Target Pertumbuhan 6 Persen pada 2027, Mampukah Indonesia Menghadapi Tekanan Global?

Selasa, 03 Nov 2026, 05:01 WIB

Jakarta - Kepala Ekonom Allianz Global Investors (AllianzGI) Christian Schulz optimistis prospek jangka panjang ekonomi Indonesia tetap positif meskipun tekanan harga energi dan suku bunga global diperkirakan berlanjut hingga 2027.

Schulz mengatakan gejolak ekonomi internasional menimbulkan tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, kondisi tersebut tidak mengubah pandangannya terhadap potensi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Ket. Foto: Kepala Ekonom Global Allianz Global Investors (AllianzGI) Christian Schulz menyampaikan paparan mengenai prospek ekonomi global dan peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Media Roundtable di Jakarta, Senin (2/11). — Sumber: Antara

"Namun, hal itu tidak mengubah pandangan positif jangka panjang kami terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia," katanya dalam Media Roundtable bertajuk "Looking Ahead 2027: Global Trends, Indonesia Opportunities" di Jakarta, Senin (2/11).

Menurut dia, kenaikan harga energi dan suku bunga global menjadi dua tantangan utama karena dapat meningkatkan biaya impor energi, memengaruhi nilai tukar rupiah, serta menambah beban pembiayaan.

Meski demikian, Schulz menilai tekanan tersebut dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan penyesuaian kebijakan guna memperkuat ketahanan ekonomi dalam jangka panjang.

"Masalah-masalah ini bisa diatasi. Bahkan, ini merupakan peluang untuk melakukan perubahan yang memberikan manfaat dalam jangka panjang," ujarnya.

Ia menilai Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang relatif tinggi dibandingkan negara maju. Pertumbuhan ekonomi di atas lima persen, misalnya, merupakan capaian yang sudah lama tidak terlihat di Eropa.

Secara global, AllianzGI memperkirakan ekonomi dunia tetap tumbuh solid pada 2027, didukung investasi kecerdasan buatan (AI), belanja pemerintah di sejumlah negara, dan penyesuaian struktur perdagangan dunia.

"Kami memperkirakan pertumbuhan akan tetap solid dan kuat pada 2027," ungkapnya.

Dalam paparannya, AllianzGI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2027 mencapai 3,1 persen, Amerika Serikat 2,2 persen, kawasan euro 1,3 persen, dan Tiongkok 4,4 persen.

Schulz mengatakan proyeksi pertumbuhan global AllianzGI secara umum sejalan dengan konsensus. Namun, perusahaan memperkirakan inflasi cenderung lebih tinggi daripada perkiraan konsensus dan memiliki pandangan lebih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Jerman.

Ia mengingatkan tekanan inflasi global diperkirakan belum banyak mereda. Kondisi tersebut membuat sejumlah bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga atau mempertahankannya pada tingkat tinggi lebih lama.

"Kami tidak memperkirakan pertumbuhan turun secara signifikan. Kami juga tidak memperkirakan inflasi global turun terlalu banyak," tuturnya.

Schulz menggambarkan ekonomi dunia masih berada dalam fase pertumbuhan, tetapi mulai mendekati tahap siklus yang lebih matang. Karena itu, risiko perlambatan ekonomi dan gejolak pasar tetap perlu diantisipasi.

Menurut dia, negara berkembang masih memiliki peluang pertumbuhan struktural lebih besar karena proses mengejar ketertinggalan dari negara maju. Namun, kondisi setiap negara berbeda, terutama dalam menghadapi kenaikan biaya energi.

Negara berkembang yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Kondisi tersebut turut memengaruhi daya tarik relatif pasar saham masing-masing negara bagi investor global.

Dari sisi pasar keuangan, Schulz menilai pertumbuhan ekonomi pada 2027 masih berpotensi mendukung kinerja saham. Sementara itu, obligasi dapat menjadi semakin menarik apabila pertumbuhan dan inflasi mulai melambat serta suku bunga mencapai tingkat yang memadai.

Ia menekankan pentingnya Indonesia menjaga momentum pertumbuhan melalui kesinambungan kebijakan dan kepercayaan pasar internasional.

"Untuk itu, dibutuhkan kesinambungan (kebijakan) dan kepercayaan dari pasar internasional," katanya.

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Sementara itu, pertumbuhan kumulatif semester I 2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen dalam APBN 2027. Adapun Bank Dunia, dalam proyeksi Oktober 2026, memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2027.

Menunjukkan Ketahanan

Sementara itu, GREAT Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2026 berada di kisaran 5,2–5,4 persen secara tahunan (year on year/yoy). Proyeksi tersebut didasarkan pada sejumlah indikator ekonomi sepanjang Juli–September 2026 yang menunjukkan aktivitas produksi dan permintaan domestik tetap berlangsung.

Peneliti GREAT Institute Adhamaski Pangeran mengatakan aktivitas manufaktur menunjukkan penguatan. Hal tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Bank Indonesia sebesar 52,28 dan PMI S&P Global sebesar 52,4. Kedua indikator tersebut berada di zona ekspansi.

Dari sisi investasi, realisasi investasi tumbuh 7,6 persen menjadi Rp528,7 triliun. Perkembangan tersebut diikuti pertumbuhan kredit investasi sebesar 23,20 persen dan kredit modal kerja sebesar 11,89 persen.

Menurut Adhamaski, perkembangan investasi dan penyaluran kredit menjadi indikator yang mendukung aktivitas ekonomi nasional, terutama melalui pembiayaan kegiatan usaha dan pengembangan kapasitas produksi.

Mobilitas masyarakat juga menunjukkan peningkatan. Perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 9,28 persen, sedangkan kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 4,63 persen. Perkembangan tersebut turut menggambarkan aktivitas ekonomi pada sektor pariwisata dan jasa.

Berdasarkan berbagai indikator tersebut, GREAT Institute menilai fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global. Lembaga itu juga mempertahankan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026.

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap resilien. Dengan perkembangan ini, GREAT Institute mempertahankan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 akan mencapai 5,3–5,6 persen,” kata Adhamaski.

  • Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.