Sempat Hampir Punah, Tabuhan Gamelan Madurejo Sleman Kini Menggelegar Lagi
Kamis, 29 Okt 2026, 17:50 WIBYOGYAKARTA -Â Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, berhasil menghidupkan kembali tradisi kesenian karawitan dan gamelan yang sempat terancam punah akibat minimnya minat generasi muda.Â
Melalui inisiatif pengurus Desa Budaya dan pembentukan enam sanggar seni lokal, warga lintas generasi kini rutin menabuh gamelan hingga menggelar festival karawitan sebagai upaya nyata menjaga kelestarian warisan leluhur.
Fenomena ini memang belum lama muncul. Padahal, wilayah tersebut kabarnya memiliki beberapa kelompok pengrawit dan gamelan yang usianya cukup tua, tetapi keberadaannya terancam oleh minat generasi muda yang terus berkurang terhadap budaya leluhur.
Hampir punah
Secara administratif, Kalurahan Madurejo terbagi menjadi 16 padukuhan. Berdasarkan keterangan dari Sekretaris Lurah (Carik) Madurejo Hartoto Wahyudi, pada awalnya ada sembilan perangkat gamelan yang tersebar di setiap dusun. Namun, kondisinya tergolong usang dan tak terawat karena tidak pernah difungsikan.
"Dua tahun lalu, sekitar tahun 2024, Madurejo termasuk hampir punah gamelannya," kata Hartoto kepada ANTARA, Kamis (29/10).
Dari sekian banyak kelompok gamelan, hanya karawitan Madularas yang masih menabuhnya. Itu pun tak berlangsung secara rutin dan mayoritas anggotanya sudah berusia di atas 70 tahun.
Menurut Hartoto, kondisi tersebut menjadi keprihatinan bersama karena kelestarian kelompok seni karawitan di Madurejo kemungkinan akan terputus.
"Itu menjadi permasalahan di setiap desa bahkan secara nasional, karena surutnya kegemaran masyarakat, khususnya anak muda, terhadap budaya gamelan," ujarnya.
Berangkat dari keresahan tersebut, pengurus Desa Budaya Kalurahan Madurejo kemudian berinisiatif untuk menghidupkan kembali kelompok karawitan di setiap dusun. Perjuangan itu dimulai pada 2024 dengan pembuatan program pelatihan yang menyasar anak usia dini hingga dewasa.
Perlahan-lahan sanggar kesenian mulai muncul di masing-masing dusun. Gaung gamelan yang bertahun-tahun hilang, sayup-sayup kini terdengar dari kejauhan, membawa semangat untuk melestarikan budaya.
Pembentukan sanggar baru difokuskan di dusun-dusun yang sebelumnya sudah memiliki perangkat gamelan tetapi hampir tak pernah digunakan. Di awal kebangkitan, berdiri 11 sanggar baru yang anggotanya terdiri dari beragam latar belakang.
"Karena kesibukan dan konsistensi yang kurang, dari 11 sanggar itu mulai terseleksi alam menjadi enam sanggar yang bertahan," kata Hartoto.
Enam sanggar yang ada saat ini dan terus menunjukkan perkembangan adalah Sanggar Seni Puspo Laras dari Dusun Kembang, Jodhipati dari Dusun Kebondalem, Ngudhi Laras dari Dusun Gangsiran, Sekar Jagad dari Dusun Mutihan, Yoga Madularas dari Dusun Majasem, dan Jagad Dhita dari Dusun Macanan.
Keberadaan enam sanggar tersebut seakan memberi hembusan napas bagi seni karawitan di wilayah Madurejo. Tabuhan gamelan yang tadinya awam di telinga warga dusun, kini menjadi suara yang menarik minat mereka untuk berlatih minimal satu pekan sekali. Dari situlah ekosistem seni budaya dan pelestarian gamelan terbentuk dengan mengenalkannya kepada generasi muda.
"Keinginan untuk ikut itu akan terbangun dengan sendirinya, setidaknya ada yang memulai dulu dan menjadikan ini sebagai kebiasaan," kata Hartoto.
Setiap sanggar berisi 15 hingga 20 orang dengan latar belakang yang beragam â pedagang, karyawan, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya. Beberapa pelajar yang menjadi anggotanya duduk di bangku sekolah menengah, bahkan ada yang masih di sekolah dasar .
Festival tingkat lokal
Selama dua tahun sejak 2024, enam sanggar tersebut aktif menggarap beberapa karya seni karawitan hingga saat ini. Tembang macapat, dolanan bocah, dan variasi iringan lainnya selalu menjadi materi dalam setiap latihan.
Sebagai bentuk apresiasi, aparat Kalurahan Madurejo memberikan ruang berekspresi dan unjuk kebolehan bagi semua sanggar seni karawitan yang ada di wilayah tersebut melalui kegiatan rutin bertajuk "Garebeg Madurejo #3" yang diselenggarakan awal Oktober yang lalu.
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, ada sebuah acara khusus untuk memberikan apresiasi kepada para pelestari seni karawitan, yakni Festival Karawitan bertajuk "Madurejo Gumblegur" yang telah terselenggara pada 3 Oktober.
Acara tersebut menarik perhatian warga karena menghadirkan tujuh perangkat gamelan dari enam sanggar seni karawitan dan satu set gamelan sepuh dari Kalurahan Madurejo dalam satu panggung.
Semua gamelan tersebut lalu dimainkan bersama-sama, seakan memberi isyarat bahwa darah seni karawitan masih mengalir dalam nadi kehidupan warga di sana.
"Setelah itu, masing-masing sanggar akan berkompetisi dalam penggarapan karya," kata Hartoto.
Aksan Pratama (24), anggota Sanggar Seni Puspa Laras Dusun Kembang, mengaku cukup antusias dengan perkembangan seni karawitan di dusunnya. Di sela-sela kesibukannya mengelola kedai kopi, dia menyempatkan diri untuk hadir pada setiap jadwal latihan.
"Saya sebagai pengendang sangat senang ada pengalaman baru dan kegiatan positif rutin di dusun," katanya.
Aksan mengatakan awalnya ia hanya sekadar coba-coba menjadi penabuh kendang, tetapi seiring berjalannya waktu, ia malah ketagihan dan sangat antusias belajar gamelan.
"Pertama belajar ya di sanggar ini, sampai sekarang udah lebih dari lima kali mengiringi pementasan karawitan maupun pertunjukan teater tradisional," ujarnya.
- gamelan sleman
- kalurahan madurejo
- karawitan sleman
- madurejo gumblegur
- prambanan sleman
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.