Momentum Peringatan 98 Tahun Hari Sumpah Pemuda, Posko Mahasiswa Indonesia Serukan Persatuan Indonesia.

Selasa, 27 Okt 2026, 20:01 WIB

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Posko Mahasiswa Indonesia menyatakan sikap pada peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Para mahasiswa menilai, peringatan Hari Sumpah Pemuda merupakan momentum yang tepat untuk menyuarakan persatuan nasional. Persatuan tersebut tidak hanya termasuk elemen mahasiswa, namun juga segenap komponen bangsa Indonesia.

Jesika Boangmanalu dari Posko Mahasiswa Indonesia Komisariat Universitas Jayabaya mengatakan, persatuan Indonesia merupakan pondasi kokohnya bangsa ini. Karena itulah persatuan harus dijaga agar Indonesia tidak mudah dipecahbelah oleh kekuatan proxy yang menyusup dalam lewat berbagai hal, termasuk gerakan mahasiswa.

Ket. Foto: Posko Mahasiswa Indonesia menyerukan pentingnya menjaga persatuan bangsa dalam momentum peringatan 98 tahun Hari Sumpah Pemuda. — Sumber: Posko Mahasiswa Indonesia

“Persatuan merupakan energi yang harus dijaga oleh setiap warga Indonesia, utamanya generasi muda yang menjadi tumpuan banda di kemudian hari,” ujar Jesika di Jakarta, Selasa (27/10).

Senada dengan Jesika, Fajar Novryanto dari Posko Mahasiswa Indonesia Komisariat Universitas YAI mengungkapkan, di momen peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini, seluruh mahasiswa harus bersatu dan menjaga bangsa Indonesia tanpa harus mengesampingkan sikap kritisnya. 

Fajar menyatakan, kekritisan mahasiwa bisa diwujudkan dalam berbagai hal, seperti menuangkan gagasan dalam dalam tulisan, berargumen di ruang diskusi, yang berujung pada usulan solusi untuk merespons permasalahan bangsa.

Ia menilai, aksi mahasiswa itu hanya salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi jika semua upaya dialog telah dilakukan dan berujung buntu. Meski begitu, Fajar menilai, aksi unjuk rasa harus dilakukan dengan damai dan elegan.

“Kami menolak segala bentuk unjuk rasa yang disampaikan dengan cara-cara yang anarkis. Bagi kami, jalan kekerasan bukanlah pilihan, sebab unjuk rasa harus memberikan kontribusi yang positif bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan sebaliknya,” tegas Fajar.

Sementara itu, Aleksander Amsterdam dari Posko Mahasiswa Indonesia Komisariat Universitas Nasional (Unas) mengatakan, persatuan Indonesia bisa dimulai dari ruang-ruang diskusi dan konsolidasi mahasiswa yang mampu menyatu dalam gagasan, tanpa dipecah belah oleh kepentingan politik praktis.

Kalaupun ingin melakukan unjuk rasa, lanjut Aleksander, para mahasiswa harus tahu betul dalam menjaga barisannya dan berpijak pada idealisme dan nilai-nilai perjuangan, agar tidak ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu.

“Kekritisan dan idealisme merupakan modal utama mahasiswa dalam memperjuangkan nilai-nilai persatuan Indonesia. Tanpa itu, mahasiswa akan rentan ditunggangi dan bahkan tanpa sadar menjadi agen proxy yang memecah belah Indonesia,” pungkas Aleksander.

  • 98 Tahun Sumpah Pemuda

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.