WHO Setujui Uji Klinis Dua Vaksin Ebola Bundibugyo

Kamis, 05 Nov 2026, 19:27 WIB

JENEWA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui uji klinis dua vaksin Ebola baru yang dirancang khusus untuk melawan virus Bundibugyo. Persetujuan tersebut diberikan di tengah upaya mengendalikan wabah Ebola terbesar dalam sejarah Republik Demokratik Kongo (DRC).

Virus Bundibugyo telah menewaskan lebih dari 5.300 orang, sebagian besar di DRC, sejak Mei. Sebanyak 10.444 kasus virus tersebut telah dikonfirmasi, menjadikannya wabah yang berkembang paling cepat dalam sejarah DRC.

Ket. Foto: Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus — Sumber: WHO

Data tersebut menurut laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC). Lembaga kesehatan masyarakat mengalami kesulitan mengendalikan penyebaran virus Bundibugyo.

Hal ini disebabkan belum tersedianya vaksin maupun pengobatan yang secara khusus dirancang untuk melawan strain tersebut. Virus ini diketahui memiliki tingkat kematian sekitar 50 persen.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan dua uji coba vaksin baru tersebut direkomendasikan oleh kelompok ahli WHO pada Senin. Vaksin tersebut dirancang khusus untuk melawan virus Bundibugyo.

Institut Nasional Penelitian Biomedis DRC memimpin pelaksanaan uji coba tersebut dengan dukungan WHO dan sejumlah mitra internasional. Vaksin tersebut dikembangkan oleh Universitas Oxford bersama Serum Institute of India dan Moderna.

Tedros menegaskan bahwa vaksin merupakan perangkat penting dalam penanganan wabah. Namun, vaksin tidak dapat menggantikan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang telah terbukti mampu menyelamatkan nyawa.

Langkah tersebut mencakup penanganan dini, pelacakan kontak, isolasi pasien, pemakaman yang aman dan bermartabat, serta keterlibatan masyarakat. Sementara itu, penyebaran virus Bundibugyo juga dilaporkan di sejumlah negara lain.

Di Kenya, sembilan kasus telah dilaporkan, termasuk dua kematian, sedangkan satu kasus telah dikonfirmasi di Nigeria menurut WHO. Tedros mendesak negara-negara yang memberlakukan pembatasan perjalanan terkait wabah Ebola untuk mencabut kebijakan tersebut.

Ia memperingatkan bahwa pembatasan perjalanan dapat menghambat keterbukaan dalam pelaporan kasus dan merugikan upaya penanganan wabah. WHO menyatakan terus mendukung seluruh negara yang berbatasan dengan DRC untuk mempersiapkan kemungkinan penyebaran virus lintas batas. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.