Telkom Perkuat Komitmen Keberlanjutan, Targetkan Sampah The Telkom Hub Tak Berakhir di TPA
Jumat, 23 Okt 2026, 13:35 WIBJAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan melalui keanggotaan United Nations Global Compact (UNGC) dan penerapan program Zero Waste to Landfill di kawasan The Telkom Hub, Jakarta. Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengintegrasikan prinsip bisnis bertanggung jawab dengan pengelolaan lingkungan dalam aktivitas operasional.
Penyerahan sertifikat keanggotaan UNGC kepada Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, berlangsung pada Kamis (22/10). Pada kesempatan yang sama, Telkom juga menjalankan program pengelolaan sampah bersama Waste4Change dengan menerapkan pemilahan sejak dari sumber agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak langsung berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, keberlanjutan merupakan bagian penting dari transformasi perusahaan untuk membangun bisnis yang bertanggung jawab dan berdaya saing dalam jangka panjang. Upaya tersebut dilakukan melalui tata kelola perusahaan, efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.
"Di TelkomGroup, keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi standar atau menjalankan inisiatif lingkungan, tetapi juga tentang bagaimana prinsip-prinsip tersebut menjadi bagian dari strategi bisnis dan budaya kerja. Keanggotaan dalam UN Global Compact memperkuat arah kami untuk terus menerapkan praktik bisnis yang bertanggung jawab, sementara program Zero Waste to Landfill menjadi salah satu wujud nyata penerapannya di lingkungan kerja," ujar Nanang.
Melalui program Zero Waste to Landfill, Telkom menerapkan pemilahan sampah sejak dari sumber untuk meningkatkan potensi pemanfaatan dan pengolahan kembali. Pelaksanaannya melibatkan karyawan, petugas housekeeping, serta Waste4Change dalam proses pemilahan, pengangkutan, dan pengolahan sampah sesuai prosedur tanpa mencampurkan kembali sampah yang telah dipisahkan.
Program tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026. Ketentuan tersebut mendorong pemilahan sampah berdasarkan kategori organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Telkom mulai bekerja sama dengan Waste4Change sebagai mitra pengelolaan sampah pada 7 Oktober 2026. Kolaborasi ini juga menjadi langkah untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang melalui peningkatan pengelolaan sejak dari sumber.
Berdasarkan data Januari hingga Juni 2026, volume sampah di The Telkom Hub berkisar antara 14.604 kilogram hingga 30.334 kilogram per bulan, dengan jumlah tertinggi tercatat pada Februari. Dari keseluruhan komposisi sampah, sebanyak 51 persen merupakan residu, 32 persen sampah organik, sedangkan plastik dan kertas masing-masing menyumbang 7 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan pentingnya pemilahan untuk menentukan metode pengolahan yang sesuai dengan jenis sampah. Melalui sistem yang lebih terstruktur, Telkom berupaya meningkatkan potensi daur ulang sekaligus menekan jumlah sampah yang berakhir di TPA.
Chief Operating Officer Waste4Change Ridho Malik Ibrahim mengapresiasi langkah Telkom dalam mengembangkan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Menurutnya, kolaborasi ini dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus mendorong perubahan perilaku di lingkungan kerja.
"Hari ini, kami bekerja sama dengan Telkom dalam program Zero Waste to Landfill untuk mendorong pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, mulai dari pemilahan di sumber hingga meningkatkan potensi daur ulang. Kami mengapresiasi langkah Telkom Hub yang kini mulai mengalihkan pengelolaan sampah agar tidak lagi langsung berakhir di TPA," jelas Ridho.
Selain menjalankan program lingkungan, Telkom memperkuat tata kelola keberlanjutan melalui keanggotaan UNGC. Perusahaan tercatat sebagai peserta aktif inisiatif tersebut sejak 16 Juli 2026 dan berupaya menerapkan Sepuluh Prinsip UNGC dalam strategi, budaya, serta kegiatan operasionalnya.
UNGC merupakan inisiatif keberlanjutan korporasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendorong perusahaan menjalankan prinsip bisnis bertanggung jawab. Kerangka tersebut mencakup empat bidang utama, yaitu hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi.
Executive Director UN Global Compact Network Indonesia, Dr. M. Windrawan Inantha, mengatakan prinsip keberlanjutan perlu menjadi bagian dari strategi dan budaya kerja perusahaan. Ia menilai program Zero Waste to Landfill yang dijalankan Telkom dapat menjadi contoh penerapan prinsip lingkungan melalui tindakan nyata di tempat kerja.
"Keberlanjutan perlu menjadi bagian dari strategi dan budaya kerja seluruh elemen perusahaan. Melalui UNGC, perusahaan memiliki kerangka untuk mengintegrasikan prinsip hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, dan antikorupsi ke dalam praktik bisnis," kata Windrawan.
Keanggotaan tersebut diharapkan memperkuat penerapan prinsip keberlanjutan dalam berbagai aspek bisnis TelkomGroup. Dengan demikian, komitmen perusahaan tidak hanya diwujudkan melalui program lingkungan, tetapi juga melalui tata kelola dan budaya kerja yang bertanggung jawab.
Dalam upaya mengurangi dampak lingkungan, TelkomGroup menjalankan strategi dekarbonisasi melalui Climate Transition Plan yang diluncurkan pada 2025. Peta jalan tersebut disusun untuk mendukung pencapaian net zero emission pada 2060.
Untuk target jangka pendek, TelkomGroup menargetkan penurunan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 20 persen pada 2030. Pada 2026, The Telkom Hub juga dilaporkan telah mencapai net zero emission untuk emisi operasional Scope 1 dan Scope 2.
Selain pengurangan emisi, perusahaan mendorong pemanfaatan energi terbarukan di berbagai lokasi operasional dan pengembangan green data center. TelkomGroup juga meningkatkan efisiensi energi jaringan melalui penerapan Autonomous Network sebagai bagian dari strategi pengelolaan operasional yang lebih efisien.
Upaya pengelolaan sampah di The Telkom Hub telah berjalan sejak Desember 2024 melalui penggunaan Reverse Vending Machine (RVM). Fasilitas tersebut memungkinkan pengumpulan botol plastik untuk didaur ulang sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah plastik.
Inisiatif RVM telah melibatkan lebih dari 900 pengguna dan mengumpulkan lebih dari 7 ton botol plastik untuk didaur ulang. Program tersebut juga dilaporkan berhasil menghindari sekitar 38 ton emisi karbon dioksida ekuivalen (COâe).
Melalui Zero Waste to Landfill, pengelolaan sampah diperluas dari pengumpulan botol plastik menjadi pengelolaan sampah perkantoran secara menyeluruh. Telkom menargetkan tidak ada sampah dari The Telkom Hub yang berakhir di TPA.
Ke depan, Telkom mendorong keterlibatan karyawan dalam memilah sampah sebagai bagian dari kebiasaan kerja sehari-hari. Praktik yang diterapkan di The Telkom Hub juga diharapkan dapat direplikasi di kantor-kantor TelkomGroup lainnya.
Melalui keanggotaan UNGC, strategi dekarbonisasi, dan pengelolaan sampah terintegrasi, Telkom berupaya memperkuat penerapan prinsip keberlanjutan dalam operasional perusahaan. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari dukungan perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
- Pengelolaan Sampah
- Ekonomi Sirkular
- Net Zero Emission (NZE)
- Dekarbonisasi
- TelkomGroup
- Zero Waste Landfill
- Telkom Indonesia
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Di Tengah Tekanan Militer Tiongkok, Taiwan Siapkan Anggaran Pertahanan Rekor untuk 2027
-
Mikel Arteta Perpanjang Kontrak di Arsenal hingga 2030
-
Hitler Mussolini Terpilih sebagai Wali Kota di Peru
-
Cegah Antrean Mengular, Pertamina Perpanjang Sistem Ganjil-Genap Pembelian BBM di SPBU Sintang
-
TPA Sarimukti Terancam Penuh, Jabar Gandeng TNI Olah 1.000 Ton Sampah Jadi Solar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.