• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • ‘The Land of Jinn’: Fi...

‘The Land of Jinn’: Film Horor Bersama Indonesia-Kirgizstan Gabungkan Obsesi Seorang Ibu, Pegunungan Bersalju, dan Jin

Kamis, 29 Okt 2026, 00:07 WIB

Industri film nasional memperluas langkahnya ke panggung internasional melalui The Land of Jinn, film horor supranatural yang menjadi produksi bersama pertama Indonesia dan Kirgizstan. Menggabungkan mitologi jin dengan lanskap pegunungan bersalju Asia Tengah, film ini tengah mencari mitra pendanaan dan distribusi untuk memperkuat peluang penayangan global pada 2027.

Dari Variety, film garapan Kevin Rahardjo, sutradara Smothered, tersebut dipresentasikan dalam Tokyo Gap-Financing Market 2026. Forum yang menjadi bagian dari TIFFCOM, pasar konten yang berafiliasi dengan Tokyo International Film Festival, itu menjadi tempat para produser mencari dukungan untuk menutup kebutuhan pembiayaan produksi.

Ket. Foto: Bukan hanya mengandalkan legenda lokal, film ini mencoba mempertemukan kepercayaan terhadap jin dari dua budaya dalam sebuah kisah tentang harapan, obsesi, dan konsekuensi dari keinginan manusia. — Sumber: Istimewa

Cerita The Land of Jinn mengikuti seorang perempuan muda Indonesia yang pergi ke Kirgizstan demi mencari penyembuh mistis. Ia berharap sosok tersebut dapat menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Namun, perjalanan itu justru membawanya terjerat dalam takdir yang menghubungkan anaknya dengan jin yang menghuni wilayah tersebut.

Kisah film ini turut mengambil inspirasi dari legenda Raja Sulaiman atau Solomon, yang dalam tradisi cerita tertentu dipercaya memiliki kekuasaan atas jin.

Skenarionya ditulis Makbul Mubarak, sutradara Autobiography, bersama Tumpal Tampubolon, yang dikenal melalui Menantang? dan Abyss Stare—dua judul yang tidak disebut dalam laporan sumber. Keduanya membawa pengalaman dalam perfilman Indonesia untuk meramu cerita yang memadukan horor, ambisi, dan kepercayaan terhadap dunia gaib.

Ketakutan Universal, Hantu Tetap Lokal

Kevin Rahardjo mengatakan, salah satu hal yang menarik baginya adalah bagaimana keinginan seseorang untuk memperoleh kehidupan yang dianggap sempurna dapat berubah menjadi obsesi.

“Saya selalu terpesona oleh sejauh mana seseorang rela berupaya untuk mengejar apa yang masyarakat sebut sebagai kehidupan yang 'lengkap', dan yang menarik saya pada proyek ini adalah kesempatan untuk menerjemahkan keinginan itu ke dalam bahasa horor,” kata Rahardjo.

Dalam film ini, perjalanan tokoh utama membawanya ke pegunungan Kirgizstan yang dingin dan tertutup salju. Alam tidak sekadar menjadi latar visual, melainkan bagian penting yang membangun suasana cerita.

“Pemandangan itu lebih dari sekadar latar belakang. Itu menjadi bagian dari obsesinya, indah dan tak kenal ampun, dan hampir acuh tak acuh terhadap keinginan manusia,” ujarnya.

Perpaduan lanskap alam yang ekstrem dengan kisah supranatural menjadi salah satu daya tarik film ini. Horor yang biasanya lekat dengan hutan tropis, rumah tua, atau legenda lokal Indonesia kini dibawa ke lingkungan pegunungan Asia Tengah.

Dua Negara, Dua Tradisi Dunia Gaib

Produser Yulia Evina Bhara dari KawanKawan Media menilai horor memiliki daya tarik lintas negara, meskipun setiap masyarakat mempunyai tradisi dan gambaran hantunya sendiri.

“Menurutku rasa takut itu universal, tapi hantu itu bersifat lokal,” kata Bhara.

Ia melihat kesamaan menarik antara masyarakat Indonesia dan Kirgizstan, yang sama-sama memiliki cerita turun-temurun tentang dunia gaib. Anak-anak di kedua negara, misalnya, tumbuh dengan peringatan dari orang tua atau kakek-nenek agar tidak keluar rumah setelah Magrib.

“Di Indonesia kita memiliki 17.000 pulau dan 17.000 hantu. Di Kyrgyzstan, pegunungan dan padang rumput memiliki jinnya sendiri,” ujarnya.

Menurut Bhara, kolaborasi ini juga mempertemukan kekuatan dua industri film. Kirgizstan menawarkan talenta pembuat film, lanskap alam yang masih relatif alami, serta akses menuju pasar Asia Tengah dan Eurasia. Sementara itu, Indonesia memiliki pasar film horor yang telah terbukti mampu menarik penonton dalam jumlah besar.

Ia menyebut pangsa pasar film lokal Indonesia mencapai sekitar 65 persen. Angka tersebut menjadi salah satu gambaran potensi industri dalam negeri bagi proyek yang ingin dikembangkan dengan orientasi internasional.

Produser Elvira Sarieva dari pihak Kirgizstan menyambut kerja sama tersebut sebagai langkah awal untuk membangun hubungan kreatif jangka panjang.

“Proyek ini merupakan awal yang luar biasa untuk apa yang diharapkan akan menjadi kolaborasi kreatif jangka panjang antara pembuat film Indonesia dan Kirgistan,” kata Sarieva.

Syuting di Jakarta dan Pegunungan Kirgizstan

Produksi The Land of Jinn berlangsung di kawasan Issyk-Kul, Kirgizstan, serta Jakarta. Film ini menggunakan tiga bahasa, yakni Inggris, Indonesia, dan Kirgiz, untuk mendukung karakter cerita sekaligus mencerminkan latar lintas negara.

Film tersebut kini memasuki tahap pascaproduksi dan ditargetkan dirilis pada 2027.

Dari Indonesia, Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma bertindak sebagai produser melalui KawanKawan Media yang berbasis di Jakarta. Sementara dari Kirgizstan, produksi ditangani Sultan Pirzhan dan Elvira Sarieva dari FreeMinds, bersama Maksat Bolotbek dari Bairak Group.

Nazira C. Noer, CEO sekaligus salah satu pendiri perusahaan pemasaran dan publisitas film Poplicist, turut hadir sebagai produser dan delegasi. Ia juga menjabat sebagai kepala pemasaran Navvaros Entertainment serta sekretaris jenderal Badan Perfilman Indonesia.

Membuka Jalan bagi Kolaborasi Asia

Di Tokyo Gap-Financing Market, tim produksi berupaya memperoleh mitra untuk memenuhi kekurangan pembiayaan sekaligus memperkuat jalur distribusi. Mereka juga membidik peluang prapenjualan dan partisipasi festival film pada 2027.

Bagi Bhara, The Land of Jinn diharapkan tidak hanya menjadi proyek kolaborasi dua negara, tetapi juga contoh bahwa pembuat film Asia dapat menggabungkan kekuatan kreatif, sumber daya produksi, dan karakter budaya masing-masing untuk menjangkau penonton internasional.

Keberhasilan proyek ini nantinya akan bergantung pada kemampuan tim menyelesaikan pembiayaan, merampungkan pascaproduksi, serta mendapatkan jalur distribusi yang sesuai.

Sementara itu, Kevin Rahardjo telah menyiapkan proyek berikutnya berupa film horor tentang makhluk aneh yang mengambil latar sebuah desa terpencil di Indonesia.

Melalui The Land of Jinn, horor Indonesia kini mendapat kesempatan untuk memasuki wilayah cerita yang lebih luas. Bukan hanya mengandalkan legenda lokal, film ini mencoba mempertemukan kepercayaan terhadap jin dari dua budaya dalam sebuah kisah tentang harapan, obsesi, dan konsekuensi dari keinginan manusia.

  • Film Horor

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.