Dari Kapuas Hulu ke Jakarta Fashion Week, Tenun Iban Perluas Pasar
Sabtu, 31 Okt 2026, 20:35 WIBJAKARTA â Kain tenun tradisional tidak hanya menyimpan pengetahuan budaya yang diwariskan antargenerasi, tetapi juga memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat yang memproduksinya. Hal tersebut terlihat dari perkembangan program Aram Bekelala Tenun Iban yang dijalankan Yayasan Kawan Lama untuk mendampingi perempuan penenun Dayak Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Setelah hampir dua tahun berjalan, program tersebut mencatat peningkatan rata-rata pendapatan penenun hingga 360 persen. Penjualan kain tenun yang dihasilkan melalui program ini juga telah melampaui Rp500 juta.
Hasil pendampingan tersebut akan diperkenalkan kepada pasar yang lebih luas melalui Jakarta Fashion Week (JFW) 2027. Dalam ajang yang berlangsung pada 31 Oktober 2026, tenun Dayak Iban dihadirkan dalam kolaborasi Yayasan Kawan Lama, Cita Tenun Indonesia, desainer Wilsen Willim, dan Pendopo.
Kolaborasi tersebut menghadirkan 15 rancangan busana kontemporer yang menggunakan tenun Dayak Iban, termasuk kain dengan teknik Sidan dan Pileh. Keterlibatan dalam ajang mode tersebut menjadi salah satu upaya mempertemukan karya penenun tradisional dengan industri fesyen modern.
Ketua Pengurus Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi, mengatakan pelestarian budaya perlu berjalan bersama peningkatan kapasitas masyarakat dan penguatan ekonomi komunitas.
âMelalui Aram Bekelala Tenun Iban, kami ingin memastikan bahwa para perempuan penenun memiliki ruang untuk terus mengembangkan keterampilan, memperluas peluang pemasaran, dan membangun kemandirian. Kehadiran tenun Iban di Jakarta Fashion Week menjadi salah satu langkah untuk memperkenalkan karya mereka kepada pasar yang lebih luas, sekaligus mengapresiasi pengetahuan dan keterampilan yang telah diwariskan selama beberapa generasi,â ujar Tasya melalui siaran pers, Jumat (30/10/2026).
Pelatihan Menjangkau Lebih dari 80 Penenun
Pengembangan kapasitas menjadi salah satu fokus program Aram Bekelala Tenun Iban. Yayasan Kawan Lama menerapkan pendekatan Training of Trainers untuk membangun kemampuan penenun lokal agar dapat menjadi fasilitator bagi anggota komunitas lainnya.
Melalui pendekatan tersebut, sebanyak 20 perempuan penenun mendapatkan pelatihan sebagai fasilitator lokal dan kemudian menjangkau lebih dari 80 penenun lainnya. Model pelatihan ini diharapkan memperluas penyebaran keterampilan tanpa sepenuhnya bergantung pada pendamping dari luar komunitas.
Program tersebut juga mendukung dokumentasi 58 motif tenun lokal serta pengembangan lima inovasi motif baru. Dokumentasi ini menjadi bagian dari upaya menjaga pengetahuan mengenai ragam motif yang telah diwariskan secara turun-temurun sekaligus membuka ruang bagi pengembangan desain.
Pengembangan juga dilakukan pada penggunaan pewarna alami. Jika sebelumnya pilihan warna yang dieksplorasi berjumlah enam variasi, melalui program ini jumlahnya berkembang menjadi 69 variasi warna dengan memanfaatkan 23 jenis tanaman lokal.
Pengembangan motif dan warna tersebut memberi peluang bagi penenun untuk menghasilkan produk yang lebih beragam. Namun, inovasi tetap diarahkan agar karakter tenun Dayak Iban dan pengetahuan tradisional yang melandasinya tetap terjaga.
Anastasia Sunta, Ketua Kelompok Tenun Kenyalang Mandang Ketangkung dari Dusun Lauk Rugun, mengatakan pendampingan selama hampir dua tahun memberikan perubahan bagi para penenun, baik dalam keterampilan maupun kondisi ekonomi keluarga.
Menurut dia, peningkatan kemampuan menenun dan terbukanya peluang pemasaran turut memberikan harapan bagi keberlanjutan tradisi tersebut. Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah tenun Pileh, yang saat ini semakin sedikit dikerjakan oleh generasi penerus.
âKami juga bangga karena tenun Pileh, warisan leluhur yang kini semakin sedikit ditenun oleh generasi penerus, menjadi bagian dari koleksi Jakarta Fashion Week 2027. Kami berharap semakin banyak generasi muda mau mempelajari dan melestarikannya,â kata Anastasia.
Ia berharap keterlibatan tenun Iban dalam industri fesyen dapat membuat karya para penenun semakin dikenal sekaligus membuka hubungan dengan lebih banyak pihak.
Membuka Akses Pasar Melalui Pendopo
Selain pelatihan dan pengembangan produk, akses pasar menjadi aspek penting dalam keberlanjutan usaha para penenun. Yayasan Kawan Lama menjembatani hasil produksi komunitas dengan pasar melalui Pendopo, kanal ritel yang memasarkan produk berbasis budaya lokal.
Hingga 2026, sebanyak 29 motif kain tenun Iban telah tersedia melalui Pendopo. Pemasaran melalui jaringan ritel tersebut menjadi salah satu cara mempertemukan produk penenun dengan konsumen di luar wilayah asalnya.
Sementara itu, kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia dan Wilsen Willim dalam Jakarta Fashion Week 2027 memberikan ruang bagi tenun Iban untuk diolah menjadi busana kontemporer. Sebanyak 15 rancangan yang ditampilkan mengangkat karakter tenun Dayak Iban, termasuk teknik Sidan dan Pileh.
Penggunaan kain tradisional dalam rancangan busana modern juga memperlihatkan kemungkinan pengembangan produk tanpa harus melepaskan identitas budaya asalnya. Tenun tidak hanya diposisikan sebagai kain untuk kebutuhan adat, tetapi juga sebagai bahan yang dapat masuk ke pasar fesyen dengan karakter dan nilai budaya tersendiri.
Bagi komunitas penenun, perluasan pasar menjadi faktor penting karena keberlanjutan tradisi juga berkaitan dengan kemampuan menghasilkan pendapatan. Semakin luas akses pemasaran, semakin besar pula peluang produk tenun untuk memiliki nilai ekonomi yang dapat mendukung kehidupan para pembuatnya.
Menjaga Tradisi Melalui Penguatan Komunitas
Yayasan Kawan Lama berencana memperluas sinergi dengan berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan setempat, untuk mendukung keberlanjutan program. Kolaborasi tersebut diarahkan agar penenun memiliki kemampuan lebih kuat dalam mengembangkan usaha sekaligus mewariskan keterampilan kepada generasi berikutnya.
Tasya mengatakan keberhasilan program tidak hanya diukur dari terjaganya motif dan teknik tenun, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dapat dirasakan oleh perempuan penenun dan keluarganya.
Melalui penguatan keterampilan, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar, para penenun diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sekaligus mempertahankan tradisi yang menjadi identitas komunitas Dayak Iban.
âBagi kami, keberhasilan program Aram Bekelala Tenun Iban bukan hanya tentang menjaga warisan budaya, tetapi juga memastikan bahwa para perempuan penenun dapat merasakan manfaat nyata dari keterampilan yang mereka miliki. Kami berharap, melalui penguatan kapasitas, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar, para indai dapat terus mengembangkan usaha, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta membangun kemandirian komunitasnya,â ujar Tasya.
Keterlibatan tenun Dayak Iban dalam Jakarta Fashion Week 2027 menjadi salah satu jalur untuk memperluas pengenalan warisan budaya tersebut. Pada saat yang sama, peningkatan pendapatan dan penguatan kapasitas penenun memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi komunitas.
- Kalimantan Barat
- Tenun Tradisional
- UMKM
- Pendopo
- Ekonomi Kreatif
- Yayasan Kawan Lama
- pemberdayaan perempuan
- Tenun Dayak Iban
- Kapuas Hulu
- jfw 2027
- jakarta fashion week 2027
- Aram Bekelala Tenun Iban
- Cita Tenun Indonesia
- Wilsen Willim
- Budaya Dayak Iban
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Jakarta-Malaysia Jajaki Kerja Sama Ekonomi Kreatif, Buka Akses Pembiayaan dan Pasar IP
-
Styles AsikFest 2026 Hadirkan Nostalgia 2000-an dan Panggung bagi Brand Lokal
-
Bukan Cuma Hiburan, Film Jadi Mesin Uang Baru Jakarta: BI Ungkap Strateginya!
-
Upaya Bangkit dari Posisi Juru Kunci di Klasemen, Persijap Jepara Bidik Poin Kontra Dewa United
-
Seluruh Jalur Pendakian Gunung Sumbing via Wonosobo Ditutup karena Kebakaran Hutan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.