Liga Champions: Slavia Praha Dibayangi Rekor Buruk Jelang Menjamu Arsenal

Selasa, 03 Nov 2026, 07:30 WIB

PRAHA – Slavia Praha menghadapi tantangan berat ketika menjamu Arsenal dalam lanjutan Liga Champions, Kamis (5/11) dini hari WIB. Klub juara Liga Ceko itu bukan hanya harus berhadapan dengan salah satu kekuatan terbaik Eropa, tetapi juga berjuang mengakhiri rentetan panjang tanpa kemenangan di kompetisi elite antarklub tersebut.

Slavia baru sekali meraih kemenangan dalam 23 pertandingan Liga Champions yang telah mereka jalani. Satu-satunya kemenangan itu terjadi ketika melakoni debut di kompetisi tersebut dengan mengalahkan Steaua Bucharest pada September 2007.

Ket. Foto: Ilustrasi pertandingan Liga Champions Arsenal vs Slavia Praha. — Sumber: UEFA

Setelah itu, perjalanan Slavia di Liga Champions lebih banyak diwarnai hasil mengecewakan. Dalam empat kampanye keikutsertaan, termasuk musim ini, mereka hanya mampu mencatatkan delapan hasil imbang dan menelan 14 kekalahan.

Pelatih Slavia, Jindrich Trpisovsky, yang menangani klub sejak 2017, mengakui catatan tersebut semakin menjadi beban bagi timnya.

"Tentu saja, semakin lama rentetan ini berlangsung, semakin tidak menyenangkan rasanya," ujar Trpisovsky.

"Rentetan ini sudah sangat panjang. Semakin sering kami membicarakannya, semakin saya memikirkannya dibandingkan sebelumnya," tambahnya.

Rekor tanpa kemenangan terpanjang dalam sejarah Liga Champions masih dipegang AEK Athens. Klub Yunani tersebut gagal menang dalam 24 pertandingan beruntun sepanjang 1992-2006. Sementara itu, Steaua Bucharest, yang kini dikenal dengan nama FCSB, pernah melewati 23 pertandingan tanpa kemenangan pada periode 2006-2013.

Artinya, Slavia kini berada di ambang menyamai rekor buruk tersebut. Kekalahan atau hasil imbang melawan Arsenal akan membuat mereka semakin dekat dengan catatan yang tentu ingin dihindari.

Tantangan Slavia juga tidak berhenti sampai di situ. Setelah menjamu Arsenal, mereka masih harus menghadapi Villarreal di kandang sendiri dan bertandang ke markas Bayern Muenchen dalam pertandingan Liga Champions berikutnya.

Padahal, Arsenal datang ke Praha dengan reputasi sebagai salah satu tim paling tangguh di Eropa. Kemenangan 1-0 atas Liverpool di Anfield menjadi gambaran kekuatan klub asal London tersebut.

"Kami tentu memahami betapa beratnya pertandingan di Eropa dan seberapa besar usaha yang dibutuhkan untuk meraih kemenangan," kata Trpisovsky.

"Dalam beberapa pertandingan, kami justru tampil menyerang dan mengendalikan permainan, tetapi tetap kalah. Itulah keindahan sepak bola," lanjutnya.

Pertemuan dengan Arsenal juga menghadirkan kenangan buruk bagi Slavia. Kedua klub telah tiga kali bertemu di Liga Champions, dengan hasil satu imbang dan dua kekalahan bagi wakil Republik Ceko tersebut.

Salah satu kekalahan paling menyakitkan terjadi pada 2007 ketika Slavia dihancurkan Arsenal dengan skor telak 0-7 di London.

Vladimir Smicer, mantan penyerang Slavia yang pernah menjuarai Liga Champions bersama Liverpool pada 2005, menilai klub asal Praha tersebut beberapa kali kurang beruntung dalam menghadapi persaingan di Eropa.

"Slavia memang harus menghadapi tim-tim terbaik yang kualitasnya sudah sangat jelas. Menurut saya, mereka beberapa kali kurang beruntung," kata Smicer.

Slavia sebenarnya memiliki peluang mengakhiri rentetan tanpa kemenangan pada pertandingan pembuka kompetisi musim ini melawan Lens.

Meski harus bermain dengan 10 orang, mereka mampu unggul 2-1 hingga menit ke-89. Namun, keunggulan tersebut gagal dipertahankan dan Slavia akhirnya kalah 2-3.

"Itu benar-benar nasib buruk. Namun, bagaimanapun juga, rentetan tanpa kemenangan ini tetap menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan," ujar Smicer, yang pernah memperkuat Lens pada 1996-1999.

"Apalagi sekarang mereka harus menghadapi tim seperti Arsenal dan Bayern Muenchen. Itu merupakan pertandingan yang memang tidak bisa diharapkan Slavia untuk menang," tambahnya.

Menurut Smicer, Slavia seharusnya lebih mampu memaksimalkan pertandingan melawan lawan yang secara kualitas berada di bawah mereka.

Dia mencontohkan kekalahan 0-2 dari Sabah di Baku pada Oktober. Hasil tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab Slavia semakin sulit keluar dari periode negatif.

"Slavia memiliki kedalaman skuad yang bagus sehingga pelatih bisa menyesuaikan permainan dengan gaya bermain lawan. Namun, pada akhirnya semuanya kembali kepada kualitas pemain," jelasnya.

"Di Baku, mereka tampil di bawah performa terbaik, seperti dalam beberapa pertandingan lainnya. Hal itu membuat rentetan tanpa kemenangan semakin panjang. Ada sejumlah pertandingan yang seharusnya bisa mereka menangkan, tetapi sayangnya tidak terjadi," lanjut Smicer.

Slavia akan menjamu Arsenal pada 4 November, tepat setahun setelah mereka kalah 0-3 dari The Gunners dalam pertemuan kedua tim di Praha pada Liga Champions musim sebelumnya.

Bek Slavia, David Zima, menyebut Liga Champions sebagai "universitas sepak bola" karena kompetisi tersebut menghadirkan standar permainan tertinggi.

"Ini adalah level tertinggi. Anda tidak bisa terus-menerus terbebani oleh keharusan untuk menang sekarang juga. Ini sepak bola dan Anda tidak mungkin selalu menang. Terkadang Anda hanya membutuhkan sedikit keberuntungan," kata Zima.

Sementara itu, Trpisovsky menyadari timnya membutuhkan penampilan nyaris sempurna untuk bisa memberikan perlawanan kepada Arsenal.

"Segala sesuatunya harus berjalan sesuai keinginan kami. Kami harus memberikan 100 persen kemampuan. Jika itu bisa dilakukan, kami memiliki peluang untuk meraih hasil positif dalam pertandingan apa pun," tegasnya.

Bagi Slavia, duel melawan Arsenal bukan sekadar kesempatan meraih tiga poin. Ini juga menjadi ujian untuk membuktikan bahwa mereka masih mampu bersaing di panggung tertinggi sepak bola Eropa sekaligus menghindari catatan buruk yang semakin membayangi.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.