Bungkutoko, Tracking Hutan Bakau di Teluk Kendari

Jumat, 06 Nov 2026, 07:22 WIB

DI TENGAH geliat Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, terdapat kawasan wisata alam yang menawarkan pengalaman berbeda dari wisata pantai pada umumnya. Namanya Tracking Mangrove Bungkutoko. Berada di Pulau Bungkutoko, kawasan ini menghadirkan suasana hutan bakau yang dapat dinikmati melalui jalur penelusuran di antara pepohonan mangrove.

Keunikan kawasan ini bukan hanya terletak pada keberadaan hutan bakau, melainkan juga lokasinya di sebuah pulau yang berada di depan Teluk Kendari. Pengunjung dapat menikmati ekosistem mangrove sekaligus merasakan suasana kawasan pesisir yang menjadi bagian dari kehidupan kota. Aksesnya pun relatif mudah karena Bungkutoko telah terhubung dengan daratan utama melalui jembatan dari kawasan Lapulu.

Ket. Foto: Pengunjung turun dari perahu penyeberangan saat tiba di destinasi wisata Pulau Bokori, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Sabtu (4/4). Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara mencatat kunjungan wisata selama periode libur Lebaran 2026 pada destinasi yang memiliki keunikan pasir putih serta ratusan pohon cemara mengelilingi pulau tersebut mencapai 6.176 wisatawan dan menghasilkan PAD sebanyak Rp52 juta. — Sumber: ANTARA/Andry Denisah

Berbeda dari sejumlah kawasan mangrove lain di Kendari, jalur tracking Bungkutoko dirancang menembus area vegetasi bakau. Keberadaan menara pantau juga memberikan sudut pandang berbeda untuk mengamati hamparan mangrove dari ketinggian. Perpaduan jalur penelusuran dan menara pengamatan ini menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari destinasi mangrove lain di kota tersebut.

Menjelajahi Hutan Bakau Melalui Jalur Penelusuran

Daya tarik utama Tracking Mangrove Bungkutoko terletak pada jalur penelusuran yang dirancang untuk membawa pengunjung mengenal ekosistem hutan bakau dari dekat. Berdasarkan catatan pembangunan kawasan yang diberitakan pada 2016, jalur tersebut memiliki panjang sekitar 500 meter dengan bentuk lintasan memutar.

Jalur ini menjadi sarana untuk menikmati suasana hutan mangrove tanpa harus berjalan langsung di atas tanah berlumpur atau di antara akar-akar tanaman. Pengunjung dapat mengamati vegetasi bakau dari dekat, memperhatikan bentuk akar yang mencuat dari permukaan tanah, serta menikmati suasana alam pesisir.

Salah satu hal menarik adalah posisi jalur yang berada di antara pepohonan mangrove. Pengalaman ini berbeda dengan kawasan Mangrove Lahundape, yang jalur tracking-nya berada di sisi vegetasi sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan hutan bakau sekaligus Teluk Kendari. Sementara itu, Mangrove Anggoeya memiliki karakter wisata yang berbeda dengan keberadaan fasilitas kuliner di area yang dikelilingi berbagai jenis mangrove.

Di Bungkutoko, pengunjung dapat menikmati suasana hutan dari dekat maupun mengamati vegetasi dari menara pantau. Perbedaan karakter tersebut memperlihatkan bahwa setiap kawasan mangrove di Kendari memiliki daya tarik tersendiri.

Bagi penggemar fotografi alam, bentuk akar, batang, dan tajuk pepohonan dapat menjadi objek menarik. Permainan cahaya yang menembus dedaunan juga menghadirkan suasana tersendiri, terutama ketika matahari tidak terlalu terik.

Ekosistem Penting bagi Kehidupan Pesisir

Di balik daya tarik wisatanya, hutan mangrove Bungkutoko memiliki fungsi ekologis yang penting. Mangrove merupakan ekosistem peralihan antara daratan dan laut yang menjadi habitat berbagai jenis biota, termasuk ikan, udang, kepiting, serta sejumlah satwa lainnya.

Akar mangrove membantu menahan sedimen dan mengurangi energi gelombang yang mencapai garis pantai. Vegetasi ini juga berperan melindungi wilayah pesisir dari abrasi serta membantu mengurangi risiko intrusi air laut ke daratan.

Sebuah penelitian mengenai pengelolaan ekosistem mangrove Bungkutoko yang diterbitkan dalam Jurnal Hutan dan Masyarakat pada 2020 mencatat keberadaan delapan jenis tumbuhan mangrove di kawasan tersebut. Penelitian itu juga mengidentifikasi potensi keanekaragaman satwa, termasuk burung dan reptil.

Keanekaragaman tersebut menunjukkan bahwa kawasan mangrove bukan sekadar kumpulan pepohonan di tepi laut. Ekosistem ini merupakan ruang hidup bagi berbagai organisme yang saling berhubungan. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga agar fungsi ekologisnya tetap berlangsung.

Kekayaan vegetasi dan satwa tersebut juga menjadi modal bagi pengembangan wisata edukasi. Pengunjung tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi dapat mengenal berbagai jenis tanaman bakau dan memahami bagaimana ekosistem pesisir bekerja.

Tracking Mangrove Bungkutoko mulai dibangun pada 2015 dengan dukungan dana sekitar Rp1,5 miliar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kawasan wisata ini kemudian diresmikan pada 2016.

Sejak awal, pengembangannya tidak hanya diarahkan sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi lingkungan. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.