Objek Es Raksasa di Tepi Tata Surya Berpotensi Jadi Planet Katai Keenam
Selasa, 03 Nov 2026, 07:23 WIBTATA surya mungkin segera memiliki anggota baru dalam keluarga planet katai. Astronom menemukan sebuah objek es berukuran besar di wilayah luar tata surya, jauh di luar orbit Pluto. Objek yang diberi penunjukan sementara 2026 ED138 itu diperkirakan memiliki diameter antara 600 hingga 1.500 kilometer. Jika karakteristik fisik dan orbitnya memenuhi kriteria yang ditetapkan, objek tersebut berpotensi menjadi planet katai keenam yang diakui secara resmi.
Penemuan ini berasal dari analisis data pengamatan NSFâDOE Vera C. Rubin Observatory di Cile. Hasil pengamatan dan identifikasi objek tersebut diumumkan pada 27 Oktober 2026. Meski belum memperoleh status sebagai planet katai, ukuran dan karakteristik orbit 2026 ED138 membuatnya menjadi salah satu objek paling menarik yang ditemukan di kawasan luar Neptunus.
Objek ini terdeteksi oleh Matthew Holman, astronom dari Center for Astrophysics | Harvard & Smithsonian, ketika menganalisis data pengamatan Rubin Observatory. Penemuan tersebut kemudian diverifikasi melalui penelusuran ulang katalog dan citra oleh tim peneliti, termasuk Mario JuriÄ dari University of Washington.
Kehadiran 2026 ED138 menambah daftar panjang objek yang ditemukan di wilayah terluar tata surya. Benda-benda langit tersebut penting bagi astronom karena menyimpan petunjuk mengenai proses pembentukan tata surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu, termasuk bagaimana planet-planet raksasa terbentuk dan memengaruhi pergerakan objek-objek kecil di sekitarnya.
Berada 46 Kali Jarak Bumi-Matahari
Salah satu hal yang membuat 2026 ED138 menarik adalah lokasinya yang sangat jauh dari Matahari. Saat diamati, objek tersebut berada pada jarak sekitar 46 satuan astronomi atau astronomical unit (AU). Satu AU merupakan jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari, sekitar 150 juta kilometer.
Dengan demikian, jarak 2026 ED138 dari Matahari saat pengamatan mencapai sekitar 6,9 miliar kilometer. Sebagai perbandingan, Neptunus berada pada jarak rata-rata sekitar 30 AU, sedangkan Pluto memiliki jarak rata-rata sekitar 39,5 AU dari Matahari.
Jarak tersebut menempatkan 2026 ED138 dalam kelompok objek trans-Neptunus atau trans-Neptunian objects (TNO), yakni benda-benda langit yang mengorbit Matahari di luar orbit Neptunus. Kelompok ini mencakup berbagai objek es dengan ukuran dan karakteristik orbit yang beragam.
Meski berada jauh dari Matahari, objek-objek trans-Neptunus tetap terikat oleh gravitasi Matahari dan bergerak mengelilinginya. Sebagian memiliki orbit yang relatif stabil, sementara lainnya menunjukkan lintasan yang lebih miring atau lonjong akibat interaksi gravitasi dengan planet-planet besar.
Dalam data orbit awal, 2026 ED138 memiliki sumbu semi-mayor sekitar 43,09 AU dan eksentrisitas 0,139. Sumbu semi-mayor menggambarkan ukuran rata-rata lintasan elips suatu objek, sedangkan eksentrisitas menunjukkan tingkat kelonjongan orbitnya.
Berdiameter hingga 1.500 Kilometer
Berdasarkan tingkat kecerahan objek, jaraknya dari Matahari, serta perkiraan kemampuan permukaannya memantulkan cahaya atau albedo, para peneliti memperkirakan diameter 2026 ED138 berada dalam rentang 600â1.500 kilometer.
Rentang tersebut masih cukup lebar karena ukuran sebenarnya bergantung pada tingkat reflektivitas permukaan. Objek yang tampak terang belum tentu berukuran kecil, begitu pula benda yang terlihat lebih redup belum tentu berukuran besar. Permukaan yang lebih reflektif dapat membuat sebuah objek tampak lebih terang dibandingkan objek lain yang ukurannya sama tetapi memiliki permukaan lebih gelap.
Dalam kajian astronomi, albedo menjadi salah satu parameter penting untuk memperkirakan ukuran benda langit yang terlalu jauh untuk diamati secara detail. Dengan mengetahui seberapa banyak cahaya Matahari yang dipantulkan, astronom dapat mempersempit perkiraan diameter objek berdasarkan tingkat kecerahannya.
Meski demikian, pengukuran berdasarkan cahaya tampak belum cukup untuk menentukan ukuran secara pasti. Pengamatan pada panjang gelombang inframerah diperlukan untuk mengukur panas yang dipancarkan objek. Data tersebut dapat membantu peneliti memperkirakan ukuran fisik dan karakteristik permukaannya secara lebih akurat.
Jika perkiraan ukuran awal terbukti benar, 2026 ED138 akan masuk dalam kelompok objek trans-Neptunus berukuran besar. Benda es dengan diameter ratusan hingga lebih dari seribu kilometer diperkirakan memiliki gravitasi yang cukup kuat untuk menarik material penyusunnya hingga membentuk struktur mendekati bulat.
Namun, bentuk bulat tersebut tetap harus dibuktikan melalui pengamatan lanjutan. Inilah salah satu alasan mengapa 2026 ED138 masih disebut sebagai kandidat planet katai, bukan planet katai yang telah dikonfirmasi.
Di tengah Padatnya Bintang Bima Sakti
Penemuan 2026 ED138 tidak terjadi melalui satu kali pengamatan. Objek ini teridentifikasi setelah Holman menganalisis data yang dikumpulkan Vera C. Rubin Observatory menggunakan perangkat lunak pencarian objek bergerak yang dikembangkannya bersama Kevin Napier.
Program tersebut dirancang untuk mengidentifikasi benda langit yang berpindah posisi dengan mencocokkan miliaran titik deteksi dari berbagai rekaman pengamatan. Sistem ini mencari pola pergerakan yang konsisten sehingga objek yang bergerak di antara bintang-bintang latar dapat dikenali.
Pada 13 Oktober 2026, Holman menjalankan program tersebut terhadap data pengamatan Rubin yang dikumpulkan sepanjang tahun. Dari proses itu, ia menemukan pola pergerakan yang mengarah pada keberadaan 2026 ED138. Kecerahan dan perkiraan jaraknya menunjukkan bahwa objek tersebut kemungkinan memiliki ukuran yang tidak biasa untuk benda langit di wilayah luar tata surya.
Tim peneliti kemudian memeriksa kembali katalog dan citra pengamatan untuk memastikan bahwa objek tersebut bukan kesalahan pencitraan atau hasil pengolahan data. JuriÄ menelusuri arsip pengamatan dan menemukan tambahan rekaman yang sebelumnya belum diidentifikasi sebagai bagian dari objek yang sama.
Secara keseluruhan, Rubin Observatory mengamati 2026 ED138 sebanyak 30 kali dalam 20 malam pengamatan, antara 4 Maret hingga 11 Juli 2026. Data itu menjadi dasar untuk mengenali pergerakan objek dan menghitung karakteristik orbitnya.
Peneliti juga menemukan jejak objek tersebut dalam arsip pengamatan lain yang berasal dari 2016. Data tambahan dari Dark Energy Camera (DECam), yang dipasang pada teleskop Victor M. Blanco di Cile, membantu memperpanjang rentang pengamatan hingga lebih dari satu dekade. Dengan rentang waktu yang lebih panjang, astronom dapat menyusun perhitungan orbit yang lebih akurat.
Menariknya, objek tersebut juga ditemukan dalam data arsip satelit Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA. Tim peneliti yang dipimpin astronom dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menelusuri rekaman TESS selama beberapa tahun dan menemukan 2026 ED138 dalam lima periode pengamatan antara 2019 dan 2026. Empat di antaranya bahkan berasal dari masa sebelum penemuan oleh Rubin Observatory.
TESS sebenarnya dirancang untuk mencari planet di luar tata surya melalui perubahan kecerlangan bintang. Namun, data pengamatannya juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi objek tata surya yang bergerak di depan latar belakang bintang. Dengan menggabungkan banyak citra dan mengikuti perkiraan lintasan objek, peneliti dapat menemukan benda yang terlalu redup untuk terlihat dalam satu gambar.
Lokasi penemuan menjadi salah satu alasan mengapa 2026 ED138 tidak teridentifikasi lebih awal. Objek tersebut berada di kawasan langit yang berdekatan dengan bidang galaksi Bima Sakti, wilayah yang dipenuhi jutaan bintang dan sumber cahaya lain.
Di tengah kepadatan cahaya tersebut, objek yang relatif redup dan bergerak lambat dapat sulit dibedakan dari bintang-bintang di latar belakang. Banyak survei astronomi sebelumnya cenderung menghindari wilayah yang terlalu padat atau tidak mengamatinya sedalam kawasan langit lainnya. Kemampuan Rubin Observatory untuk memotret langit secara berulang dan mendeteksi perubahan posisi benda langit menjadi faktor penting dalam penemuan ini.
Orbitnya Dipengaruhi Gravitasi Neptunus
Selain ukuran dan lokasinya, lintasan orbit 2026 ED138 juga memberikan informasi mengenai sejarah pergerakannya. Hasil analisis menunjukkan orbit objek tersebut memiliki kemiringan sekitar 24,4 derajat terhadap bidang tata surya.
Karakteristik itu menempatkannya dalam kelompok hot classical trans-Neptunian objects. Istilah tersebut digunakan untuk mengelompokkan objek trans-Neptunus yang memiliki orbit dengan kemiringan relatif besar dibandingkan bidang orbit planet-planet utama.
Kemiringan orbit tersebut mengindikasikan bahwa lintasan 2026 ED138 kemungkinan pernah mengalami gangguan gravitasi. Salah satu benda langit yang diduga berperan dalam perubahan lintasan tersebut adalah Neptunus.
Sebagai planet terluar dalam tata surya, gravitasi Neptunus dapat memengaruhi orbit benda-benda kecil di sekitarnya. Interaksi gravitasi dalam jangka waktu panjang dapat mengubah bentuk, kemiringan, maupun posisi orbit objek trans-Neptunus. Pengaruh tersebut juga dapat membuat sebagian objek berpindah ke lintasan yang lebih jauh atau memiliki kemiringan lebih besar.
Analisis awal bahkan menunjukkan bahwa orbit 2026 ED138 berada di dekat resonansi gerak rata-rata 12:7 dengan Neptunus. Resonansi semacam ini terjadi ketika periode orbit dua benda langit memiliki perbandingan tertentu sehingga interaksi gravitasinya dapat berlangsung secara berulang. Namun, keanggotaan objek tersebut dalam resonansi itu masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Penelitian mengenai lintasan benda-benda trans-Neptunus penting untuk merekonstruksi dinamika tata surya pada masa awal. Para astronom dapat mempelajari bagaimana objek-objek kecil berpindah dari orbit asalnya, bagaimana planet-planet raksasa memengaruhi distribusinya, dan bagaimana struktur wilayah luar tata surya terbentuk hingga Âsaat ini. hay
- Tepi Tata Surya
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.