- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS Bersiap Melancarkan Ser...
AS Bersiap Melancarkan Serangan Besar ke Iran, Pakar Ragukan Solusi Militer Akhiri Perang
Sabtu, 24 Okt 2026, 06:00 WIBWashington â Amerika Serikat (AS) tampaknya tengah bersiap melanjutkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Namun, para pakar menilai bahwa solusi militer kemungkinan tidak akan mampu menyelesaikan konflik yang telah menimbulkan kehancuran besar bagi kedua belah pihak tersebut.
Pasukan Washington dan Teheran kini terlibat dalam pola saling menyerang kapal-kapal komersial. AS berupaya menegakkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Republik Islam itu berusaha memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis dunia.
Kedua negara tidak melancarkan serangan besar terhadap sasaran di daratan sejak awal September. Namun, situasi tersebut diperkirakan dapat segera berubah.
âSaya sekarang bertaruh bahwa serangan kemungkinan besar akan terjadi tidak lama setelah pemilu paruh waktu,â kata Suzanne Maloney, Direktur Program Kebijakan Luar Negeri di Brookings Institution, merujuk pada pemilu Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November.
Ia menunjuk sejumlah indikasi, termasuk pergerakan tambahan aset militer dan pasukan AS ke Timur Tengah, peringatan yang dikeluarkan bagi warga Amerika di kawasan tersebut, serta status siaga tinggi pasukan Israel.
Selain itu, Presiden Donald Trump âsecara terbuka menyatakan bahwa ia tidak akan melancarkan serangan sebelum pemilu paruh waktuâ. Menurut Maloney, langkah tersebut juga âtampaknya tidak akan membantunya dalam pemungutan suaraâ.
Perang AS dan Israel terhadap Iran, yang dimulai pada akhir Februari, sebagian besar tidak populer di AS, terutama karena konflik tersebut telah mendorong kenaikan tajam harga bahan bakar. Perang itu diperkirakan dapat menjadi beban bagi Partai Republik pimpinan Trump dalam pemilu penting tersebut.
âPada dasarnya, situasi ini tidak dapat dipertahankan dalam kondisi seperti sekarang,â kata Maloney. Ia mencatat bahwa blokade AS âmenimbulkan penderitaan yang lebih besar bagi Iranâ, sementara Washington harus mengerahkan banyak aset angkatan laut untuk mempertahankan blokade tersebut.
âHarus ada semacam penyelesaian, baik melalui diplomasi maupun tindakan militer,â ujarnya.
Ketika ditanya mengenai Iran pada Jumat, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa âkita bisa mengakhiri ini dengan sangat cepatâ. Namun, ia mempertanyakan apakah AS ingin âmenuntaskannya, atau... membiarkannya melemah secara perlahanâ.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus untuk Suriah dan Irak, Tom Barrack, pada Jumat (23/10) mengatakan bahwa serangan âsangat mungkinâ terjadi pada akhir pekan ini, menjelang pemilu Israel pada Selasa.
'Mustahil Diprediksi'
Jason Campbell, peneliti senior di Middle East Institute, mengatakan bahwa âbelakangan ini memang ada sejumlah indikasi bahwa serangan kembali mungkin segera terjadiâ. Ia menambahkan, kemungkinan lainnya adalah AS memperkirakan serangan akan dilancarkan oleh Iran atau sekutunya, kelompok Houthi di Yaman.
Ia menyoroti rencana pengerahan kapal induk USS Theodore Roosevelt ke Timur Tengah. Pengerahan tersebut setidaknya untuk sementara dapat meningkatkan jumlah kelompok tempur kapal induk AS di kawasan itu menjadi tiga. Selain itu, Washington memutuskan mengirim satu unit ekspedisi Marinir tambahan ke wilayah tersebut.
Campbell juga mengatakan bahwa pesawat tempur Israel baru-baru ini melakukan âunjuk kekuatanâ yang meniru pola serangan sebelumnya terhadap Iran. Ia turut menyoroti pertemuan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Israel.
Namun, Campbell mengatakan bahwa waktu pelaksanaan serangan baru âmustahil diprediksiâ. Ia juga menilai bahwa âserangkaian tindakan ini terbilang luas jika tujuannya semata-mata untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundinganâ.
Menurut Campbell, pilihan Trump kini lebih terbatas dibandingkan pada tahap awal konflik. Kerusakan pada pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut membuat setiap kemungkinan operasi darat menjadi lebih sulit dilakukan.
âPada titik ini, tidak ada tempat yang aman untuk menempatkan ribuan personelâdalam skenario tertentu bahkan puluhan ribu personelâyang dibutuhkan untuk operasi semacam itu,â katanya.
Sementara itu, Maloney mengatakan bahwa âsebagian besar lokasi militer konvensional di Iran telah mengalami kerusakan parahâ akibat serangan sebelumnya. Karena itu, kampanye militer baru kemungkinan akan âmencakup lebih banyak serangan terhadap infrastruktur sipil dan sasaran yang berdampak pada penduduk Iranâ.
Namun, langkah tersebut maupun bentuk tindakan militer lainnya kemungkinan tidak akan menghasilkan penyelesaian konflik.
âSejak awal... ini adalah perang yang tidak dapat diakhiri dengan eskalasi lebih lanjut dari salah satu pihak,â kata Maloney.
Campbell sependapat. âSaya tidak melihat bagaimana serangan baru terhadap Iran, yang serupa dengan serangan selama 50 hari pertama perang, akan mengubah perhitungan strategis rezim Iran,â ujarnya.
âMereka telah menunjukkan kesediaan untuk menanggung penderitaan fisik yang sangat besar. Bahkan, perubahan sasaran yang mencakup infrastruktur penting yang digunakan bersama atau bahkan infrastruktur sipil tidak akan mengubah sikap mereka secara signifikan,â tambahnya.
- Konflik AS-Iran
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Rumah Indonesia Atasi Kendala Teknis Asian Games di Nagoya
-
Pemkab Jepara Siapkan Penanganan Akses Jalan Ke Objek Wisata di Karimunjawa
-
Sertifikat Mutu KKP Dorong Peningkatan Ekspor Perikanan di Wilayah Perbatasan
-
Nakhoda KM Virgo Diperiksa, 129 Korban Masih Dicari Basarnas
-
Senat AS Tolak Resolusi untuk Akhiri Perang di Iran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.