Gelombang Protes Guncang Eropa, Biaya Hidup dan Layanan Publik Disorot

Jumat, 23 Okt 2026, 03:10 WIB

Athena - Ribuan pelajar, guru, mahasiswa, orang tua, dan pekerja berunjuk rasa di berbagai kota di Yunani pada Rabu (21/10), menuntut peningkatan pendanaan pendidikan publik serta langkah untuk mengatasi kenaikan biaya hidup dan pendidikan.

Dikutip dari Antara, sekitar 10.000 orang mengikuti demonstrasi di Athena, sementara 2.000 hingga 2.500 orang berunjuk rasa di Thessaloniki dan lebih dari 3.000 orang turun ke jalan di Patras. Aksi serupa juga berlangsung di Larissa dan sejumlah kota lainnya.

Ket. Foto: Pelajar, guru, dan pegawai negeri sipil di Athena, Yunani, berunjuk rasa untuk memprotes tingginya biaya hidup. — Sumber: Idrees MOHAMMED/AFP

Para pengunjuk rasa menuntut pengisian ribuan lowongan tenaga pengajar, pengangkatan guru pengganti menjadi pegawai tetap, pengurangan jumlah siswa per kelas, serta peningkatan keamanan gedung sekolah.

Mahasiswa juga menuntut penurunan biaya sewa, peningkatan tunjangan perumahan, penambahan kapasitas asrama, dan pencabutan aturan yang mengatur pengeluaran mahasiswa dari perguruan tinggi.

Aksi tersebut didukung pemogokan guru sekolah dasar selama 24 jam dan penghentian kerja selama tiga jam oleh guru sekolah menengah. Pekerja sektor publik dan sejumlah serikat pekerja turut bergabung.

Di Athena, pawai dari kawasan Propylaea menuju Alun-Alun Syntagma berakhir damai sebelum pukul 14.00 waktu setempat. Namun, kericuhan terjadi di kawasan Omonia, termasuk pelemparan batu, perusakan skuter listrik, dan penggunaan bom molotov. Polisi dilaporkan menggunakan granat kejut dan menahan 21 orang dalam pemeriksaan preventif.

Gelombang protes serupa juga menjadi perhatian pemerintah Prancis. Menteri Delegasi untuk Kementerian Dalam Negeri Prancis Jean-Didier Berger mengatakan pemerintah mempertahankan tingkat kewaspadaan maksimum menjelang demonstrasi nasional pada 24 Oktober.

"Kami berada pada tingkat kewaspadaan maksimum," kata Berger, Kamis (22/10).

Ia mengatakan pengerahan personel keamanan pada Sabtu akan meningkat 20 persen dibandingkan aksi 17 Oktober. Pemerintah juga membatalkan cuti petugas dan menyiapkan pasukan Sentinelle serta unit khusus, termasuk GIGN dan RAID.

Demonstrasi pada 17 Oktober digelar untuk memprotes tingginya biaya hidup dan harga bahan bakar, dengan melibatkan kelompok Gerakan Rompi Kuning (Yellow Vests) dan mahasiswa. Aksi tersebut diwarnai kerusakan tempat usaha dan gedung publik, sehingga sejumlah kota memberlakukan jam malam terbatas.

Presiden Emmanuel Macron kemudian memanggil badan-badan intelijen ke Istana Elysee setelah mereka dikritik karena dinilai gagal mengantisipasi mobilisasi massa. Perdana Menteri Sebastien Lecornu dan sejumlah menteri terkait turut menghadiri pertemuan keamanan tersebut. Demonstrasi lanjutan dijadwalkan pada 24 Oktober, sementara serikat pekerja menyerukan pemogokan nasional pada 5 November.

Ketidakpuasan Masyarakat

Di Italia, protes terhadap mahalnya biaya hidup di Milan juga berujung bentrokan pada 17 Oktober. Associated Press melaporkan sekitar 50 demonstran ditahan, termasuk sejumlah anak di bawah umur, sementara sedikitnya dua polisi terluka.

Kawasan Piazza del Duomo menjadi salah satu titik kerusuhan setelah demonstran bertopeng melemparkan batu dan benda keras ke arah polisi. Sejumlah toko dijarah, kendaraan dirusak, dan barikade dibakar. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.

Reuters melaporkan bentrokan kembali terjadi pada Minggu (18/10), ketika demonstran melemparkan batu dan merusak pertokoan. Lebih dari 60 orang dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan.

  • Gelombang Protes

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.