• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • “KTP” Kuno yang Dibawa...

“KTP” Kuno yang Dibawa Nenek Moyang Mengarungi Samudra

Kamis, 05 Nov 2026, 07:22 WIB

SELAMA berabad-abad, kita sering membayangkan pelaut prasejarah sebagai kelompok manusia yang berpindah pulau semata-mata didorong oleh urusan perut: mencari lahan baru, berburu, atau berdagang tembikar.

Namun, penemuan artefak batu bergambar berusia sekitar 4.000 tahun di situs Huknaur, Pulau Wetar, Maluku, memutarbalikkan pemahaman tersebut.

Ket. Foto: Sebuah lempengan batu bercat berusia 4.000 tahun ditemukan di Pulau Wetar, Indonesia. — Sumber: Shimona Kealy/Australian National University.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini membuktikan bahwa pelaut prasejarah Indonesia tidak hanya membawa perbekalan fisik, tetapi juga membawa paspor budaya dan identitas spiritual atau semacam kartu identitas alias KTP.

Selama ini, seni batu prasejarah di Indonesia Timur sangat diidentikkan dengan lukisan dinding gua yang permanen. Sebaliknya, lempeng batu dari Huknaur justru menjadi artefak pertama dari Tradisi Lukisan Austronesia yang bersifat portabel atau bisa dibawa bepergian.

Bayangkan sebuah lempeng batu kecil bergambar lingkaran merah dengan garis-garis memancar menyerupai matahari yang muat di genggaman tangan. Benda ini diduga dibawa oleh seorang pelaut saat mengarungi samudra, berfungsi mirip tanda pengenal, simbol kelompok, atau jimat perlindungan.

Temuan ini juga mengubah cara pandang arkeolog terhadap kronologi migrasi. Selama bertahun-tahun, tembikar selalu dijadikan indikator utama untuk melacak keberadaan penutur bahasa Austronesia. Namun di Pulau Wetar, lempeng batu bersimbol matahari tersebut ditemukan pada lapisan endapan yang berusia sekitar 4.000 tahun—sekitar 500 tahun lebih tua sebelum tembikar Austronesia tertua muncul di situs yang sama.

Artinya, pertukaran gagasan dan simbol budaya ternyata terjadi lebih dulu melintasi lautan, jauh sebelum teknologi pembuatan wadah pecah belah itu tiba. Di sisi lain, masyarakat Austronesia yang tiba di Maluku kala itu tidak mendarat di pulau tak berpenghuni.

Penelitian menunjukkan bahwa situs Huknaur di Wetar telah menjadi bagian dari jaringan pertukaran material antarpulau sejak 9.500 tahun lalu, dibuktikan dengan tersebarnya batu obsidian tajam ke berbagai pulau di sekitarnya. Ketika pelaut Austronesia datang, mereka berinteraksi dengan komunitas maritim lokal yang telah lama membangun jalur perdagangan laut yang maju.

Kehadiran artefak ini menegaskan bahwa dalam sejarah panjang migrasi manusia di Nusantara, perpindahan tidak hanya digerakkan oleh kebutuhan ekonomi semata. Ada kekuatan identitas, gagasan, dan keyakinan yang mengikat manusia lintas pulau di tengah luasnya lautan. hay

  • “KTP” Kuno

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.