Tak Lagi Mahal dan Rumit, VinFast Ubah Persepsi Konsumen terhadap Mobil Listrik.

Sabtu, 07 Nov 2026, 13:48 WIB

Keraguan terhadap kendaraan listrik (EV) masih berkembang di tengah masyarakat. Mulai dari kekhawatiran baterai mudah terbakar, risiko saat menerjang banjir, hingga biaya penggantian baterai yang dianggap bisa lebih mahal daripada harga mobilnya.

Survei PwC Indonesia menunjukkan, 87 persen responden mengkhawatirkan biaya penggantian baterai, 83 persen harga suku cadang, 66 persen pengeluaran tak terduga, dan 59 persen biaya perawatan rutin. Ketersediaan stasiun pengisian daya juga menjadi perhatian 60 persen responden, sementara 58 persen menganggap waktu pengisian masih terlalu lama.

Ket. Foto: VinFast — Sumber: VinFast

Namun, benarkah semua kekhawatiran tersebut sesuai kenyataan? Atau, sebagian di antaranya justru merupakan mitos yang berkembang lebih cepat daripada fakta? Untuk menjawabnya, perlu melihat data, teknologi, pengalaman pengguna, serta skema perlindungan yang ditawarkan produsen. VinFast, misalnya, berupaya menjawab berbagai keraguan tersebut melalui teknologi dan ekosistem kepemilikan kendaraan listrik.

Mitos Pertama: Baterai Cepat Menurun Kualitasnya dan Mudah Terbakar

Kekhawatiran mengenai baterai biasanya berkaitan dengan risiko kebakaran dan penurunan kemampuan menyimpan energi. Padahal, data AutoinsuranceEZ mencatat sekitar 25 kebakaran per

100.000 kendaraan listrik, jauh di bawah mobil bensin yang mencapai 1.530 kejadian. EV FireSafe juga mencatat probabilitas kebakaran baterai mobil listrik sekitar 0,0012 persen, dibandingkan 0,1 persen pada kendaraan bensin dan diesel.

Apalagi, VinFast menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang dikenal memiliki stabilitas termal baik. Keamanan baterai juga didukung Battery Management System (BMS) untuk memantau suhu, tegangan, dan arus listrik, serta sistem manajemen termal untuk menjaga temperatur tetap stabil saat berkendara maupun pengisian cepat.

Perlindungan konsumen diperkuat melalui battery subscription. Dalam skema ini, baterai tidak menjadi bagian dari kepemilikan kendaraan. VinFast menanggung perawatan, perbaikan, hingga penggantian apabila kesehatan baterai turun di bawah 70 persen, tanpa batas jumlah penggantian selama masa berlangganan aktif. Perlindungan tersebut juga dapat diteruskan kepada pemilik berikutnya. Melalui model berlangganan, risiko itu beralih kepada produsen.

Bagi pembeli baterai secara langsung, tersedia garansi kendaraan tujuh tahun atau 160.000 kilometer untuk VF 3, VF 5, VF 6, VF MPV 7, dan Limo Green. VF 7 mendapatkan garansi 10 tahun atau 200.000 kilometer. Garansi baterai mencapai delapan tahun tanpa batas jarak tempuh untuk VF 3 dan VF 5, serta 10 tahun atau 200.000 kilometer untuk VF 6, VF 7, VF MPV 7, dan Limo Green.

Mitos Kedua: Mobil Listrik Tidak Aman Melintasi Genangan Air

Anggapan bahwa mobil listrik lebih rentan terhadap air juga perlu dilihat secara proporsional. Baterai kendaraan listrik VinFast memiliki sertifikasi IP67, yang berarti dirancang kedap debu dan mampu bertahan dalam perendaman air hingga satu meter selama 30 menit dalam kondisi pengujian.

Berbeda dengan mobil bermesin bensin, kendaraan listrik tidak membutuhkan saluran udara untuk proses pembakaran maupun knalpot. Karena itu, risiko hydrolock akibat air masuk ke ruang pembakaran tidak berlaku pada sistem penggerak listrik.

Kemampuan ini pernah diperlihatkan VinFast melalui area Water Obstacle di GIIAS 2026. Meski demikian, mobil listrik tetap memiliki batas kemampuan. Genangan terlalu dalam dan arus air deras tetap berbahaya bagi semua jenis kendaraan.

Mitos Ketiga: Mobil Listrik Masih Mahal untuk Dimiliki

Kekhawatiran berikutnya mencakup biaya servis, ketersediaan bengkel, jarak tempuh, hingga harga jual kembali. Consumer Reports menemukan biaya perawatan dan perbaikan mobil listrik sepanjang masa kepemilikan sekitar setengah lebih rendah dibandingkan mobil bensin sekelas. Argonne National Laboratory juga mencatat biaya perawatan rutin EV sekitar 40 persen lebih rendah per mil.

VinFast kini memiliki lebih dari 40 dealer showroom di Indonesia dan berencana menambah lebih dari 150 showroom. Jaringan layanan diperluas melalui mitra seperti Otoklix, dengan rencana pemanfaatan 150 bengkel, serta Bengkel BOS, Nawilis, Warna Warni Ban, dan Raperind.

Untuk jarak tempuh, pilihannya juga beragam. VF 3 memiliki jangkauan hingga 215 kilometer, sedangkan VF 7 Plus mencapai 471 kilometer berdasarkan NEDC. Waktu pengisian daya pun tidak selalu berarti harus menunggu berjam-jam. Pengisian baterai VF 6 dan VF 7 Eco, misalnya, dari 10 hingga 70 persen hanya membutuhkan sekitar 25 menit.

Dari sisi biaya, kalkulator Total Cost of Ownership (TCO) VinFast menunjukkan potensi penghematan selama lima tahun dengan asumsi penggunaan 2.000 kilometer per bulan. VF 3 dengan battery subscription mencatat biaya Rp159,45 juta, dibandingkan Rp303,9 juta untuk mobil bensin sekelas, atau lebih hemat sekitar 48 persen. Jika baterai dibeli langsung, penghematannya mencapai sekitar 36 persen.

Pada VF MPV 7, potensi penghematan mencapai 21 persen melalui subscription dengan TCO Rp369,16 juta, dibandingkan Rp467 juta untuk mobil bensin pembanding. Sementara pembelian baterai langsung menghasilkan TCO Rp439,04 juta, atau lebih rendah sekitar 6 persen.

Biaya energi bulanan VF 3 diperkirakan Rp427.778, sedangkan mobil bensin pembanding mencapai Rp1,69 juta. Pada VF MPV 7, angkanya masing-masing Rp657.865 dan Rp1,95 juta.

Penghematan tersebut semakin besar dengan program pengisian daya gratis melalui jaringan V-Green hingga 31 Maret 2029. Ferdiana, salah seorang pemilik VinFast VF 3 asal Bandung, merasakan langsung manfaat program tersebut ketika melakukan perjalanan darat dari Bandung menuju Semarang, Solo, Tawangmangu, Telaga Sarangan, Yogyakarta, Cilacap, Pangandaran, sebelum kembali ke Bandung.

Menurutnya, biaya pengisian daya selama perjalanan nyaris tidak terasa.

"Saya hanya satu kali mengisi daya di stasiun pengisian milik hotel, biayanya sekitar Rp30.000. Itu pun sebenarnya karena saya ingin lebih santai. Selebihnya gratis dengan memanfaatkan jaringan pengisian daya VinFast," ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Max Cullen, pemilik VinFast VF 3 asal Surabaya. Baginya, perubahan paling terasa justru terlihat pada pengeluaran sehari-hari.

"Sekali pengisian penuh dari 0 hingga 100 persen hanya membutuhkan biaya sekitar Rp40.000, dengan jarak tempuh sekitar 210 kilometer. Pajak tahunannya juga hanya sekitar Rp150.000," kata Max.

Untuk menjawab kekhawatiran harga jual kembali, VinFast menawarkan Residual Value Guarantee hingga 90 persen dari harga pembelian awal dalam enam bulan pertama, 86 persen pada tahun pertama, 78 persen pada tahun kedua, dan 70 persen pada tahun ketiga. Khusus VF MPV 7 dan Limo Green, jaminannya mencapai hingga 80 persen untuk kedua skema kepemilikan.

Mitos mengenai kendaraan listrik terus bertahan karena konsumen sejatinya tidak hanya membeli sebuah kendaraan. Mereka juga mengambil risiko terhadap teknologi dan ekosistem yang belum sepenuhnya dipahami. Melalui teknologi, perlindungan konsumen, serta beragam skema kepemilikan, VinFast berupaya mengubah ketidakpastian tersebut menjadi sesuatu yang lebih terukur dan dapat diperhitungkan.

Pada akhirnya, konsumen tidak membutuhkan kendaraan yang sepenuhnya bebas risiko. Mereka membutuhkan kepastian bahwa risiko tersebut dapat dipahami dan tidak harus ditanggung sendirian. Melalui teknologi, perlindungan, dan skema kepemilikan, VinFast berupaya mengubah keraguan terhadap mobil listrik menjadi keputusan yang lebih terukur.

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.