• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Indonesian Dance Festival ...

Indonesian Dance Festival 2026 Resmi Berakhir, Hadirkan Seniman dari Berbagai Negara

Selasa, 03 Nov 2026, 17:05 WIB

JAKARTA - Indonesian Dance Festival (IDF) 2026 resmi mengakhiri rangkaian penyelenggaraannya pada 1 November 2026 setelah berlangsung selama empat hari sejak 29 Oktober di Jakarta. Memasuki edisi ke-18, festival ini menghadirkan pertunjukan tari, lokakarya, diskusi, serta program artistik yang mempertemukan seniman, koreografer, kurator, dan publik dari Indonesia maupun berbagai negara.

Mengusung tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman, IDF 2026 menjadi ruang untuk menyaksikan sekaligus mendiskusikan beragam pendekatan dalam praktik tari kontemporer. Melalui program KAMPANA dan BENTANG, festival ini menghadirkan karya yang mengeksplorasi pengalaman personal, ingatan, identitas, hubungan manusia dengan lingkungan, hingga dinamika sosial dan budaya.

Ket. Foto: Indonesian Dance Festival (IDF) 2026 resmi mengakhiri rangkaian penyelenggaraannya pada 1 November 2026 setelah berlangsung selama empat hari sejak 29 Oktober di Jakarta. Memasuki edisi ke-18, festival ini menghadirkan pertunjukan tari, lokakarya, diskusi, serta program artistik yang mempertemukan seniman, koreografer, kurator, dan publik dari Indonesia maupun berbagai negara. — Sumber: Istimewa

Sejumlah karya dari seniman Indonesia maupun internasional turut mengisi rangkaian pertunjukan. Di antaranya karya Hartati berjudul Waktu Paruh yang menjadi bagian dari pembukaan festival, serta Reality oleh Soy Chanborey, Tetuha Halimawong oleh Ahmad Susantri, dan Menstruation Sumo Dance oleh tim chiipro.

Festival ini juga menampilkan New Fieldwork karya Yuka Uchida, Sea-Ghosts karya Natalie Quan Yau Tso, serta KONJO: Becoming Otherwise karya Densiel Lebang. Beragam karya tersebut memperlihatkan pendekatan koreografi yang berbeda dalam mengolah pengalaman dan persoalan yang dekat dengan kehidupan manusia.

Selain pertunjukan, IDF 2026 menghadirkan lokakarya dan bincang tari untuk memperluas pertukaran pengetahuan serta pengalaman artistik. Salah satu sesi yang digelar bertajuk Making, in Her Own Rhythm: Art, Work, Care, and a Life in Practice dengan menghadirkan Hartati, Densiel Lebang, dan Nanako Matsumoto, serta Keni Soeriaatmadja sebagai moderator.

Diskusi tersebut membahas dinamika praktik artistik perempuan dalam kaitannya dengan perubahan tubuh, pekerjaan, tanggung jawab, dan kehidupan sehari-hari. Sesi ini menjadi ruang untuk membicarakan pengalaman perempuan dalam menjalani praktik seni di tengah berbagai aspek kehidupan yang saling berkaitan.

Direktur Indonesian Dance Festival 2026 Ratri Anindyajati mengatakan, festival tersebut tidak hanya berorientasi pada penyelenggaraan pertunjukan. IDF juga dirancang sebagai ruang pertemuan bagi orang-orang dengan pengalaman dan perspektif berbeda untuk saling bertukar gagasan melalui tari.

“Bagi kami, Indonesian Dance Festival bukan hanya tentang menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menciptakan ruang bagi orang-orang dengan pengalaman dan perspektif yang berbeda untuk bertemu melalui tari. Selama empat hari ini, kami melihat bagaimana karya, percakapan, dan pertemuan dapat membuka pertanyaan serta cara pandang baru. Kami berharap pengalaman yang dibawa pulang oleh para seniman, penonton, dan seluruh pihak yang terlibat dapat terus berkembang menjadi percakapan dan kolaborasi setelah festival berakhir,” ujar Ratri.

Tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman juga mengajak publik memperhatikan perubahan yang tidak selalu terlihat di permukaan, tetapi dapat dirasakan dalam kehidupan dan praktik artistik. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman mengolah pengalaman, ingatan, identitas, serta hubungan dengan lingkungan ke dalam berbagai pendekatan koreografi.

Co-Curator Indonesian Dance Festival 2026 River Lin menilai pertemuan berbagai perspektif menjadi bagian penting dari pengalaman artistik yang dibangun melalui festival. Keberagaman pendekatan tersebut membuka ruang bagi publik untuk melihat perubahan melalui sudut pandang yang berbeda.

“Melalui tema Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman, kami ingin menghadirkan ruang untuk melihat perubahan yang mungkin tidak selalu tampak di permukaan, tetapi terasa dalam kehidupan dan praktik artistik. Beragam karya dan program dalam Indonesian Dance Festival 2026 memperlihatkan bagaimana para seniman mengolah pengalaman, ingatan, identitas, serta relasi dengan lingkungan melalui pendekatan koreografi yang berbeda. Pertemuan berbagai perspektif inilah yang menjadi bagian penting dari pengalaman artistik festival,” ungkap River.

Indonesian Dance Festival pertama kali diselenggarakan pada 1992 dan telah melalui berbagai perubahan bersama sejumlah generasi seniman serta pekerja seni. Keberlanjutan festival menjadi bagian dari upaya menjaga ruang berkarya, mempertemukan pelaku seni, dan mendukung perkembangan praktik tari kontemporer di Indonesia.

Salah satu pendiri Indonesian Dance Festival sekaligus Yayasan Loka Tari Nusantara (YLTN), Nungki Kusumastuti, menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan ruang tersebut agar dapat terus dimanfaatkan generasi seniman berikutnya. Menurut dia, keberlanjutan festival bukan sekadar memastikan acara berlangsung setiap dua tahun, melainkan juga merawat ekosistem yang memungkinkan seniman mengembangkan praktiknya.

“Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1992, Indonesian Dance Festival telah melalui berbagai perubahan dan perjalanan bersama banyak generasi seniman serta pekerja seni. Bagi saya, menjaga keberlangsungan festival bukan hanya tentang memastikan Indonesian Dance Festival terus hadir setiap dua tahun, tetapi juga merawat ruang bagi seniman untuk berkarya, bertemu, dan mengembangkan praktiknya. Semoga Indonesian Dance Festival dapat terus menjadi bagian dari pertumbuhan ekosistem tari kontemporer Indonesia dan membuka kesempatan bagi generasi berikutnya,” tutur Nungki.

Penyelenggaraan IDF 2026 juga melibatkan kerja bersama berbagai pihak di balik rangkaian acara. Para seniman, pekerja seni, tim kuratorial, produksi, teknis, administrasi, komunikasi, mitra, hingga institusi pendukung berkontribusi dalam menjaga kelancaran dan keberlangsungan festival.

Berakhirnya IDF 2026 sekaligus menandai kelanjutan perjalanan festival dalam merawat praktik seni tari kontemporer di Indonesia. Melalui ruang pertunjukan, diskusi, dan kolaborasi, festival ini berupaya menjaga hubungan antarpelaku seni sekaligus membuka peluang bagi perkembangan karya dan generasi seniman berikutnya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.