Jangan Sampai Krisis, Bulog Diminta Kawal 86 Daerah Defisit Pangan
Rabu, 28 Okt 2026, 23:59 WIBJAKARTA â Sebanyak 86 daerah yang masuk kategori defisit pangan diminta menjadi perhatian khusus di tengah ancaman El Nino yang menekan produksi pangan nasional.
Daerah-daerah tersebut dinilai paling rentan mengalami lonjakan harga karena tidak mampu menghasilkan pangan sendiri dan sangat bergantung pada pasokan dari luar pulau.
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono meminta Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bergerak cepat melakukan mitigasi di 86 wilayah tersebut.
"Komisi IV meminta Bulog dan Badan Pangan Nasional memitigasi potensi 86 daerah yang masuk kategori defisit pangan karena dia tidak bisa menghasilkan pangan kalau tidak mendapatkan pasokan dari luar pulau," tegas Riyono di Jakarta, Rabu (28/10).
Politikus Fraksi PKS itu mengatakan ketahanan pangan harus dijaga ketat melalui ketersediaan, distribusi, cadangan, hingga akses masyarakat, di tengah musim El Nino yang cukup keras.
Menurutnya, meski penurunan produksi akibat kekeringan tak terhindarkan, cadangan pangan nasional saat ini masih aman.
"Kemungkinan penurunan produksi pasti ada, tetapi kita akan ikuti sejauh mana sampai di angka berapa persen. Katakanlah sampai 20 persen pun dengan cadangan pangan nasional yang kita miliki, ini masih cukup untuk kebutuhan minimal 5-10 bulan ke depan," ujarnya.
Riyono juga menekankan, selain mengamankan distribusi ke wilayah defisit, pemerintah harus berpihak pada kesejahteraan petani lokal di perdesaan.
"Daerah-daerah inilah yang memunculkan potensi kenaikan harga lebih besar dibanding daerah produksi. Petani lokal sebagai tolok ukur utama, kesejahteraan petani di perdesaan itu yang harus menjadi perhatian pemerintah," pungkasnya.
Di tengah kekhawatiran tersebut, Perum Bulog memastikan stok beras nasional dalam posisi sangat kuat. Melalui Cadangan Beras Pemerintah (CBP), Bulog saat ini menguasai sekitar 4,5 juta ton beras.
Jumlah tersebut jauh melampaui cadangan penyangga sejumlah negara tetangga. Malaysia tercatat memiliki stok penyangga 200 ribu ton pada Agustus 2026, sementara Filipina melalui National Food Authority (NFA) sekitar 286.500 ton per 1 September 2026. Dengan 4,5 juta ton, cadangan Indonesia sekitar 22,5 kali lipat Malaysia dan 15,7 kali lipat Filipina.
Capaian ini didukung realisasi pengadaan gabah dan beras dalam negeri hingga 27 Oktober 2026 yang mencapai 4.238.543 ton setara beras atau 105,96 persen dari target pemerintah 4 juta ton. Angka ini menjadi rekor pengadaan tertinggi sepanjang sejarah Bulog.
Modal Akhir Tahun
Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan stok tersebut menjadi modal strategis menjelang akhir tahun.
"Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras menjelang Natal dan Tahun Baru. Stok beras yang dikelola Bulog saat ini sangat memadai, mencapai sekitar 4,5 juta ton," tegas Rizal dalam Rapat Koordinasi Terbatas Pangan di Jakarta, Senin (26/10).
Menurutnya, stok melimpah harus memberi manfaat nyata. Bulog kini mempercepat penyaluran melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan Bantuan Pangan Beras.
Pemerintah menyiapkan tambahan alokasi SPHP 1 juta ton untuk menjaga harga, serta Bantuan Pangan Beras periode Oktober-Desember 2026 untuk 33,2 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP) masing-masing 10 kg per bulan.
"Stok yang melimpah harus memberikan manfaat nyata. Bulog tidak hanya memastikan beras tersedia di gudang, tetapi juga mempercepat penyalurannya melalui SPHP dan bantuan pangan," ujarnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.