Rupiah Hari Ini Melemah, Pasar Mulai Cemas soal Fiskal
Senin, 26 Okt 2026, 17:20 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kredibilitas fiskal Indonesia di tengah tekanan pembiayaan negara dan ketidakpastian prospek defisit anggaran.
Jika risiko fiskal dinilai membesar, kepercayaan investor dapat tergerus dan mendorong arus modal keluar, sehingga tekanan terhadap rupiah semakin kuat.
Pemerintah perlu menjaga disiplin anggaran, transparansi pembiayaan, dan efektivitas belanja agar kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan stabilitas makroekonomi serta kepercayaan pasar.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (26/10), bergerak melemah 55 poin atau 0,30 persen menjadi Rp18.135 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.080 per dolar AS, dinilai karena pengaruh kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah itu dipengaruhi kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak global.
âKenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina,â ujar Ibrahim di Jakarta
Mengutip Anadolu, harga minyak dunia melonjak pada Jumat (23/10), dengan minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak Juni 2022, di tengah kekhawatiran serangan baru AS terhadap Iran dan meningkatnya ketegangan regional yang mengancam pasokan energi.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 2,7 persen atau 3,06 dolar AS menjadi 116,20 dolar AS per barel sejak Jumat (23/10) pukul 13.50 GMT, melampaui level tertinggi yang tercatat pada awal perang.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan AS, menguat 3,04 persen atau 3,02 dolar AS menjadi 102,50 dolar AS per barel, level tertinggi dalam lima pekan terakhir.
Sepanjang pekan lalu, harga Brent telah meningkat sekitar 5 persen, sedangkan WTI naik sekitar 3 persen. Kenaikan tersebut membuat kedua acuan harga minyak itu berpeluang mencatat penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.
Lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya perkiraan bahwa Washington dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (22/10) mengatakan negaranya mungkin akan melakukan serangan tambahan terhadap Iran.
Para pejabat AS dan Zionis Israel disebut telah menyusun rencana untuk melancarkan kembali serangan setelah pemilihan umum paruh waktu AS.
Selain itu, ketegangan regional juga meningkat ketika kelompok Ansarullah di Yaman terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ancaman terhadap infrastruktur energi. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan personel yang tidak memiliki tugas penting untuk meninggalkan Arab Saudi.
âMeskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas, manfaat tersebut berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama apabila harga BBM (bahan bakar minyak) domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi,â ujar Ibrahim.
Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat dinilai mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN.
Apabila merujuk pada sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, kata dia, kenaikan yield SBN (Surat Berharga Negara) dan depresiasi rupiah adalah dua dari tiga asumsi makro yang sensitif terhadap pelebaran defisit APBN.
Kenaikan setiap 0,1 persen yield SBN dapat memperlebar defisit sebesar Rp1,9 triliun, sedangkan depresiasi rupiah setiap Rp100 per dolar AS bisa menambah defisit Rp800 miliar.
Apa yang menjadi masalah, menurut dia, yaitu gejolak pada yield SBN dan rupiah dibarengi dengan kenaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang memiliki sensitivitas terbesar kepada defisit APBN. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel dinyatakan dapat memperlebar defisit hingga Rp6,8 triliun.
âAsumsi ICP sampai dengan akhir September 2026 sudah meleset jauh dari target APBN 70 dolar AS per barel ke 91,9 dolar AS per barel,â kata dia pula.
âBiaya impor energi bisa membuat kantong negara semakin kering, hal ini terbukti dari belanja subsidi dan kompensasi sampai 30 September 2026 yang telah mencapai Rp376,8 triliun atau naik 54,1 persen (year on year/YoY),â ujarnya.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.116 per dolar AS, dari sebelumnya Rp18.069 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
DKI Jakarta Perluas Layanan Disabilitas, 4.324 Orang Terserap Kerja
-
Pemkab Malinau Cari Terobosan Atasi Kekurangan Guru di Wilayah Terpencil.
-
Jonet Perkuat Komunikasi dan Peringatan Dini Bencana di Yogyakarta
-
Gerak Cepat Hadapi Karhutla! Pemprov Kaltim Integrasikan Ribuan Personel
-
Kerugian Tim bulutangkis Indonesia! Leo/Daniel Mundur dari Denmark Open, Ini Sebabnya!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.