BPBD Bogor: Fenomena Tanah Bergerak di Desa Cijayanti Kembali Terjadi

Minggu, 01 Nov 2026, 21:40 WIB

JAKARTA - Fenomena tanah bergerak kembali melanda Desa Cijayanti, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (29/10) lalu. Bencana yang dipicu hujan deras berkepanjangan tersebut, menyebabkan dua rumah warga serta dua fasilitas umum mengalami kerusakan.

Kejadian ini, menjadi peristiwa pergerakan tanah kedua di lokasi yang sama sepanjang 2026. Sebelumnya, bencana serupa terjadi pada April 2026 dan mengakibatkan tujuh rumah warga mengalami kerusakan.

Ket. Foto: — Sumber: BPBD Bogor

BNPB melalui BPBD Kabupaten Bogor mengatakan, hujan deras dalam durasi panjang menjadi salah satu pemicu pergerakan tanah. Kondisi tersebut, diperparah oleh karakteristik tanah di kawasan itu yang tergolong labil.

"Dikarenakan hujan deras yang terjadi di wilayah tersebut serta kontur tanah yang labil. Sehingga, beberapa unit bangunan mengalami kerusakan akibat tanah yang bergerak," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, M Adam Hamdani, dalam keterangan persnya, di Jawa Barat, Sabtu (31/10).

Berdasarkan kajian cepat BPBD Kabupaten Bogor, ia mengungkapkan, dua rumah mengalami kerusakan dengan jumlah penghuni terdampak mencapai sembilan jiwa. Di satu sisi, dipastikannya tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

"Selain rumah warga, dua fasilitas umum berupa bangunan majelis dan musala dilaporkan mengalami kerusakan berat. Kerusakan ini menambah dampak bencana di kawasan permukiman Desa Cijayanti," ucap dia.

Adam mengingatkan, fenomena pergerakan tanah masih berpotensi berlanjut, terutama ketika hujan kembali turun. Petugas di lapngan, telah memberikan imbauan kepada warga terdampak agar meningkatkan kewaspadaan dan berhati-hati saat cuaca hujan.

"Tanah masih bergerak terlebih saat kondisi hujan turun. Tim sudah menghimbau agar warga terdampak lebih berhati-hati di saat kondisi turun hujan," ujar dia.

Sebelumnya fenomena pergerakan tanah di Desa Cijayanti terjadi pada Kamis, 16 April 2026 lalu. Saat itu, BPBD Kabupaten Bogor mencatat tujuh rumah terdampak, terdiri atas empat rumah rusak berat dan tiga lainnya mengalami kerusakan sedang.

Hasil asesmen menunjukkan, pergerakan tanah saat kejadian April memiliki panjang sekitar 100 meter. Jarak pergerakan dari titik mahkota hingga bagian bawah lereng tercatat mencapai sekitar 50 meter.

Kerusakan bangunan ketika itu meliputi bagian dinding, lantai, hingga atap rumah yang ambruk. Petugas gabungan kemudian, melakukan penanganan dan mengevakuasi warga dari kawasan terdampak.

Sebanyak 28 warga dari sembilan keluarga saat kejadian April telah dipindahkan ke tempat tinggal yang lebih aman. Data relokasi tersebut merujuk pada penanganan bencana sebelumnya, bukan jumlah warga terdampak dalam kejadian terbaru. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.