Lukisan Batu Kuno Pulau Wetar Buka Jejak Pelayaran Austronesia
Kamis, 05 Nov 2026, 07:36 WIBPENEMUAN sebuah lempeng batu bergambar di Pulau Wetar, Maluku, membuka perspektif baru mengenai kehidupan masyarakat kepulauan Indonesia sekitar 4.000 tahun lalu. Benda tersebut bukan sekadar peninggalan seni prasejarah, melainkan kemungkinan juga menjadi simbol perlindungan dan identitas komunitas pelaut yang menjelajahi kawasan Pasifik.
Berbeda dengan lukisan prasejarah yang umumnya ditemukan pada dinding gua atau ceruk batu, artefak ini merupakan benda yang dapat dipindahkan dan dibawa oleh manusia. Karakteristik tersebut menjadikannya temuan arkeologi yang istimewa dalam tradisi seni masyarakat Austronesia.
Penemuan tersebut dilaporkan oleh Archaeology Magazine dalam edisi NovemberâDesember 2026 melalui rubrik Around the World. Disebutkan, artefak itu ditemukan di tempat perlindungan batu Huknaur, Pulau Wetar, Indonesia. Majalah tersebut menyebutnya sebagai benda seni portabel pertama yang diketahui menggunakan gaya khas Tradisi Lukisan Austronesia.
Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 17 Agustus 2026. Studi ini dikerjakan tim internasional yang melibatkan peneliti dari Australian National University (ANU), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Gadjah Mada (UGM), serta sejumlah lembaga penelitian lainnya.
Lempeng Batu dengan Simbol Matahari
Artefak yang ditemukan di Huknaur berupa lempeng batu yang permukaannya dihiasi pola lingkaran-lingkaran merah yang tersusun konsentris. Dari bagian tengahnya, terdapat garis-garis yang memancar ke arah luar sehingga membentuk gambaran menyerupai matahari dengan sinarnya.
Pola tersebut dikenal sebagai motif sun-ray atau sinar matahari. Ciri visualnya menjadi bagian dari tradisi seni yang disebut Austronesian Painting Tradition (APT), yakni tradisi seni lukis batu yang tersebar di kawasan Wallacea bagian timur dan sejumlah pulau di Pasifik bagian barat.
Dalam tradisi tersebut, motif geometris bukan satu-satunya bentuk gambar. Lukisan-lukisan yang ditemukan di sejumlah gua dan ceruk batu juga memperlihatkan figur manusia berukuran kecil, manusia yang membawa senjata, serta gambar perahu.
Keberadaan motif serupa di berbagai pulau memperlihatkan adanya kesamaan ekspresi visual di antara komunitas yang tinggal berjauhan. Para peneliti menduga kesamaan itu berkaitan dengan hubungan budaya dan jaringan komunikasi masyarakat penutur bahasa Austronesia.
Hal yang membuat temuan Wetar berbeda adalah medianya. Selama ini, lukisan APT lebih banyak diketahui melalui gambar yang dibuat langsung pada permukaan dinding gua, tebing, atau ceruk batu. Lempeng dari Huknaur justru memperlihatkan bahwa simbol-simbol tersebut juga dibuat pada benda yang dapat dipindahkan.
Peneliti utama Sue OâConnor dari ANU mengatakan, penemuan tersebut memberikan petunjuk baru mengenai cara masyarakat masa lalu menggunakan simbol. Menurut dia, simbol yang dapat dibawa bepergian berpotensi menjadi sarana untuk menyampaikan identitas bersama, hubungan antarkelompok, serta keyakinan yang dianut komunitas di pulau-pulau berbeda.
Motif menyerupai matahari yang sama juga diketahui pernah dilukiskan pada bagian haluan perahu dan benda-benda lain di kawasan tersebut. Dalam tradisi masyarakat setempat pada masa yang lebih kemudian, simbol semacam itu dikaitkan dengan perlindungan selama perjalanan laut dan penanda identitas kelompok.
Berusia Sekitar 4.000 Tahun
Salah satu aspek penting dari penemuan ini adalah konteks arkeologinya. Usia artefak diperkirakan melalui penanggalan radiokarbon terhadap lapisan endapan tempat benda tersebut ditemukan. Hasil analisis menempatkannya pada rentang sekitar 4.090 hingga 3.900 tahun sebelum masa kini (calibrated years before present). Dengan demikian, artefak tersebut berasal dari sekitar awal milenium kedua sebelum Masehi.
Penanggalan ini penting karena selama bertahun-tahun usia Tradisi Lukisan Austronesia sulit dipastikan. Lukisan yang dibuat pada dinding gua atau tebing batu tidak selalu memiliki material organik yang dapat digunakan untuk penanggalan radiokarbon secara langsung. Selain itu, permukaan lukisan dapat mengalami perubahan akibat cuaca, kelembapan, pertumbuhan organisme, dan proses pelapukan batuan.
Lempeng dari Wetar memberikan kesempatan berbeda. Benda itu ditemukan dalam lapisan arkeologi yang dapat diteliti bersama material lain di sekitarnya. Posisi stratigrafisnya memungkinkan para peneliti menghubungkan artefak dengan periode aktivitas manusia tertentu. Namun, perlu dibedakan bahwa angka 4.090â3.900 tahun merupakan hasil penanggalan konteks endapan arkeologi, bukan pengukuran langsung usia pigmen merah pada permukaan batu.
Dalam penelitian tersebut, lempeng ditemukan pada lapisan transisi antara hunian Paleolitik dan Neolitik. Posisi ini memperlihatkan bahwa tradisi pembuatan simbol tersebut telah hadir sebelum kemunculan tembikar Austronesia di situs Huknaur. Temuan ini sekaligus memberikan batas waktu yang lebih jelas bagi perkembangan tradisi seni tersebut di kawasan Wallacea bagian selatan.
Lebih Tua Daripada Tembikar
Temuan lain yang tidak kalah penting adalah hubungan antara usia lempeng batu dengan kemunculan tembikar di Huknaur. Selama ini, tembikar, kapak batu persegi, dan sejumlah peninggalan material lainnya menjadi petunjuk penting bagi arkeolog untuk menelusuri persebaran masyarakat Austronesia.
Namun, penelitian di Wetar menunjukkan bahwa motif khas seni Austronesia sudah ditemukan sekitar 500 tahun sebelum kemunculan tembikar yang berkaitan dengan tradisi tersebut di situs Huknaur. Tembikar Austronesia paling awal di lokasi itu diperkirakan berusia sekitar 3.500 tahun. Artinya, simbol lingkaran konsentris dan sinar matahari pada lempeng batu sudah digunakan ketika bukti tembikar tersebut belum muncul.
Perbedaan kronologi ini memberikan perspektif baru mengenai proses migrasi manusia prasejarah. Penyebaran budaya tidak selalu berlangsung melalui perpindahan teknologi, peralatan, atau pola bercocok tanam. Gagasan, simbol, dan keyakinan juga mungkin menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Jaringan Antarpulau Sejak Ribuan Tahun
Menariknya, manusia telah menempati dan memanfaatkan kawasan Huknaur jauh sebelum kemunculan lempeng batu tersebut. Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa lokasi itu sudah menjadi bagian dari jaringan pertukaran material antarpulau setidaknya sekitar 9.500 tahun lalu.
Salah satu bukti pentingnya adalah obsidian, yaitu batuan vulkanik yang terbentuk dari lava yang mendingin dengan sangat cepat. Material ini menghasilkan permukaan pecahan yang tajam sehingga banyak dimanfaatkan manusia prasejarah untuk membuat alat potong dan perkakas.
Obsidian dari Wetar diketahui telah didistribusikan ke setidaknya empat pulau lain di kawasan sekitarnya. Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarpulau telah berlangsung jauh sebelum periode migrasi Austronesia yang menjadi perhatian penelitian ini.
Dengan demikian, kedatangan masyarakat Austronesia tidak terjadi di kawasan yang sama sekali belum mengenal hubungan maritim. Mereka memasuki lingkungan kepulauan yang sebelumnya telah memiliki jaringan pergerakan manusia dan pertukaran material. hay
- Lukisan Batu Kuno
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.