Airlangga Waspadai Tekanan Pembiayaan di Tengah Perlambatan Global
Kamis, 29 Okt 2026, 22:45 WIBBADUNG â Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyatakan ketidakpastian ekonomi global berpotensi meningkatkan tantangan pembiayaan bagi Indonesia, terutama ketika pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai delapan persen.
Dalam acara International Fora for Kredit Program Pemerintah di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis (29/10), Airlangga mengatakan berbagai lembaga internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF), memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi sekitar tiga persen.
âKita masih tetap tidak dalam ketidakpastian,â kata Airlangga.
Ia menyebutkan harga minyak dunia telah meningkat sekitar 70 persen hingga berada di atas 100 dolar AS per barel.
Sementara itu, konflik yang berlangsung lebih dari enam bulan belum memperlihatkan tanda-tanda penyelesaian.
Menurut Airlangga, kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap biaya pendanaan (cost of financing).
Ia mencontohkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang terakhir tercatat sebesar 7,21 persen.
âJadi tantangan ke depan ini akan semakin besar, padahal kita juga perlu melihat bahwa untuk tumbuh 8 persen, investasi kita harus besar,â ujarnya.
Di tengah situasi eksternal tersebut, Airlangga menyampaikan perekonomian Indonesia masih menunjukkan sejumlah indikator yang relatif terjaga.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi mencapai 5,45 persen, sedangkan inflasi sebesar 3,29 persen masih berada dalam rentang sasaran 2,5 persen plus minus satu persen.
Ia juga menyampaikan investasi pada Januari hingga September tumbuh 7,3 persen.
Indeks keyakinan industri berada di level ekspansi 52,4 persen, sementara indeks keyakinan konsumen nasional tercatat 118,1 persen.
Airlangga menegaskan pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan permintaan domestik, investasi, hilirisasi dan produktivitas usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
âSetiap rupiah pembiayaan, termasuk kredit program, harus kita arahkan seproduktif mungkin,â katanya.
Menurut dia, peningkatan produktivitas pembiayaan menjadi penting agar sumber daya yang tersedia dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar di tengah ketidakpastian global.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.