‘Cher’, Horor Thailand tentang Roh Perempuan Penunggu Hutan, Raih Penghargaan Internasional Kini Bidik Pasar Global
Kamis, 29 Okt 2026, 00:02 WIBBANGKOK â Mitologi roh hutan Thailand diangkat ke layar lebar melalui Cher, film horor yang mulai mencuri perhatian pasar internasional. Setelah menjadi proyek Thailand pertama yang terpilih sekaligus meraih penghargaan utama di Frontières Co-Production Market, film ini melanjutkan langkahnya ke Tokyo Gap-Financing Market 2026.
Film produksi Benetone Films dan Fearfolks tersebut mengangkat kisah Nang Mai, sosok roh perempuan penghuni hutan dalam cerita rakyat Thailand. Proyek ini menjadi satu-satunya film Thailand yang masuk dalam jajaran Tokyo Gap-Financing Market tahun ini, menurut laporan Variety pada 27 Oktober 2026.
Dilansir Variety, disutradarai Songsak Mongkolthong, yang sebelumnya menggarap Graveyard Horror dan School Tales the Series, Cher menggunakan skenario karya Patrick Graham. Penulis tersebut dikenal melalui serial horor Netflix Ghoul dan Betaal.
Rattanawadee âMimâ Wongthong, yang dikenal lewat film Death Whisperer, menjadi pemeran utama. Ia beradu peran dengan Pae Arak dan Weir Sukollawat, yang pernah membintangi 4 Tigers.
Sementara itu, posisi sinematografer dipercayakan kepada Vikash Nowlakha, yang juga menggarap dua film India dalam waralaba Dhurandhar.
Mengulik Asal-usul Roh Hutan
Di balik unsur horornya, Cher menawarkan pendekatan yang tidak sekadar mengandalkan sosok gaib dan teror. Sutradara Songsak Mongkolthong ingin menggali kemungkinan bahwa kisah Nang Mai memiliki asal-usul berbeda dari versi yang selama ini dipercaya masyarakat Thailand.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pijakan untuk mengembangkan cerita yang berakar pada mitologi lokal, tetapi tetap membuka ruang bagi penafsiran baru.
Mongkolthong juga menghubungkan film ini dengan persoalan prasangka, kemarahan, dan kebencian yang dapat menghalangi seseorang memulai kehidupan baru.
âGagasan untuk memulai hidup baru dimulai dengan menghadapi prasangka, kemarahan, dan kebencian kita sendiri. Ketika kita belajar untuk melampaui kemarahan dan kebencian, hidup baru dapat dimulai,â ujarnya.
Pendekatan tersebut berpotensi memberi dimensi psikologis pada kisah horor yang bertolak dari kepercayaan tradisional Thailand.
Dari Korea dan Kanada Menuju Tokyo
Perjalanan internasional Cher telah dimulai sebelum memasuki pasar pembiayaan di Jepang. Film ini sebelumnya terpilih dalam kategori proyek It Project di Network of Asian Fantastic Films (NAFF), bagian dari Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) di Korea Selatan.
Pada Juli 2026, proyek tersebut kemudian meraih penghargaan utama di Frontières Co-Production Market di Kanada. Pencapaian itu menjadikannya proyek Thailand pertama yang berhasil memperoleh penghargaan utama di pasar produksi bersama tersebut.
CEO Benetone Films Rachvin Narula dan COO Kulthep Narula mengatakan, perusahaan telah mendukung Cher sejak awal pengembangannya. Mereka juga memperlakukan proyek ini sebagai salah satu karya unggulan yang dikembangkan dengan pendekatan berbeda dari kebiasaan industri film Thailand.
âKami sangat gembira karena film ini mendapatkan pengakuan global yang layak diterimanya sejak dini,â kata keduanya.
CEO Fearfolks Hans Audric Estialbo turut mengapresiasi dukungan BIFAN, Frontières, dan TIFFCOM dalam membawa proyek tersebut ke hadapan pelaku industri internasional.
âKami sangat berterima kasih kepada BIFAN, Frontières, dan TIFFCOM karena telah memberikan suara kepada film-film Thailand di panggung global ini, dan karena telah mengizinkan kami untuk menyandang penghargaan besar ini,â ujarnya.
Menurut Estialbo, pasar film internasional seperti TIFFCOM memberikan kesempatan bagi sebuah proyek untuk membangun momentum, menarik mitra, dan membentuk komunitas penonton sejak tahap awal pengembangan.
Ia menilai hal itu semakin penting bagi kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) yang ingin dikembangkan menjadi karya dengan daya tarik jangka panjang.
Syuting 2027, Target Rilis Global 2028
Setelah memperoleh pengakuan di sejumlah pasar film internasional, Cher dijadwalkan memulai proses produksi pada tiga bulan pertama 2027. Film tersebut ditargetkan meluncur ke pasar global pada 2028.
Keikutsertaannya dalam Tokyo Gap-Financing Market menjadi tahapan berikutnya dalam upaya memperkuat dukungan pembiayaan dan jaringan industri bagi proyek tersebut. Pasar ini beroperasi sebagai bagian dari TIFFCOM, pasar konten yang berafiliasi dengan Tokyo International Film Festival.
Bagi perfilman Thailand, perjalanan Cher menunjukkan bagaimana cerita rakyat lokal dapat dijadikan fondasi untuk mengembangkan film horor yang berorientasi internasional.
Dengan menggabungkan mitologi Nang Mai, pendekatan psikologis, serta dukungan jaringan produksi lintas negara, Cher kini memasuki tahap penting untuk mewujudkan kisah roh hutan Thailand menjadi tontonan yang dapat menjangkau penonton global.
- Film Horor
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Leony dan Violeta Bintangi Ghosthing, Film Horor Komedi tentang Misteri Kematian Influencer
-
El Nino Mengancam! Pemkab Lombok Timur Perkuat Mitigasi, Ini Langkah Antisipasinya
-
Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, Pemkot Medan Terapkan Belajar Jarak Jauh
-
Ochi Rosdiana dan Jeff Smith Ungkap Pengalaman Mistis di Balik Film Lingsir Wengi: Motel Malioboro
-
Jakarta Timur Dorong Warga Manfaatkan Lahan dengan Tanam Singkong sebagai Pendamping Beras
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.