Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun hingga Kuartal III 2026, Ini Pendorongnya

Senin, 02 Nov 2026, 18:05 WIB

JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026, meningkat 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bisnis Data, Internet & IT Services yang mencatat kenaikan 8,3 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp71,5 triliun.

Dari sisi profitabilitas, Telkom mencatatkan EBITDA sebesar Rp55,5 triliun atau tumbuh 2 persen secara tahunan dengan margin EBITDA mencapai 48,9 persen. Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen, sedangkan laba bersih normalisasi meningkat 3,9 persen menjadi Rp16,5 triliun dengan margin 14,6 persen.

Ket. Foto: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun hingga kuartal III 2026, meningkat 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bisnis Data, Internet & IT Services yang mencatat kenaikan 8,3 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) menjadi Rp71,5 triliun. — Sumber: Telkom

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, perseroan terus menjalankan transformasi melalui strategi TLKM 30 dengan mengutamakan penguatan bisnis inti dan peningkatan kinerja jangka panjang. Langkah tersebut dilakukan untuk menangkap peluang pertumbuhan industri digital seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan data dan konektivitas yang andal.

"Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan," ujar Nanang.

Pada segmen Business to Consumer (B2C) yang mencakup layanan mobile dan fixed broadband, Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp81,6 triliun atau tumbuh 3,5 persen secara tahunan. Sementara itu, Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun atau meningkat 1,8 persen YoY, dengan kontribusi bisnis digital mencapai Rp60,7 triliun setelah tumbuh 7,7 persen.

Pertumbuhan bisnis digital Telkomsel didukung strategi pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, serta penerapan kebijakan komersial yang lebih disiplin. Strategi tersebut turut mendorong peningkatan rata-rata pendapatan per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) seluler sebesar 7,1 persen menjadi Rp45.400, sementara data yield meningkat 6,5 persen secara tahunan.

Di sisi layanan internet rumah, IndiHome mencatatkan pendapatan sebesar Rp19,1 triliun seiring proses penataan basis pelanggan. Meski demikian, sejumlah indikator menunjukkan perbaikan pada kuartal III 2026, dengan jumlah pelanggan meningkat 1,2 persen secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ) menjadi 9,63 juta dan ARPU naik 3,2 persen menjadi Rp217.700.

Pada segmen Business to Business (B2B) Infrastructure, pendapatan Telkom tumbuh 5,5 persen YoY menjadi Rp7,1 triliun. Kinerja tersebut didukung kontribusi layanan data center, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur yang dikelola TelkomGroup.

Anak usaha Telkom, Mitratel, mencatatkan pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan Fiber to the Tower (FTTT) sebesar Rp7,01 triliun atau tumbuh 1,8 persen secara tahunan. Perusahaan tersebut juga membukukan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun, dengan margin EBITDA sebesar 82,9 persen serta margin laba bersih 22,2 persen.

Sementara itu, NeutraDC mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 17 persen YoY menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026. EBITDA perusahaan tersebut meningkat 35 persen secara tahunan dengan margin mencapai 40,9 persen, didukung kontribusi data center di Singapura dan Cikarang serta meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) melalui layanan Neutra Compute.

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan pasar, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW). TelkomGroup juga tengah menjajaki kemitraan strategis untuk memperkuat kemampuan teknis, memperluas akses pasar, serta mendukung kebutuhan pendanaan pengembangan infrastruktur tersebut.

Pada segmen B2B Information and Communication Technology (ICT), Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp11,2 triliun atau meningkat 3,1 persen YoY. Segmen usaha kecil dan menengah atau Small Medium Enterprises (SME) menjadi salah satu pendorong utama dengan pendapatan Rp3,3 triliun setelah tumbuh 10,2 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan jumlah pelanggan Indibiz sebesar 10,9 persen YoY menjadi 771,1 ribu pelanggan. Selain itu, bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,2 persen selama periode tersebut.

Kinerja positif juga terlihat pada segmen International yang membukukan pendapatan Rp8,9 triliun atau tumbuh 5,8 persen YoY. Salah satu pendorongnya berasal dari pendapatan jaringan yang meningkat 50,2 persen menjadi Rp1,37 triliun seiring penguatan layanan konektivitas internasional untuk global hyperscalers dan global carriers.

Dalam pengembangan infrastruktur internasional, Telin terus memperluas jaringan kabel laut, termasuk proyek ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026. Selain itu, proyek INSICA ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026 untuk memperkuat konektivitas internasional dan mendukung pengembangan Batam sebagai pusat kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.

"Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global," tambah Nanang.

Selain memperkuat kinerja bisnis, Telkom terus mempercepat pelaksanaan transformasi melalui empat pilar utama TLKM 30. Keempat pilar tersebut meliputi Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.

Strategi Operational & Service Excellence diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, menjaga kualitas layanan, serta memperkuat pengelolaan biaya dan arus kas. Upaya tersebut juga mencakup penyesuaian pembayaran operasional dan karyawan, termasuk pembayaran terkait program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP), guna membangun struktur organisasi yang lebih efektif dan produktif.

Pada pilar Streamlining, Telkom telah menyelesaikan penataan 14 entitas hingga kuartal III 2026. Proses tersebut terdiri atas divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas.

Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan sebesar 13,8 persen. Sebanyak 94,3 persen dari total belanja modal tersebut dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperkuat serta memperluas kemampuan konektivitas digital.

Nanang menjelaskan bahwa penataan portofolio bisnis menjadi salah satu prioritas utama perusahaan sepanjang 2026. Melalui langkah tersebut, TelkomGroup ingin membangun organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan adaptif sekaligus meningkatkan fokus terhadap bisnis yang mampu memberikan nilai tambah secara berkelanjutan.

"Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile, serta semakin fokus pada bisnis yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan," ujar Nanang.

Sementara itu, salah satu pencapaian penting dalam pilar Unlock Value adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026. Melalui proses tersebut, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan menggunakan model bisnis carrier-neutral dan open-access.

Model pengelolaan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kerja sama strategis. Dengan pengembangan tersebut, TelkomGroup berupaya memperkuat fundamental bisnis dan menciptakan sumber pertumbuhan baru di tengah perkembangan industri digital.

Nanang optimistis TelkomGroup dapat menutup 2026 dengan kinerja yang semakin solid melalui keberlanjutan transformasi di seluruh lini usaha. Perseroan juga berkomitmen meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman pelanggan agar berbagai inovasi serta kapabilitas infrastruktur yang dikembangkan dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

"Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. Sejalan dengan itu, TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik, sehingga setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi pelanggan dan masyarakat," tutup Nanang.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.