Pasar Tiongkok Kehilangan Triliunan Dolar karena Persaingan Supremasi AI dengan AS Mulai Berdampak

Selasa, 27 Okt 2026, 15:49 WIB

BEIJING – Perlombaan Tiongkok untuk mengungguli Amerika Serikat (AS) dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) mulai menghadapi tekanan serius. Di tengah investasi besar-besaran pemerintah Beijing, pasar saham teknologi justru terpuruk, sementara lemahnya belanja konsumen dan ancaman pembatasan teknologi dari negara-negara Barat memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan ledakan AI di Negeri Tirai Bambu.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (27/10), gejolak pasar saham Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir telah menghapus nilai kapitalisasi pasar hingga 2,4 triliun dolar AS sejak Mei, menurut data Bloomberg yang dikutip media tersebut.

Ket. Foto: Di tengah ambisi menjadi pemimpin AI dunia, perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok masih menghadapi persoalan mendasar: bagaimana mengubah inovasi menjadi keuntungan yang berkelanjutan. — Sumber: Istimewa

Salah satu indikator yang paling terpukul adalah indeks STAR 50, yang melacak perusahaan teknologi dan inovasi di Bursa Efek Shanghai. Indeks ini merosot 40 persen sejak Juni. Sementara itu, indeks saham perusahaan-perusahaan besar Tiongkok lainnya terkoreksi sekitar 20 persen dalam periode yang sama.

Tekanan tersebut menjadi perhatian serius karena saham-saham yang berkaitan dengan AI memiliki porsi besar dalam pasar modal kawasan tersebut. Goldman Sachs memperkirakan saham AI mencakup lebih dari 40 persen nilai pasar saham Tiongkok dan Hong Kong. Artinya, penurunan harga saham di sektor ini berpotensi menyeret kinerja pasar secara keseluruhan.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa dukungan pemerintah dan besarnya investasi teknologi belum tentu cukup untuk mempertahankan optimisme investor. Di tengah ambisi menjadi pemimpin AI dunia, perusahaan-perusahaan teknologi Tiongkok masih menghadapi persoalan mendasar: bagaimana mengubah inovasi menjadi keuntungan yang berkelanjutan.

Pemerintah Tiongkok sendiri telah menggelontorkan dukungan besar untuk industri tersebut. Salah satunya melalui dana investasi AI senilai 60 miliar yuan yang didukung negara. Dana itu mulai menyalurkan investasi kepada pengembang domestik pada Oktober ini.

Namun, tantangan muncul dari dalam negeri. Konsumen Tiongkok masih berhati-hati membelanjakan uangnya di berbagai sektor, termasuk teknologi. Akibatnya, sejumlah perusahaan kesulitan mengembangkan bisnis yang mampu menghasilkan keuntungan sebanding dengan besarnya investasi yang telah dikeluarkan.

Dan Wang, direktur Tiongkok untuk Eurasia Group, menilai kombinasi sejumlah faktor telah memperburuk tekanan terhadap industri teknologi. Margin keuntungan yang tidak sesuai harapan, kenaikan suku bunga AS, serta lemahnya permintaan domestik menjadi persoalan yang harus dihadapi perusahaan.

Ia juga menyoroti kecemasan di kalangan pelaku industri mengenai efektivitas model pengembangan teknologi yang sangat bergantung pada dukungan negara, terutama ketika permintaan konsumen belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan bisnis.

Selain persoalan keuntungan, perusahaan teknologi Tiongkok menghadapi risiko dari kebijakan Amerika Serikat yang semakin membatasi penggunaan produk dan teknologi asal Tiongkok. Pemerintah AS telah melarang lembaga pemerintah menggunakan perangkat AI DeepSeek buatan Tiongkok. Washington juga telah mengambil langkah pembatasan terhadap robot humanoid asal Tiongkok dengan alasan keamanan nasional, serta dilaporkan mempertimbangkan pembatasan komponen Tiongkok di pusat data.

Kebijakan tersebut menjadi tantangan tambahan bagi perusahaan yang mengandalkan pasar ekspor. Ketika akses ke pasar AS semakin sulit, perusahaan Tiongkok harus mencari sumber permintaan alternatif, termasuk dari konsumen domestik yang sejauh ini belum menunjukkan daya serap memadai.

Di tengah persaingan tersebut, Beijing semakin mengarahkan perhatian pada robotika, khususnya robot humanoid dan teknologi yang dikenal sebagai embodied AI atau kecerdasan buatan yang diwujudkan dalam bentuk fisik. Teknologi ini dipandang sebagai salah satu cara memperluas penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.

Robotika juga diharapkan membantu Tiongkok menghadapi tantangan demografi, seperti populasi yang menua dan menyusutnya angkatan kerja. Secara teori, robot dapat mengambil alih sejumlah pekerjaan yang selama ini mengandalkan tenaga manusia.

Akan tetapi, penerapan teknologi tersebut masih menghadapi kendala ekonomi. Permintaan robotika saat ini lebih banyak berasal dari lembaga pemerintah dan institusi penelitian, bukan dari konsumen rumah tangga. Harga yang mahal dan fungsi yang belum praktis untuk kebutuhan sehari-hari membuat pasar massalnya belum terbentuk.

Robot humanoid dan anjing robot memang menarik perhatian dalam industri hiburan, tetapi popularitas tersebut belum otomatis berubah menjadi permintaan komersial yang besar. Situasi ini ikut memunculkan keraguan mengenai seberapa cepat investasi robotika dapat menghasilkan keuntungan.

Saham Unitree, salah satu produsen robot terkemuka Tiongkok, bahkan dilaporkan telah kehilangan sekitar separuh nilainya sejak mulai diperdagangkan pada Agustus.

Wang menilai teknologi embodied AI belum tentu mampu menciptakan keuntungan besar di pasar konsumen massal dalam waktu dekat. Dengan margin yang tipis dan permintaan yang terbatas, perusahaan harus membuktikan bahwa produk-produk tersebut benar-benar memiliki manfaat praktis dan nilai ekonomi yang sepadan dengan biaya pengembangannya.

Meski demikian, prospek industri teknologi Tiongkok tidak sepenuhnya suram. Wang menyebut penelitian AI dan teknologi satelit masih menyimpan potensi. Sektor satelit, khususnya, dinilai memiliki prospek dukungan jangka panjang karena berkaitan dengan kepentingan militer dan strategis negara.

Secara global, ledakan investasi AI juga diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya selama satu tahun ke depan. Namun, besarnya investasi tidak menjamin seluruh perusahaan yang terlibat akan mampu bertahan atau menghasilkan keuntungan.

Di Amerika Serikat, misalnya, Anthropic, perusahaan pembuat chatbot Claude, telah mengajukan dokumen sebagai bagian dari persiapan menuju penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Langkah tersebut berpotensi menjadi salah satu debut pasar saham terbesar, dengan valuasi atau proyeksi nilai bisnis yang diperkirakan dapat mencapai skala sangat besar.

Sebaliknya, Tiongkok belum memiliki rencana IPO perusahaan teknologi dengan skala sebanding dalam waktu dekat. Perbedaan ini menambah kontras antara perkembangan pasar modal AI di kedua negara, meskipun keduanya sama-sama berlomba mengembangkan teknologi tersebut.

Di dalam negeri, pemerintah Tiongkok menghadapi tekanan untuk mengeluarkan stimulus guna menghidupkan kembali investasi dan menopang perekonomian. Namun, langkah tersebut tidak diperkirakan segera diumumkan di tengah periode politik yang sensitif.

Para pejabat tinggi Partai Komunis Tiongkok tengah berkumpul dalam sidang pleno kelima, pertemuan penting yang menjadi bagian dari persiapan menuju Kongres Partai ke-21 pada tahun depan. Kongres tersebut diperkirakan menjadi momentum bagi Xi Jinping untuk menjalani masa jabatan keempatnya sebagai pemimpin Tiongkok.

Situasi politik itu membuat pengambil kebijakan cenderung berhati-hati terhadap langkah ekonomi yang berisiko menimbulkan ketidakstabilan. Padahal, stimulus tambahan berpotensi membantu mengangkat permintaan dan mendorong investasi di tengah tekanan pasar.

Wang mengingatkan bahwa kebijakan stimulus bukan tanpa risiko. Jika kebijakan tersebut gagal mencapai sasaran, para pengambil keputusan yang bertanggung jawab akan menghadapi konsekuensinya.

Gejolak pasar saham Tiongkok pada akhirnya memperlihatkan tantangan yang lebih besar daripada sekadar persaingan teknologi dengan Amerika Serikat. Beijing tidak hanya harus membuktikan mampu mengembangkan AI yang kompetitif, tetapi juga memastikan teknologi tersebut memiliki pasar, menghasilkan keuntungan, dan dapat menopang pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Besarnya investasi dan dukungan negara mungkin dapat mempercepat pengembangan teknologi. Namun, ketika permintaan konsumen lemah dan akses ke pasar luar negeri semakin terbatas, ambisi menjadi pemimpin AI dunia tetap harus berhadapan dengan ujian paling mendasar dalam bisnis: kemampuan menghasilkan keuntungan.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.