• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Film 'Desember Jani' Bikin...

Film 'Desember Jani' Bikin Penasaran Penonton Jepang, Tayang di Tokyo International Film Festival 2026

Kamis, 29 Okt 2026, 19:37 WIB

TOKYO, JEPANG - Kisah para perempuan dalam keluarga tiga generasi di Bandung dalam "Desember Jani" (Jani Be Good) menimbulkan rasa penasaran penonton Jepang yang menyaksikannya di Tokyo International Film Festival 2026, Kamis (29/10).

Seusai pemutaran kedua kalinya, sejumlah penonton mengajukan pertanyaan dalam diskusi singkat bersama sutradara Ariani Darmawan dan produser Meiske Taurisia.

Ket. Foto: Film "Desember Jani" terpilih untuk mengikuti program kompetisi Asian Future di Tokyo International Film Festival ke-39 dan menggelar pemutaran perdana dunianya pada Selasa (27/10). — Sumber: ANTARA/HO-Palari Films

"Saya ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dan benar, yang penting adalah menyatukan keluarga," kata Ariani saat menyapa penonton.

"Desember Jani" bercerita tentang Jani (Chempa Puteri), anak berusia 13 tahun yang mendengar pertengkaran antara kakaknya, Julia (Hyori Mika), dan ibunya, Winnie (Sigi Wimala). Keesokan harinya Julia pergi tanpa kabar.

Winnie adalah ibu tunggal sekaligus pencari nafkah keluarga, tetapi ia semakin sering kehilangan kesabaran di rumah. Jani memendam kemarahan dan menemukan ketenangan bersama sang Oma (Tutie Kirana), yang sedang menabung untuk biaya pemakamannya sendiri.

Jani diam-diam mengirim pesan kepada Julia dan akhirnya menghadapi Winnie. Berlatar empat hari pada bulan Desember menjelang Natal, film ini mengikuti perubahan batin seorang anak perempuan dan hubungan tiga generasi perempuan.

Kondisi negara dan budaya yang berbeda menimbulkan rasa penasaran dari penonton.

Di Jepang, Natal sangat identik dengan kemeriahan dan cahaya gemerlap yang menghiasi kota, serta tentunya salju karena Desember identik dengan musim dingin.

Seorang penonton bertanya soal suasana Natal di dalam film yang tampak sederhana. Kesan tropis yang melekat dengan Indonesia juga bisa terlihat dari pilihan busana ala musim panas pada bulan Desember.

"Sebenarnya ini berlatar belakang Bandung yang lebih sejuk dari Jakarta," kata Ariani menjelaskan. Dia ingin memperlihatkan seperti apa perayaan Natal di Indonesia.

Bagi penonton Indonesia, suasana Bandung --kampung halaman sang sutradara-- sangat kental dalam film yang masuk ke dalam program Asian Future Competition di Tokyo International Film Festival 2026 ini. Dialek Sunda para pemain, jajanan kaki lima, hingga jalanan di perumahan Bandung menghiasi film itu.

Tema universal

Setelah filmnya diputar dua kali di Tokyo, Ariani mengaku senang mendapatkan respons hangat dari penonton di Negeri Sakura. Meski ada perbedaan budaya, tema keluarga yang universal membuat film ini bisa tetap dicerna dan dipahami oleh penonton lintas negara.

"Dari awal, kan, ini pasti ceritanya personal ya. Maksudnya hal yang personal terjadi di keluarga tertentu. Tapi juga universal sih memang sebetulnya karena kan semua orang punya keluarga. Semua orang pernah jadi anak," ujar Ariani kepada wartawan.

Ariani Darmawan mengembangkan cerita "Desember Jani" selama tiga tahun bersama penulis dan penyair Cyntha Hariadi setelah membaca kumpulan cerpen Cyntha yang berjudul "Manifesto Flora".

Bersama produser Meiske Taurisia, mereka berdiskusi soal cerita dari keluarga masing-masing untuk merampungkan kisah yang akan diangkat. Tentunya ada unsur-unsur dari kehidupan Ariani yang mengemuka di cerita. Contohnya, alasan memilih sudut pandang anak bungsu untuk melihat konflik yang terjadi di rumah.

"Saya juga anak terakhir. Saya sudah biasa menjadi pengamat di rumah, karena anak bungsu sering dianggap tidak terlalu banyak tahu. Makanya saya ambil sudut pandang itu," ungkap sang sutradara.

Proses reading berjalan selama sebulan. Ariani pun memasukkan karakter dari para aktris ke dalam tokoh yang mereka perankan. Metode ini, seperti pernah diungkapkan aktris Sigi Wimala, membuat mereka lebih mudah menyelami karakter. Sebagai contoh, gestur Sigi yang sering terlihat saat latihan akhirnya "dipinjam" untuk menjadi bagian dari tokoh Winnie.

"Tapi tugas saya sebagai sutradara pasti adalah bagaimana caranya saya bisa menyatukan itu tetap menjadi karakter yang saya bayangkan," kata dia.

Akting para pemeran yang natural, termasuk Chempa Puteri si pemeran Jani, tak lepas dari latihan yang berlangsung panjang. Ariani meminta para aktor untuk benar-benar menguasai karakter, bukan sekadar menghapal dialog, tapi juga gerak-gerik dan penguasaan ruang yang menghadirkan realisme.

"Kayak bagaimana seorang ibu berjongkok, bagaimana dia merebahkan badannya ketika dia lelah. Di film ini banyak yang seperti itu. Hal-hal kecil seperti itu yang menurut saya menambah layer-layer emosi ya," kata Ariani.

Hiatus 15 tahun

"Desember Jani" adalah film pertama Ariani setelah hiatus 15 tahun. Ia yang memulai karirnya sejak tahun 2000-an, melahirkan sejumlah film pendek, termasuk "Sugiharti Halim" (2008) dan "Jus Nanas Kue Lapis" yang sudah ditayangkan di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Asia.

Pengalaman baru sebagai ibu membuat ia melihat lagi hubungan antara anak dan orang tua dan akhirnya lahir dalam karya film panjang pertamanya.

Setelah berkeluarga, ia mengaku bisa lebih sabar dan memperhatikan detail.

"Dan di film ini sangat kelihatan dua hal tersebut ya, tentang pace dan juga tentang detail-detail tersebut. Dan saya merasa kalau kita mau bikin film, apalagi di film ini realis, lebih ke arah realis ya, kita harus bisa serealis mungkin," kata pendiri toko buku Kineruku di Bandung itu.

Rasa was-was kembali membuat film, apalagi kali ini film panjang, tentu ia rasakan.

"Kalau dibilang deg-degan, pasti ada ya. Namanya juga film panjang pertama, siapa yang nggak deg-degan kan, tapi yaudah jalanin saja."

Proses yang dijalani secara bertahap, juga diskusi mendalam dengan sinematografer Teoh Gay Hian ("Kucumbu Tubuh Indahku", "Yuni", "Opera Jawa"), membuat Ariani lebih siap untuk mewujudkan film panjang perdananya.

Hasilnya? Sebuah kisah slice of life yang hangat dan manis, sama seperti ronde yang dimasak keluarga Jani untuk merayakan Hari Ronde atau Festival Dongzhi yang bertepatan dengan Hari Ibu. Ant

  • Film "Desember Jani"

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.