Bukan Padamkan Api Lalu Buat Apa?, Ini Penjelasan BNPB Fungsi Sebenarnya Dry Ice untuk Karhutla
Kamis, 22 Okt 2026, 19:27 WIBJAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan penggunaan teknologi dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca tidak ditujukan untuk memadamkan titik api, melainkan difokuskan mengurai kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) guna memperbaiki jarak pandang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan yang ditemui di Jakarta, Kamis (22/10), menjelaskan bahwa upaya utama dalam penanganan karhutla tetap bertumpu pada kerja keras tim satuan tugas (satgas) darat yang terjun langsung untuk memadamkan sumber masalah di lapangan.
Sementara itu, pelaksanaan modifikasi cuaca menggunakan dry ice yang disemai pada ketinggian 5.000 - 7.000 kaki di bawah lapisan asap dirancang khusus untuk mendinginkan dan menceraiberaikan partikel pekat kabut asap.
Mekanisme tersebut diharapkan mampu membiarkan sinar matahari menembus ke permukaan, mendorong asap dari lapisan bawah naik lebih tinggi ke atmosfer, serta memulihkan jarak pandang agar aktivitas penerbangan kembali normal.
Selain membantu memperbaiki jarak pandang, pemanfaatan teknologi ini juga bertujuan menekan risiko paparan polusi udara agar kualitas udara yang dihirup masyarakat menjadi lebih sehat serta mengurangi ancaman gangguan pernapasan.
Berton menambahkan bahwa operasi penyemaian dry ice juga menjadi bagian dari rangkaian taktik udara yang terintegrasi, yang nantinya dapat dikombinasikan dengan penyemaian NaCl atau garam apabila terdapat pertumbuhan bibit awan potensial untuk mendukung efektivitas pengeboman air.
Adapun saat ini Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi provinsi sasaran penyemaian dry ice tersebut.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan total 13 sorti operasi modifikasi cuaca menggunakan bahan semai dry ice atau es kering serta NaCl atau garam di Kalimantan Tengah, sembilan sorti di antaranya menyebarkan 4.400 kilogram dry ice dan 3.800 kilogram garam.
Kemudian di Sumatera Selatan ada sebanyak 4.000 kilogram dry ice atau es kering serta 800 kilogram NaCl atau garam yang disemai dari udara melalui enam sorti penerbangan di sekitar Palembang, Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir.
Hasil sementara dari penyemaian dry ice di Sumatera Selatan berhasil menurunkan konsentrasi PM atau kualitas udara, serta jarak pandang meningkat dari 300 meter di jam 09.00 WIB menjadi 2.800 meter pada sore hari.
"Jadi dry ice yang kita buat saat ini adalah untuk mengurangi visibility yang rendah tersebut," kata dia menegaskan. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Kemenko Polkam Siapkan Sertijab, Dudung Abdurachman Langsung Tancap Gas Gantikan Djamari
-
Telkomsel Cari Technopreneur dengan Inovasi AI Berdampak bagi Indonesia di Program Impact Incubator NextDev ke-12
-
Bye-bye Calo Sertifikat, Kemen ATR/BPN Buka-Bukaan Prosedur dan Biaya di TikTok Live!
-
Optimalisasi Pemanfaatan Sumur Resapan untuk Kebutuhan Air Warga
-
Modernisasi Alutsista Korps Marinir melalui Penyerahan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.