Pemkot Yogyakarta Bidik Tiga Bantaran Sungai Jadi Destinasi Wisata

Senin, 26 Okt 2026, 18:45 WIB

YOGYAKARTA—Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan penataan bantaran Sungai Winongo, Code, dan Gajahwong dalam empat tahun ke depan untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut sebagai destinasi wisata. Penyediaan akses jalan, perbaikan sanitasi, serta kebersihan lingkungan menjadi bagian dari penataan yang akan dilakukan.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan akses di sepanjang bantaran ketiga sungai perlu disiapkan agar kawasan lebih tertata sekaligus dapat dikembangkan untuk berbagai aktivitas masyarakat dan pariwisata.

Ket. Foto: Memantau kebersihan sungai Winongo — Sumber: Dok. Pemkot Yogyakarta

“Begitu dilantik menjadi wali kota bersama Pak Wawan, saya menghitung empat tahun ke depan pinggir Sungai Winongo, Sungai Code, dan Sungai Gajahwong harus selesai semua ada jalannya,” ujar Hasto dalam kegiatan Pesona Kawasan Winongo Wisataku di bantaran Sungai Winongo, bawah Jembatan Tegalrejo, Jalan Pembela Tanah Air, Minggu (25/10).

Menurut Hasto, akses yang dibangun harus memadai untuk kendaraan roda empat dan dijaga agar tidak kembali menyempit akibat pemanfaatan ruang yang tidak sesuai peruntukan.

“Jalannya harus bisa untuk mobil roda empat. Jalannya juga harus bersih dan tidak digunakan untuk hal-hal yang membuat akses kembali sesak,” tegasnya.

Penataan kawasan, lanjut dia, tidak hanya menyangkut pembangunan akses. Kebersihan sungai dan kualitas sanitasi permukiman di sepanjang bantaran juga perlu diperbaiki. Sampah dan pencemaran dari limbah domestik menjadi persoalan yang harus ditangani karena berpotensi mencemari sungai maupun sumber air warga.

Konsep penataan juga diarahkan untuk menjadikan sungai sebagai bagian depan kawasan permukiman. Rumah-rumah di bantaran diharapkan menghadap sungai, sementara ruang di sekitarnya dapat ditata menjadi kawasan yang lebih hijau dan bersih.

“Kalau sungainya sudah bersih, ditata menjadi taman, kemudian rumah-rumahnya ditata menghadap sungai, insyaallah semuanya menjadi lebih baik dan masyarakatnya sehat,” katanya.

Hasto mengatakan pengembangan kawasan Winongo tidak boleh berhenti pada penyelenggaraan kegiatan seremonial. Keterlibatan masyarakat diperlukan agar penataan lingkungan berjalan berkelanjutan sekaligus mampu membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif.

“Pemerintah tentu akan mendukung, tetapi kekuatan terbesar tetap berada pada masyarakat. Kalau masyarakatnya guyub, lingkungannya terawat, dan potensinya terus dikembangkan, saya yakin Winongo dapat menjadi kawasan yang semakin menarik sekaligus tetap nyaman untuk ditinggali,” tuturnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta Lucia Daning Krisnawati mengatakan gagasan menjadikan sungai sebagai destinasi wisata sebenarnya telah dirintis sejak 16 tahun lalu bersama Forum Komunikasi Winongo Asri. Setelah melalui berbagai kajian, konsep tersebut kini didorong menuju tahap implementasi.

Pengembangan wisata sungai juga diarahkan untuk memperluas persebaran destinasi sehingga aktivitas pariwisata Kota Yogyakarta tidak hanya terkonsentrasi di kawasan Malioboro.

“Tiga sungai yang mengaliri Kota Yogyakarta, yaitu Code, Gajahwong, dan Winongo, semoga bisa betul-betul terealisasi sebagai destinasi wisata. Harapannya, semua masyarakat bisa berupaya dan berdaya serta bersaing untuk memajukan Kota Yogyakarta,” ungkapnya.

Sebagai langkah awal, Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menyiapkan pengadaan perahu wisata secara bertahap. Pengadaan perahu untuk mendukung kawasan Dermaga Cinta Giwangan direncanakan melalui anggaran perubahan 2026, sedangkan perahu wisata untuk Sungai Code dialokasikan dalam anggaran murni 2027.

Kegiatan Pesona Kawasan Winongo Wisataku turut diisi dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus penguatan daya tarik kawasan Sungai Winongo.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.