80 Saham HSC Dikeluarkan dari IHSG, Langkah Jangka Pendek untuk Kurangi Distorsi
Rabu, 21 Okt 2026, 03:10 WIBJAKARTA - Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham-saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sebagai langkah jangka pendek yang diperlukan untuk memperbaiki transparansi dan menjaga kredibilitas pasar modal.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan kebijakan tersebut dapat mengurangi risiko distorsi pergerakan indeks akibat saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
âHingga saat ini, saya rasa keputusan untuk mengeluarkan saham-saham HSC merupakan langkah jangka pendek yang memang diperlukan,â kata Rully di Jakarta, Selasa (20/10).
BEI mencatat terdapat 80 saham yang masuk kategori HSC dengan bobot sekitar 18 persen terhadap IHSG. Pengeluaran saham-saham tersebut dari perhitungan indeks tidak berarti perusahaan terkait dihapus dari pencatatan bursa atau mengalami delisting.
Saham-saham tersebut tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi IHSG. Kebijakan itu diharapkan membuat indeks lebih mencerminkan kondisi pasar secara luas sekaligus mengurangi potensi risiko yang timbul akibat konsentrasi kepemilikan saham.
Rully menilai konsentrasi kepemilikan yang terlalu besar pada pihak tertentu berpotensi membuat harga saham lebih mudah dimanipulasi. Kondisi tersebut dapat berdampak signifikan terhadap pergerakan IHSG apabila saham bersangkutan memiliki bobot besar dalam indeks.
âKalau, saham gampang digoreng oleh pihak-pihak tertentu, hal itu bisa berpengaruh besar terhadap IHSG,â katanya.
Sebab itu, BEI kata Rukky perlu mendorong penyebaran kepemilikan saham yang lebih merata untuk mengurangi peluang manipulasi harga. Konsentrasi kepemilikan yang tinggi dinilai dapat membuka ruang bagi praktik perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) oleh pihak-pihak tertentu.
âTidak boleh ada pihak yang menguasai saham terlalu besar sehingga memungkinkan terjadinya coordinated trading. Ini juga pasti menjadi perhatian utama MSCI (Morgan Stanley Capital International),â katanya.
Meski demikian, Rully menegaskan status HSC tidak serta-merta mencerminkan baik atau buruknya fundamental perusahaan. Konsentrasi kepemilikan dan kinerja fundamental merupakan dua aspek berbeda sehingga penilaian terhadap suatu emiten tetap perlu mempertimbangkan kondisi bisnis serta kinerja keuangannya.
Perlindungan Investor Ritel
Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Y Sri Susilo, menilai kebijakan mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG merupakan langkah positif.
Menurut dia, investor ritel tidak selalu memiliki akses terhadap informasi yang memadai mengenai kondisi pasar dan struktur kepemilikan saham. Keterbatasan tersebut dapat menyulitkan mereka dalam mengukur risiko serta menentukan keputusan investasi.
Dalam kondisi demikian, perbaikan mekanisme perhitungan indeks diharapkan dapat memberikan gambaran pergerakan pasar yang lebih wajar. IHSG diharapkan menjadi acuan yang lebih representatif bagi investor dalam membaca perkembangan pasar saham nasional.
Susilo menekankan bahwa transparansi harus disertai keterbukaan informasi yang mudah diakses dan dipahami. Dengan demikian, investor ritel dapat mengenali risiko saham yang diperdagangkan, termasuk saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi, sebelum mengambil keputusan investasi.
Kebijakan BEI tersebut juga menjadi bagian dari upaya Indonesia merespons perhatian investor global terhadap transparansi kepemilikan saham, porsi saham beredar di publik (free float), likuiditas, dan tata kelola pasar modal.
Financial Times menempatkan langkah tersebut dalam rangkaian reformasi pasar modal Indonesia untuk menjawab sejumlah persoalan yang menjadi perhatian MSCI. Namun, perubahan mekanisme perhitungan indeks dinilai belum cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan struktural yang memengaruhi persepsi investor global.
Tekanan terhadap pasar juga tercermin dalam laporan Reuters pada 16 Oktober 2026. Laporan tersebut menyoroti risiko arus keluar dana asing apabila Indonesia mengalami penurunan status dalam klasifikasi MSCI. Kondisi itu menunjukkan pentingnya pembenahan transparansi, peningkatan likuiditas, serta penguatan penegakan aturan untuk memulihkan kepercayaan investor.
Sementara itu, manajer portofolio Allspring Global Investments, Gary Tan, seperti dikutip Boursorama, menilai pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dapat membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap daya tarik pasar saham Indonesia.
Meski demikian, ia menekankan bahwa efektivitas kebijakan akan sangat bergantung pada pelaksanaannya, termasuk kemampuan otoritas mengatasi berbagai tantangan dalam penerapan di dalam negeri.
âMulai dari titik ini, kami meyakini risiko tambahan paling signifikan terhadap arus dana kemungkinan berasal dari dana yang dikelola secara aktif, bukan dari dana pasif,â katanya.
Dengan demikian, pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG menjadi salah satu langkah awal untuk memperbaiki kualitas informasi pasar. Keberhasilan kebijakan tersebut tetap bergantung pada konsistensi reformasi tata kelola, keterbukaan struktur kepemilikan, dan perlindungan investor secara berkelanjutan.
- pasar modal
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Permintaan perbaikan pasar modal
-
Gen Z Jakarta Harus Banyak Dikenalkan Peluang-peluang Menanam Modal
-
Klasemen Berubah! Italia Tekuk Turki 3-1 dan Naik ke Peringkat Dua
-
Disdikpora Cianjur Prioritaskan Pendidikan Karakter dan Perbaikan 282 Ruang Kelas
-
Kemarau Ancam 8.845 Hektare Sawah di Nganjuk, KemenPU Kerahkan Bendungan Semantok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.