Sekolah Foodpreneur Buktikan Transmigrasi Bukan Sekadar Pindah Permukiman
Rabu, 21 Okt 2026, 18:15 WIBJAKARTA â Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengungkapkan Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal yang digagas oleh Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (TEP UB) dan memberikan pendampingan kepada istri petani untuk merintis usaha pangan, sejalan dengan transformasi transmigrasi.
Pengembangan usaha pangan lokal tersebut sejalan dengan pesan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara agar pembangunan kawasan transmigrasi menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
âTransformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan kesejahteraan tumbuh di kawasan tersebut,â ujar Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (21/10).
Cabai dan tomat yang selama ini dijual segar, serta jantung pisang yang jarang dimanfaatkan, menjadi bahan bagi 50 istri petani di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun, Papua Barat Daya, untuk merintis usaha pangan olahan.
Melalui pendampingan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya (TEP UB), mereka belajar menghasilkan produk bernilai tambah dengan sasaran pemasaran ke swalayan lokal hingga pusat oleh-oleh di Raja Ampat.
Pendampingan berlangsung melalui Sekolah Foodpreneur Pangan Lokal yang digagas TEP 19 UB di Kampung Wariyau, Distrik Klamono, dan Kampung Malasigit, Distrik Malabotom.
Sejak September 2026, para peserta yang terbagi dalam 10 kelompok mendapat pembekalan untuk mengembangkan lima produk utama: sambal bawang, sambal kepiting, saus tomat, cabai tabur daun jeruk dan abon jantung pisang.
Anggota TEP UB Dina Aqilla mengatakan program ini berangkat dari keluhan petani mengenai rendahnya harga jual hasil kebun. Penjualan dalam bentuk segar membatasi nilai tambah yang diperoleh keluarga petani, sementara potensi usaha pengolahan pangan belum banyak dikembangkan.
âBerdasarkan survei langsung di lapangan banyak petani yang mengeluhkan harga ekonomi tanamannya rendah,â ujar Dina Aqilla.
Untuk menjawab persoalan tersebut, lanjutnya, tim menggabungkan pembelajaran materi, pelatihan memasak dari rumah ke rumah, dan upaya perbaikan rantai distribusi. Pendampingan diarahkan agar peserta memahami proses usaha sejak pemilihan bahan hingga pemasaran.
âKe depan kami menargetkan bisa memasok ke swalayan lokal dan pusat oleh-oleh di destinasi wisata seperti Raja Ampat,â kata Dina.
Menurut Dina, dengan modul, silabus dan standar operasional prosedur yang disusun tim, peserta mempelajari pemilihan bahan baku, kebersihan dan keamanan pangan, teknik pengolahan, pengemasan, serta dasar-dasar pemasaran.
Tim juga mendampingi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan pangan industri rumah tangga.
Bagi peserta, pelatihan ini membuka harapan untuk membangun usaha dari hasil kebun di sekitar mereka. Melalui Sekolah Foodpreneur, potensi hasil kebun di Klamono-Segun mulai dihubungkan dengan keterampilan pengolahan dan peluang pasar.
Pendampingan ini diharapkan menjadi pijakan bagi keluarga petani untuk mengembangkan usaha pangan lokal dan memperoleh nilai tambah dari hasil panennya.
- Sekolah Foodpreneur
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.