Harga Minyak Dunia Turun Drastis, Sinyal Damai AS-Iran Bikin Pasar Bergairah

Selasa, 03 Nov 2026, 00:24 WIB

NEW YORK CITY - Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Senin (2/11). Harapan munculnya kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran membuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi mulai mereda.

Minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, sempat anjlok lebih dari 6,5 persen hingga menyentuh 105,55 dolar AS per barel. Posisi tersebut merupakan level terendah dalam lebih dari dua pekan, sekaligus menjadi harga terendah sejak 16 Oktober 2026.

Ket. Foto: Jika jalur diplomasi menghasilkan kesepakatan dan Selat Hormuz kembali dibuka, tekanan terhadap harga energi dan inflasi global berpeluang semakin berkurang. — Sumber: Istimewa

Dari The Guardian, penurunan harga minyak terjadi setelah Teheran mengonfirmasi bahwa komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan masih terus berjalan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, proses komunikasi melalui mediator internasional bahkan berlangsung semakin intensif.

“Konsultasi melalui mediator sangat intensif. Kami telah menyampaikan syarat dan usulan kami, dan semuanya bergantung pada rasionalitas politik Washington,” kata Araghchi seperti dikutip media pemerintah Iran, IRNA.

Perkembangan tersebut memberikan harapan baru bagi pasar energi global. Sebelumnya, konflik berkepanjangan antara kedua negara telah memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak, terutama karena posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan energi dunia.

Upaya diplomatik juga melibatkan Qatar. Sepanjang akhir pekan, para pejabat negara tersebut berusaha menegosiasikan pembebasan aset Iran senilai lebih dari 6 miliar dolar AS atau sekitar 4,5 miliar pound sterling.

Langkah itu diharapkan dapat membuka jalan bagi Teheran untuk mengizinkan Selat Hormuz kembali beroperasi secara normal.

Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan belum sepenuhnya menghilangkan ketegangan. Presiden AS Donald Trump justru melontarkan ancaman keras terhadap Iran ketika berbicara dalam sebuah kampanye di Iowa, Minggu (1/11).

Trump memperingatkan Teheran akan menghadapi hukuman berat apabila tidak menunjukkan kemajuan dalam proses negosiasi.

“Satu-satunya alasan mengapa saya belum selesai dengan Iran adalah karena saya ingin bersikap baik. Saya ingin mencoba menyelamatkan semua nyawa itu jika saya bisa... Tetapi pada titik tertentu kita harus memberi mereka pukulan telak,” ujar Trump dalam rapat umum menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.

Namun, sentimen positif lebih dominan di kalangan investor setelah muncul laporan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah memberikan kewenangan kepada pemerintahannya untuk melanjutkan pembicaraan dengan Amerika Serikat guna mengakhiri perang di Timur Tengah.

Kabar tersebut langsung disambut positif oleh pasar keuangan.

Kepala Analis Pasar IG, Chris Beauchamp, menilai perkembangan diplomatik itu menjadi angin segar bagi pasar saham yang sebelumnya tertekan oleh lonjakan harga energi.

“Berita ini bagaikan anugerah bagi pasar saham, yang semakin tertekan oleh kenaikan harga minyak, tetapi tentu saja masih ada risiko bahwa Trump akan mencoba sekali lagi untuk mengambil langkah berani setelah pemilihan paruh waktu,” kata Beauchamp.

Turunnya harga minyak juga memunculkan harapan berkurangnya tekanan inflasi yang selama ini membebani perekonomian global.

Dampaknya mulai terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun turun 10 basis poin atau 0,1 poin persentase, mencapai posisi terendah sejak 22 September 2026. Penurunan imbal hasil tersebut mencerminkan berkurangnya tekanan biaya pinjaman pemerintah.

Sementara itu, saham perusahaan penerbangan justru menikmati keuntungan dari merosotnya harga minyak yang berpotensi menekan biaya bahan bakar.

Saham International Airlines Group (IAG), perusahaan induk British Airways, menguat 4,2 persen di bursa London. Di Amerika Serikat, saham United Airlines bahkan melonjak hingga 7 persen di New York.

Pergerakan pasar tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh perkembangan konflik AS-Iran terhadap perekonomian dunia. Jika jalur diplomasi menghasilkan kesepakatan dan Selat Hormuz kembali dibuka, tekanan terhadap harga energi dan inflasi global berpeluang semakin berkurang.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.