Kepala BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca Efektif Picu Hujan di Wilayah Karhutla

Senin, 26 Okt 2026, 22:53 WIB

JAKARTA - Pemerintah memasifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan gambut (Karhutla) baik di Sumatra maupun di Kalimantan. OMC berhasil memicu hujan seperti di Kota Palembang, Sumatra Selatan.

"Sekarang pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan secara masif. Ini mungkin salah satu operasi terbesar yang pernah dilakukan di Indonesia," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Prof Teuku Faisal Fathani, dalam keterangannya kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (26/10).

Ket. Foto: Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Prof Teuku Faisal Fathani — Sumber: RRI/Sugandi

Ia menyebut ada potensi pertumbuhan awan yang cukup tinggi di Kalimantan Tengah mulai hari ini hingga lima hari ke depan. Potensi pertumbuhan awan akan terlihat di Sumatra Selatan mulai Selasa (27/10) hingga lima hari kedepan.

Ada sembilan pesawat yang aktif di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, dan enam pesawat di Sumatera Selatan yang dikerahkan untuk melakukan OMC. Ia berharap minggu ini menjadi periode basah sehingga ada potensi hujan.

"Sesuai dengan arahan Bapak Presiden dan Bapak Menko PMK, kami bekerja sama dengan BNPB, Kementerian Kehutanan, dan TNI. Kami akan bekerja keras untuk memadamkan semaksimal mungkin kebakaran yang terjadi, khususnya di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, yang saat ini masih memiliki tingkat kebakaran cukup tinggi," kata dia.

Pada pelaksanaannya untuk memicu turun hujan, dilaksanakan OMC dan menggunakan dry ice atau es kering. Dry ice dikombinasikan dengan NaCI atau garam

"Kami melakukan operasi yang mengombinasikan penggunaan dry ice dengan NaCl atau garam. Atas arahan Bapak Presiden, operasi ini dilaksanakan secara masif, kami juga menggunakan pesawat Hercules, CN-295, dan pesawat lain milik TNI," tutur dia.

Ia mengatakan secara umum, musim hujan rata-rata di seluruh Indonesia diperkirakan mundur sekitar dua hingga tiga dasarian, atau 20–30 hari, akibat pengaruh El Nino. Teuku Faisal menjelaskan sebagian wilayah Indonesia memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026, dengan puncaknya pada Desember 2026, Januari dan Februari 2027.

Masyarakat diminta untuk bersiap dengan musim hujan dan tetap waspada dengan bencana hidrometeorologi. Ia menjelaskan sifat hujannya normal, artinya berdasarkan rata-rata klimatologi 30 tahun terakhir, jumlah hujan yang turun relatif sama, tetapi durasinya lebih pendek

"Musim hujan juga akan terakumulasi cukup banyak dalam durasi yang lebih pendek, dengan sifat hujan normal, jadi kita harus bersiap mulai sekarang. Ini yang perlu kita waspadai karena sifat hujannya normal, untuk akhir tahun ini hingga awal tahun depan, bencana hidrometeorologi basah perlu kita waspadai bersama," kata dia. ils/I-1

  • Karhutla
  • Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
  • Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.