Regulator Sepak Bola Inggris Punya Kuasa Mutlak Paksa Pemilik Klub Jual Saham
Kamis, 22 Okt 2026, 00:04 WIBMANCHESTER â Regulator sepak bola Inggris memiliki kewenangan untuk memaksa pemilik klub melepas kepemilikannya jika dinilai tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Ketua Independent Football Regulator (IFR), David Kogan, menegaskan lembaganya bahkan dapat mempertimbangkan penyelidikan tersendiri terhadap Manchester City setelah proses banding klub tersebut terkait dugaan pelanggaran aturan keuangan Premier League selesai.
Kogan mengatakan, IFR berwenang mengevaluasi perilaku pemilik, direktur, dan pejabat senior klub berdasarkan standar yang ditetapkan lembaganya. Jika mereka dinilai tidak memenuhi persyaratan, regulator dapat mengambil langkah untuk mengakhiri keterlibatan mereka dalam pengelolaan klub.
âKami memiliki kewenangan untuk meminta seorang pemilik mundur dari klub jika kami meyakini bahwa klub tersebut dijalankan dengan cara yang tidak memenuhi standar kelayakan, kewajaran, atau kepatutan,â kata Kogan dalam siniar The Rest Is Football.
Ketika ditanya oleh salah satu pembawa acara, Alastair Campbell, apakah pemilik klub dapat menolak perintah tersebut, Kogan menjawab tegas.
âTidak, tidak, tidak. Kami memiliki kewenangan penuh untuk melakukannya,â ujarnya.
IFR dibentuk pada Juli 2025 untuk menjaga keberlanjutan finansial sepak bola Inggris. Lembaga ini memiliki wewenang mengawasi pemilik dan direktur klub serta melakukan intervensi ketika sebuah klub menghadapi risiko keuangan.
Kewenangan regulator tersebut menjadi sorotan di tengah proses banding Manchester City terkait putusan atas 114 dugaan pelanggaran aturan keuangan Premier League.
Kogan menegaskan, IFR tidak akan mengambil keputusan sebelum seluruh proses tersebut selesai. Setelah itu, lembaganya akan mempertimbangkan apakah perlu membuka penyelidikan terpisah.
âSaya tidak akan didorong untuk mengambil keputusan apa pun sebelum semua persoalan itu mendapatkan jawaban. Setelah itu, kami harus memutuskan apakah akan melakukan penyelidikan sendiri, menarik kesimpulan, dan menentukan tindakan yang akan diambil,â kata Kogan.
âMendahului proses tersebut akan menjadi kesalahan besar.â
Ia menjelaskan, pendekatan IFR berbeda dari Premier League. Regulator lebih berfokus pada perilaku individu yang mengelola klub, bukan menjatuhkan sanksi olahraga kepada klub itu sendiri.
âKami akan menilai berdasarkan standar kepemilikan serta persyaratan bagi direktur senior dan para eksekutif. Kami akan menilai tindakan individu-individu tersebut,â ujarnya.
Kogan menambahkan, Premier League memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi kepada klub, termasuk denda atau pengurangan poin. Sementara itu, IFR menjalankan fungsi pengawasan yang berbeda sesuai mandat hukumnya. Pengambilalihan oleh investor negara tetap dimungkinkan
Kogan juga menjelaskan bahwa undang-undang yang menjadi dasar pembentukan IFR tidak memberikan kewenangan otomatis kepada lembaganya untuk memblokir pengambilalihan klub Inggris hanya karena calon investornya merupakan dana kekayaan negara.
âUndang-undang tersebut tidak mengizinkan kami memblokir sesuatu hanya karena, sebagai contoh, investornya adalah dana kekayaan negara Norwegia,â katanya.
Menurut Kogan, ruang gerak regulator tetap dibatasi oleh ketentuan yang tercantum dalam undang-undang. Karena itu, kemungkinan pengambilalihan klub oleh investor yang didukung negara tidak serta-merta tertutup.
Dalam wawancara yang juga melibatkan Gary Lineker dan Alastair Campbell, Kogan mengungkap perkembangan pembicaraan mengenai pembagian pendapatan antara Premier League dan English Football League (EFL).
Perselisihan mengenai distribusi pendapatan antara kompetisi kasta tertinggi dan liga-liga di bawahnya telah berlangsung cukup lama.
Menurut Kogan, Premier League kini membahas proposal untuk meningkatkan lebih dari dua kali lipat dana solidaritas tahunan yang disalurkan kepada klub-klub di divisi bawah.
âPremier League sekarang membicarakan peningkatan lebih dari dua kali lipat jumlah yang dibayarkan setiap tahun melalui apa yang dikenal sebagai pembayaran solidaritas, yakni dana yang mengalir ke liga-liga di bawahnya,â ujarnya.
Dalam proposal tersebut, pembayaran parasut (parachute payments) bagi klub yang terdegradasi dari Premier League akan dikurangi. Sebaliknya, pendanaan untuk Championship, kasta kedua sepak bola Inggris, akan ditingkatkan secara signifikan.
Kogan menilai perubahan tersebut dapat memperkecil kesenjangan finansial antara klub-klub yang menerima pembayaran parasut dan para pesaing mereka di Championship. Dengan demikian, persaingan di divisi tersebut diharapkan menjadi lebih seimbang.
Selain persoalan distribusi pendapatan, Kogan menyoroti besarnya pengeluaran klub untuk membayar agen pemain. Menurut dia, biaya tersebut telah melampaui 500 juta pound sterling atau sekitar 11,2 triliun rupiah. âBiaya agen sangat tidak masuk akal. Lebih dari 500 juta pound. Itu setengah miliar pound,â kata Kogan. âSejujurnya, saya jauh lebih memilih jika uang itu dibelanjakan untuk para pemain.â
Kogan juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap besarnya utang antarklub sepak bola Inggris. Nilainya disebut telah mencapai miliaran pound, sementara utang yang berkaitan dengan transfer pemain terus meningkat tajam.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa agenda IFR tidak hanya menyangkut pengawasan pemilik klub, tetapi juga keberlanjutan finansial, pemerataan pendapatan, dan pengendalian risiko keuangan dalam ekosistem sepak bola Inggris.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Antisipasi Gempa Megathrust Selatan Jawa, Masyarakat Desa hingga Fasum Diingatkan Kesiapan Hadapi Tsunami
-
Bulan Imunisasi Kejar Nasional
-
Siap-Siap Perjalanan Lebih Cepat, 7 KRL iE305 Produksi INKA Resmi Meluncur Lagi di Jabodetabek
-
Samsung Rilis Kacamata Pintar Pertamanya November, Siap Tantang Meta!
-
Walaupun Manchester City Dilibas PSG 2-4, Erling Haaland Tetap Pemain Tersubur "The Citizens" di Liga Champions
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.