintah berharap ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat berkurang sekaligus meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dan menjaga stabilitas harga komoditas strategis di daerah," ujarnya.

  • Biopestisida

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.