Kreativitas dan semangat pemberdayaan perempuan menjadi penggerak tumbuhnya Batik Ciwitan di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Usaha kerajinan wastra yang dirintis Eka Harijayanti sejak 2012 ini tidak hanya menghasilkan produk batik unik, tetapi juga membuka peluang penghasilan tambahan bagi 20 ibu rumah tangga di lingkungan setempat. Batik Ciwitan menggabungkan teknik jumputan dari tradisi Jawa dengan seni shibori asal Jepang. Perpaduan tersebut menghasilkan motif yang khas dan tidak seragam, sehingga setiap lembar kain memiliki karakter tersendiri. Nama Ciwitan sendiri berasal dari bahasa Sunda, yakni ciwit, yang menggambarkan teknik pembuatan motif dengan cara mencubit atau mengikat bagian kain. “Nama Batik Ciwitan ini kami ambil dari bahasa Sunda, yaitu ciwit, karena bikinnya diciwit. Tapi teknik batiknya sendiri hasil perkawinan silang antara tradisi jumputan Jawa dan seni shibori asal Jepang,” ujar Eka saat ditemui di Sanggar Ciwitan Lawon Geulis, Bogor. mengawali usahanya secara mandiri Seiring meningkatnya pesanan pada periode 2017–2019, ia mulai keliling untuk memperkenalkan tehnik ciwitan ini dan tanpa diduga ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya tertarik untuk membantu proses produksi.
Kini, kegiatan produksi dilakukan secara lebih teratur. Setiap Selasa, para perajin berkumpul untuk menjahit dan menyerut kain. Pada Kamis, mereka belajar membuat pola, sedangkan Sabtu dimanfaatkan untuk proses pewarnaan di sanggar Sebelumnya, sebagian pekerjaan dilakukan para perajin dari rumah masing-masing. Namun, dalam tiga tahun terakhir, kegiatan produksi bersama menjadi agenda rutin untuk meningkatkan keterampilan sekaligus mempererat kebersamaan kelompok. Eka mengatakan, keterlibatan para ibu rumah tangga tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan produksi, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan dan memperoleh penghasilan tambahan.“Daripada hanya sekadar di rumah tanpa tujuan dan untuk mengisi waktu lengang,enak belajar batik di sini, sambil kumpul,” tuturnya.
Mengandalkan Keunikan dan Proses Manual Dalam proses pembuatan Batik Ciwitan, ibu-ibu menentukan desain atau pola awal yang kemudian dikerjakan bersama para perajin. Motif yang dihasilkan cenderung acak dan banyak dipengaruhi suasana hati serta kreativitas saat menggambar pola. Pengerjaannya membutuhkan ketelitian karena seluruh proses dilakukan secara manual. Untuk selembar kain berukuran 2,5 meter,dalam sebulan mereka mampu menghasil kan minimal 10 kain dengan waktu produksi dapat mencapai satu hingga tiga minggu, bergantung pada tingkat kerumitan desain.Keunikan proses tersebut turut menentukan nilai jual produk. Batik Ciwitan dipasarkan dengan harga berkisar Rp 150 ribu hingga Rp750 ribu per lembar, menyasar konsumen yang mencari produk batik dengan karakter dan motif berbeda. Selain penjualan produk, sanggar Batik Ciwitan juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi. Pengunjung dapat melihat langsung tahapan pembuatan batik, mulai dari mengikat, menjahit, hingga proses pewarnaan. Menurut Eka, sanggar tersebut rutin menerima kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, termasuk rombongan sekolah, instansi, dan terakhir kunjungan mahasiswa dari Peru, Jepang, serta Amerika Serikat.
Nama Batik Ciwitan ini kami ambil dari Bahasa Sunda yaitu 'ciwit' karena bikinnya diciwit Tapi teknik batiknya sendiri hasil perkawinan silang antara tradisi jumputan Jawa dan seni shibori asal Jepang
Pewarnaan kain menggunakan warna alami serta beberapa menggunakan pewarna kain kimia
Dukungan Desa BRILiaN Perkuat Usaha Perkembangan Batik Ciwitan turut didukung program Desa BRILiaN yang diinisiasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Sejak Desa Benteng bergabung dalam program tersebut, sanggar Batik Ciwitan semakin sering dilibatkan dalam berbagai kegiatan desa dan menjadi salah satu tujuan kunjungan.Eka mengaku, keterlibatan dalam kegiatan Desa BRILiaN membantu meningkatkan pengenalan masyarakat terhadap produk Batik Ciwitan.
Koleksi kain ciwitan yang sangat beragam motif ini timbul karena kreatifitas dan mood pengrajin saat pembuatannya
Dengan adanya kerajinan batik ciwitan ini para ibu-ibu yang merupakan pengrajin dan bertetangga ini menjadikan ajang kumpul serta silaturahmi serta mengisi waktu luang hingga mendapatkan pemasukan. kedepannya eka mengaku akan lebih menjaga kualitas produksi seiring meningkatnya permintaan batik ciwitan ini. “Alhamdulillah, keberadaan kami makin diakui setelah Desa BRILiaN ini. Sanggar batik kami kini jadi destinasi wajib jika ada kunjungan ke desa,” katanya.Ketua Unit Pengelola Desa Wisata Benteng, Wahyu Syarief Hidayat, menjelaskan Batik Ciwitan Lawon Geulis merupakan salah satu UMKM yang menjadi bagian dari unit usaha Desa Wisata Benteng.
Pada 2023, Desa Benteng menerima dana hibah Desa BRILiaN dialokasikan untuk mendukung pengembangan Batik Ciwitan melalui penyediaan sarana dan prasarana sanggar Bantuan tersebut mencakup kain, canting, cap batik, meja, rak penyimpanan, bahan pewarna, serta perlengkapan produksi lainnya. Selain itu, pembangunan gapura kampung tematik turut memperkuat identitas kawasan sebagai bagian dari binaan Desa BRILiaN.
Dukungan fasilitas tersebut diharapkan dapat menunjang kegiatan produksi, pembelajaran membatik, serta pengembangan wisata berbasis potensi lokal.
BRI Dorong Inovasi dan Kemandirian Desa