IHSG Hari Ini Bergerak Menguat di Tengah Pasar Cermati Perkembangan Regulasi dan MSCI
Kamis, 22 Okt 2026, 11:03 WIBJAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (22/10) bergerak menguat di tengah pelaku pasar mencermati kebijakan regulator pasar modal dan perkembangan dari MSCI.
Dibuka melemah, IHSG pada pukul 10.00 WIB menguat 67,88 poin atau 1,27 persen ke posisi 5.396,24. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 7,18 poin atau 1,34 persen ke posisi 542,94.
"Jika IHSG mampu bertahan di atas 5.317, IHSG berpeluang lanjut menguji level 5.404 dan jika breakout lanjut menuju resistance 5.607-5.631. Namun, jika tekanan kembali meningkat dan IHSG tidak mampu bertahan di atas 5.317, IHSG bisa kembali ke support 4.999 atau 4.907, jika breakdown rentan melanjutkan pelemahan menuju area 4.456," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Dari dalam negeri, BEI telah menyesuaikan batas Auto Rejection Bawah (ARB) saham menjadi asimetris dari sebelumnya sebesar 15 persen menjadi 7 persen mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Selain itu, BEI mengumumkan dua inisiatif baru, yaitu yaitu penambahan keterangan afiliasi saham dengan kepemilikan 1 persen, dan mengeluarkan seluruh saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) dari IHSG.
BEI mencatat saat ini terdapat sebanyak 80 saham-saham kategori HSC, yang mana sejumlah saham HSC juga mendapatkan sanksi akibat melakukan pelanggaran pasar modal.
Seiring dengan itu, BEI telah menyerahkan surat sanksi kepada pihak-pihak yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasar modal, diantaranya kepada DSSA, BREN, dan CUAN
Langkah-langkah regulator tersebut merupakan inisiatif untuk merespon pengumuman MSCI yang membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market ke Standalone Market.
MSCI akan mengumumkan keputusan final paling lambat akhir Juni 2027 dan dapat memberikan pembaruan sementara mengenai masukan dari pelaku pasar selama masa konsultasi
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen, sementara Deposit Facility dinaikkan 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen pada RDG 21â22 Oktober 2026.
Selain itu, BI memperkuat insentif lindung nilai melalui instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan pengurangan biaya hedging hingga 45 persen untuk menarik aliran modal asing, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam pasar keuangan domestik.
Sejak Juni hingga Oktober 2026, optimalisasi instrumen swap dan DNDF telah menarik inflow sebesar 9,9 miliar dolar AS.
Di sisi lain, BI menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) bank umum konvensional secara bertahap dari 9 persen menjadi 7 persen mulai November-Desember 2026, yang diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp190 triliun.
Kebijakan ini ditempuh di tengah tekanan arus modal keluar pascaevaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia.
BI menegaskan stabilitas rupiah tetap menjadi prioritas, sembari menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026â2027.
Dari mancanegara, sentimen investor membaik berkat kinerja emiten teknologi dan optimisme terhadap permintaan AI.
Meski demikian, prospek inflasi Amerika Serikat (AS) masih menjadi perhatian setelah data CPI dan PPI pekan sebelumnya mengindikasikan tekanan harga yang meningkat. Data perumahan AS juga menunjukkan tingginya suku bunga hipotek yang membebani permintaan.
"Investor akan mencermati perkembangan data ekonomi dan laporan keuangan perusahaan untuk menilai keberlanjutan reli pasar," ujar Liza.
The Fed dijadwalkan mengambil keputusan suku bunga pada pekan depan. Pasar memperkirakan probabilitas sekitar 85 persen bahwa suku bunga akan dipertahankan, namun peluang kenaikan 25 basis poin pada Desember 2026 mencapai sekitar 75 persen.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah serangan rudal menargetkan kapal tanker di Selat Hormuz dan fasilitas energi Arab Saudi.
Adapun, risiko gangguan distribusi energi masih tinggi, meskipun volume pengiriman minyak mentah dari kawasan tersebut telah melampaui tingkat sebelum perang.
Di sisi lain, Rusia dijadwalkan mengirim kapal tanker diesel pertamanya ke AS berdasarkan kesepakatan Donald Trump dan Vladimir Putin, sementara Washington menjajaki kerja sama energi dengan Reliance Industries India.
Bursa Eropa kompak menguat pada perdagangan Rabu (22/10) kemarin, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 1,50 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,19 persen, indeks DAX Jerman menguat 1,35 persen, dan indeks CAC 40 Prancis menguat 1,06 persen.
Bursa Wall Street AS juga kompak menguat pada perdagangan Rabu (22/10), diantaranya indeks S&P 500 menguat 0,58 persen, indeks Nasdaq Composite menguat 1,05 persen, serta Dow Jones Industrial Average menguat 0,69 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini, indeks Nikkei melemah 1,02 persen ke 64.008,00, indeks Shanghai melemah 1,3o persen ke 3.66q,96, indeks Hang Seng melemah 2,78 persen ke 23.998,95, indeks Kospi melemah 2,24 persen ke 5.607,17, dan indeks Straits Times melemah 0,11 persen ke 5.431,36.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pasukan Buzzer dan Akun Anonim Bikin Resah, Bawaslu Sulsel Siapkan Perangkap Take Down
-
Regenerasi Pembatik Dikebut, Pemkot Pekalongan Gelar Lomba Membatik
-
Ada Ancaman di Balik Cuaca Ekstrem, BPBD Rejang Lebong Soroti Ancaman Bencana Hidrometeorologi
-
JNE Perkuat Kepercayaan Konsumen Lewat Layanan Logistik Halal
-
Lionel Messi Kirim Pesan Mengejutkan Jelang Laga Terakhir Bersama Argentina
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.