Semarang Adopsi Flood-Eye Berbasis AI untuk Deteksi Dini Banjir

Kamis, 29 Okt 2026, 16:30 WIB

SEMARANG — Pemerintah Kota Semarang mengadopsi Flood-Eye, sistem peringatan dini banjir berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dikembangkan Telkom University bersama University of Wollongong, Australia. Teknologi yang didukung platform kemitraan Australia–Indonesia di bidang pengetahuan dan inovasi, Koneksi, ini diharapkan mempercepat deteksi potensi banjir dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Sistem tersebut memantau ketinggian muka air sungai dan curah hujan menggunakan sensor radar, alat pengukur curah hujan, serta kamera yang dipasang secara berkesinambungan dari hulu hingga hilir. Data dari perangkat tersebut digunakan untuk membantu pemerintah mengidentifikasi potensi bahaya dan mengambil langkah mitigasi lebih cepat.

Ket. Foto: Pemaparan alur kerja Flood-Eye dalam mendeteksi banjir di sungai-sungai Kota Semarang. Pemerintah Kota Semarang mengadopsi sistem Flood-Eye berbasis AI untuk memantau ketinggian air sungai, mendeteksi potensi banjir, dan mempercepat penyampaian peringatan dini kepada masyarakat. — Sumber: Koneksi

Penyerahan Flood-Eye kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang pada 28 Oktober 2026 diharapkan memperkuat upaya penanganan banjir dan ketahanan iklim di kota tersebut. Inisiatif ini juga mendukung pengembangan infrastruktur pengendalian banjir yang terintegrasi sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029.

First Secretary Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Reiko Take, mengatakan deteksi dini penting bagi masyarakat Semarang yang menghadapi risiko kenaikan muka air sungai secara cepat ketika hujan turun.

“Deteksi dini bisa membuat perubahan. Masyarakat lebih cepat menyiapkan diri dan keluarganya yang termasuk kelompok rentan, seperti lansia, orang dengan disabilitas, dan anak-anak,” kata Reiko melalui siaran pers pada Kamis (29/10/2026).

Menurut dia, dukungan Pemerintah Australia melalui Koneksi tidak hanya bertujuan mentransfer teknologi, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara akademisi dan pemerintah untuk mencari solusi atas persoalan banjir di Semarang.

Koordinator Pengendalian Daya Rusak Air, Direktorat Sumber Daya Air, Kementerian PPN/Bappenas, Yuliarko Sukardi, mengatakan penanganan banjir membutuhkan kombinasi infrastruktur pengendali air dan sistem peringatan dini untuk menyiagakan masyarakat.

Ia mengingatkan Pemerintah Kota Semarang agar memperhatikan keberlanjutan operasional Flood-Eye, memperkuat koordinasi antarlembaga, serta melakukan transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara berkala. Penguatan riset dan teknologi juga diperlukan agar solusi penanganan banjir sesuai dengan karakteristik wilayah.

Pelaksana Tugas Kepala Bappeda Kota Semarang, Sugeng Hartanto, menyambut baik pemanfaatan teknologi tersebut. Menurut dia, Flood-Eye dapat membantu mitigasi banjir, khususnya di wilayah Semarang Timur dan sepanjang alur Kali Babon yang rentan terdampak limpasan air dari daerah yang lebih tinggi.

Sugeng mengatakan pemerintah kota sebelumnya telah melakukan sejumlah upaya mitigasi, termasuk membangun embung dan menerapkan solusi berbasis alam. Kehadiran Flood-Eye diharapkan melengkapi upaya tersebut sekaligus mendukung kerja organisasi perangkat daerah, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang.

Akademisi Telkom University sekaligus peneliti mitra Koneksi, Miftadi Sudjai, menjelaskan bahwa karakter geografis Semarang membuat limpasan air dari dataran tinggi dapat mencapai sungai dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 45 menit. Kondisi ini berbeda dengan Jakarta, yang menurutnya dapat memiliki waktu aliran hingga sekitar tiga jam.

Perbedaan tersebut membuat sistem pemantauan dan peringatan dini menjadi penting agar pemerintah dan warga memiliki waktu untuk mengantisipasi potensi banjir.

Enam Sistem Tambahan Perkuat Pemantauan

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Semarang, Riyanto, mengatakan kota tersebut sebelumnya telah memiliki 18 sistem peringatan dini banjir. Melalui kolaborasi Indonesia–Australia yang didukung Koneksi, enam sistem tambahan diperkenalkan untuk memperkuat pemantauan.

Berbeda dari pemantauan yang hanya mengandalkan satu jenis perangkat, Flood-Eye menggabungkan data sensor radar, curah hujan, dan kamera yang ditempatkan dari hulu hingga hilir. Integrasi data tersebut diharapkan meningkatkan ketepatan pemantauan dan membantu pemerintah mengambil keputusan lebih cepat.

Peneliti Telkom University, Asep Suhendi, mengatakan teknologi AI pada Flood-Eye memungkinkan sistem menganalisis kondisi air untuk mendeteksi potensi banjir. Data historis debit air juga dapat diakses melalui situs floodeye.cloud hingga satu tahun ke belakang.

“Ketika hujan dan permukaan air sungai mencapai tingkat kenaikan yang membahayakan, alarm di Flood-Eye akan berbunyi. Informasi di dashboard akan menunjukkan tanda bahaya, yang bisa diverifikasi juga dengan tangkapan kamera,” kata Asep.

Informasi tersebut dapat digunakan BPBD untuk menilai tingkat bahaya dan menentukan langkah berikutnya, termasuk menyampaikan peringatan kepada masyarakat melalui sistem yang terhubung dengan WhatsApp.

Setelah penyerahan sistem, tim peneliti Koneksi akan memberikan pelatihan kepada organisasi perangkat daerah yang bertanggung jawab mengelola teknologi tersebut serta kepada masyarakat. Pelatihan ini ditujukan untuk mendukung pemanfaatan dan keberlanjutan sistem dalam jangka panjang.

Pemanfaatan Flood-Eye diharapkan melengkapi berbagai kanal penanganan banjir yang telah dimiliki Pemerintah Kota Semarang, termasuk Pantau Banjir, Lapor Semarang, dan layanan panggilan darurat 112. Melalui integrasi teknologi, koordinasi pemerintah, dan kesiapsiagaan warga, upaya mitigasi diharapkan dapat dilakukan lebih cepat ketika potensi banjir terdeteksi.

  • BPBD Semarang
  • Banjir Semarang
  • mitigasi bencana
  • KONEKSI
  • Telkom University
  • kecerdasan buatan
  • Flood-Eye
  • Deteksi Dini Banjir
  • University of Wollongong
  • Teknologi Kebencanaan

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.