- Home
-
- Luar Negeri
-
- Tim Eksekusi Mati Christa ...
Tim Eksekusi Mati Christa Pike Telah Memperingatkan Pembuluh Darahnya Mungkin Sudah Pecah sebelum Diberi Suntikan Mati
Jumat, 23 Okt 2026, 04:45 WIBTENNESSEE - Tim eksekusi di Tennessee, Amerika Serikat, diduga telah diliputi keraguan sebelum menjalankan prosedur suntik mati terhadap terpidana Christa Pike. Bahkan, anggota tim berulang kali memperingatkan kemungkinan pembuluh darah Pike pecah saat mereka berusaha memasang infus untuk memasukkan dosis mematikan obat pentobarbital.
Pengacara Pike mengungkapkan, tim infus menggunakan hingga 10 jarum untuk mencari pembuluh darah yang bisa dijadikan jalur masuk obat. Sekitar 20 menit setelah upaya pemasangan dimulai, anggota tim mulai membicarakan kemungkinan pembuluh darah tahanan tersebut pecah.
Dari The Guardian, dua anggota tim yang identitasnya dirahasiakan kemudian memeriksa lokasi pemasangan infus. Keduanya mengaku tidak dapat memastikan apakah mereka berhasil menemukan pembuluh darah.
âSalah satu dari mereka mengatakan sesuatu seperti: 'Entah itu darah atau gagal, saya perlu tahu,'â demikian keterangan terbaru yang disampaikan pengacara Pike.
Rangkaian informasi ini menjadi salah satu pengungkapan paling terperinci mengenai kegagalan eksekusi Pike, 50 tahun, pada 30 September lalu. Pengacara Pike, Randy Spivey, memaparkan kronologi menit demi menit berdasarkan pengamatannya langsung di ruang eksekusi.
Dalam pernyataan yang disertakan pada proses hukum terpisah, Spivey menggambarkan bagaimana tim infus berulang kali kesulitan menemukan pembuluh darah selama hampir satu jam, bahkan sebelum obat mematikan mulai dialirkan.
Upaya pemasangan dimulai pada pukul 18.35 dan baru berakhir pada pukul 19.24. Setelah itu, tim meninggalkan ruangan dengan anggapan prosedur telah berjalan sesuai rencana.
Namun, Pike ternyata masih hidup. Ia mengeluarkan suara mendengkur dan tersedak.
Eksekusi tersebut akhirnya dibatalkan. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama 10 hari, Pike dikembalikan ke penjara di Nashville.
Ia menjadi satu-satunya tahanan di era modern yang diketahui selamat setelah menerima dosis penuh obat suntik mati.
Meski kini sudah dapat berbicara dan berjalan, kondisi Pike dalam jangka panjang masih belum diketahui. Kegagalan eksekusi yang mengerikan itu memicu evaluasi nasional terhadap penerapan hukuman mati di Amerika Serikat.
Gubernur Tennessee dari Partai Republik, Bill Lee, bahkan memutuskan menghentikan seluruh eksekusi di negara bagian tersebut sambil menunggu hasil peninjauan.
Kronologi yang disampaikan Spivey juga mengungkap kecemasan anggota tim saat berusaha menemukan pembuluh darah Pike.
Pada pukul 18.53, seorang anggota yang disebut Spivey sebagai âanggota keduaâ pertama kali menyuarakan kekhawatiran bahwa pembuluh darah Pike mungkin pecah.
Tim kemudian membuang jarum berukuran 20 yang sebelumnya digunakan. Mereka mempertanyakan apakah jarum tersebut cukup panjang untuk mencapai pembuluh darah.
âIni tidak cukup panjang. Jarum terpanjang apa yang kalian punya?â demikian percakapan yang tercatat dalam keterangan tersebut.
Tiga menit berselang, tepatnya pukul 18.57, anggota kedua kembali memperingatkan bahwa pembuluh darah Pike âmungkin akan pecahâ.
Spivey mencatat, âAnggota kedua dan anggota tim IV nomor 3 memeriksa lokasi pemasangan dan menusuknya. Keduanya mengatakan bahwa mereka 'tidak bisa memastikan'.â
Meski masih diliputi ketidakpastian, tim infus memutuskan bahwa jalur infus telah berhasil dipasang hanya dua menit kemudian. Namun, mereka segera mengetahui bahwa jalur tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
âSaya harus bekerja lagi,â kata anggota kedua sambil menarik jarum dari lengan kiri Pike. Spivey juga mencatat bahwa jarum tersebut tampak sangat bengkok.
Pada pukul 19.08, anggota kedua meminta tim menghentikan sejenak pekerjaan mereka untuk mempertimbangkan kembali langkah yang harus dilakukan.
âMari kita berkumpul kembali,â katanya.
Tim kemudian kembali memeriksa lengan kanan Pike dan mengorek-ngorek area di sekitar lokasi penyuntikan.
Lima menit kemudian, pada pukul 19.13, anggota kedua memberi tahu Pike secara langsung bahwa mereka âtelah menemukannyaâ. Tim pun mengira penyuntikan pentobarbital yang akan mengakhiri hidupnya dapat segera dimulai.
Banyaknya keraguan dan kegagalan dalam menemukan pembuluh darah, termasuk peringatan mengenai kemungkinan pembuluh darah pecah, memperkuat salah satu teori utama tentang penyebab Pike selamat dari eksekusi tersebut.
Jika pentobarbital masuk langsung ke aliran darah dalam dosis yang sangat tinggi, Pike hampir pasti akan meninggal. Namun, apabila pembuluh darahnya pecah, obat tersebut dapat masuk ke jaringan di sekitar lengan, menyebabkan cedera parah tanpa langsung membunuhnya.
Keterangan Spivey mencatat bahwa pada pukul 19.34, Pike berteriak kesakitan.
âAku merasa lenganku akan patah. Terasa terbakar.â
Catatan kronologis tersebut kini menjadi bagian dari bukti dalam permohonan hukum baru yang diajukan atas nama Tony Carruthers dan sejumlah narapidana hukuman mati lainnya di Tennessee.
Carruthers sendiri mengalami kegagalan eksekusi pada 21 Mei lalu. Ia juga selamat setelah tim eksekusi kesulitan menemukan pembuluh darahnya selama lebih dari 30 menit.
Pengacaranya meminta izin kepada pengadilan chancery wilayah Davidson untuk mengajukan pengaduan tambahan yang menentang protokol suntik mati di Tennessee.
Sebelumnya, pada Maret 2025, mereka telah mengajukan pengaduan yang memperingatkan risiko kematian menyakitkan akibat keracunan pentobarbital. Mereka menilai tim yang bertugas memberikan obat mematikan tersebut âtidak kompeten, kurang terlatih, kurang berdedikasi dalam menjalankan tugas mereka, dan/atau kurang telitiâ.
Para pengacara berpendapat, kondisi itu menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima dan berpotensi melanggar perlindungan konstitusional Amerika Serikat terhadap hukuman yang kejam dan tidak biasa.
Dalam permohonan terbaru, mereka menegaskan bahwa kegagalan eksekusi Carruthers pada Mei dan Pike pada September membuktikan bahwa kekhawatiran yang sebelumnya mereka sampaikan bukan sekadar dugaan.
âKegagalan spesifik yang dialami oleh Tuan Carruthers dan Nyonya Pike telah diprediksi, secara rinci dan panjang lebar,â demikian bunyi permohonan tersebut.
Kit Thomas, pengacara yang mewakili para narapidana hukuman mati sebagai penggugat, menilai otoritas Tennessee justru mengabaikan peringatan yang telah disampaikan sejak tahun lalu.
âAlih-alih mengatasi masalah dalam Protokol 2025 ketika kami mengidentifikasinya tahun lalu, Departemen Pemasyarakatan Tennessee dan Kantor Kejaksaan Agung malah semakin merahasiakan dan menolak untuk melakukan perubahan,â kata Thomas.
Ia menegaskan, akibatnya sesuai dengan apa yang telah diperingatkan oleh tim hukum mereka.
âHasilnya persis seperti yang kami prediksi: penderitaan dan kesengsaraan yang luar biasa bagi klien kami, dalam upaya eksekusi yang gagal yang juga menimbulkan kerugian jangka panjang bagi keluarga korban, staf pemasyarakatan, dan saksi media, di antara yang lainnya.â
Christa Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan temannya, Colleen Slemmer, pada 1995. Saat pembunuhan itu terjadi, Pike masih berusia 18 tahun. Ia kemudian menghabiskan hampir tiga dekade berikutnya dalam isolasi di penjara sebelum upaya eksekusinya berakhir dengan kegagalan.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Dikecam Publik, Trump Batalkan Rencana Pentagon Siarkan Langsung Eksekusi Mati Nidal Hasan
-
Kabar Buruk bagi Leverpool Jelang Lawan Manchester City! Alexander Isak dan Cody Gakpo Dipastikan Absen
-
Tiongkok Eksekusi Mati 4 Warga Kanada atas Kasus Kejahatan Narkoba
-
Profil Komjen Suyudi, Kapolri Baru yang Menggantikan Jenderal Listyo Sigit
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.