PDB Vietnam Berpotensi Salip RI, Alarm Keras Kegagalan Transformasi Industri

Selasa, 03 Nov 2026, 00:00 WIB

Indonesia perlu mengikuti strategi Taiwan, Tiongkok, dan Vietnam dalam mengembangkan industri semikonduktor.

JAKARTA – Keberhasilan Vietnam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui industrialisasi menjadi sinyal bahwa Indonesia perlu mempercepat transformasi struktur ekonominya, terutama dengan memperkuat industri bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor. Ketertinggalan dalam membangun ekosistem industri berteknologi tinggi berisiko membuat Indonesia semakin sulit bersaing dalam perebutan investasi global dan rantai pasok internasional.

Ket. Foto: Prospek Ekonomi - RI Tertinggal dari Vietnam di Industri Semikonduktor — Sumber: antara

Namun, meniru strategi Vietnam tidak cukup sebatas menawarkan insentif investasi, melainkan membutuhkan konsistensi kebijakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), penguasaan teknologi, serta pembangunan industri pendukung. Apalagi, proyeksi produk domestik bruto (PDB) Vietnam yang berpotensi melampaui Indonesia pada 2026 menjadi pengingat bahwa keunggulan ekonomi tidak hanya ditentukan besarnya pasar domestik, tetapi juga kemampuan membangun basis industri produktif dan kompetitif.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai Indonesia perlu mengikuti strategi Taiwan, Tiongkok, dan Vietnam dalam mengembangkan industri semikonduktor. “Langkah paling realistis bagi Indonesia adalah memulai dari sektor fabless atau desain chip tanpa harus langsung membangun pabrik fabrikasi yang membutuhkan investasi triliunan rupiah," ujarnya kepada Koran Jakarta, Senin (2/11).

Esther menjelaskan, pengembangan industri semikonduktor nasional harus bertumpu pada empat pilar, yakni penguasaan material, desain chip, fabrikasi wafer silikon, serta pengemasan dan pengujian (Assembly, Testing, and Packaging/ ATP).

“Untuk mendukung strategi tersebut, Indonesia perlu meningkatkan kualitas SDM melalui pengiriman ratusan talenta ke pusat industri global seperti Taiwan, serta memperkuat kolaborasi akademisi dan industri melalui Indonesia Semiconductor Design Center (ICDeC) dan fasilitas desain chip di Indonesia Manufacturing Center (IMC),” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, kemitraan global dalam riset dan pengembangan (R&D) serta transfer teknologi perlu diperkuat agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar atau lokasi perakitan, tetapi juga mampu menguasai pengetahuan dan teknologi semikonduktor.

Dukungan Investasi

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko menilai keberhasilan Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi 9,95 persen pada kuartal III-2026 ditopang investasi asing langsung, sektor manufaktur, ekspor, dan pembangunan infrastruktur. Kehadiran perusahaan teknologi global seperti Samsung, Foxconn, LG, dan Apple turut memperkuat industri dan ekspor Vietnam. Samsung sendiri menyumbang sekitar 20 persen dari total ekspor negara tersebut.

Menurut Suhartoko, Indonesia sebenarnya telah memiliki konsep industrialisasi yang baik, tetapi masih lemah dalam implementasi. Hambatan perizinan, keamanan, dan kepastian hukum kerap mengurangi minat investor asing.

“Karena itu, Indonesia perlu mempercepat pelaksanaan perencanaan industrialisasi agar mampu menarik investasi, memperkuat sektor manufaktur, dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan,” pungkasnya.

Seperti diketahui, PDB per kapita Vietnam diproyeksikan melampaui Indonesia pada 2026, seiring pesatnya perkembangan industri manufaktur dan meningkatnya peran negara tersebut dalam rantai pasok global. Vietnam berhasil menarik investasi produsen global di sektor bernilai tambah tinggi, seperti semikonduktor, elektronik, dan teknologi canggih, sekaligus menjadi alternatif basis produksi selain Tiongkok.

Transformasi dari industri tradisional menuju manufaktur berteknologi tinggi semakin memperkuat daya saing ekonomi Vietnam. Jika proyeksi tersebut terwujud, Vietnam akan mencatat tonggak penting dalam perekonomian Asia Tenggara, meskipun Indonesia masih memiliki populasi dan skala ekonomi keseluruhan yang lebih besar.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.