Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok pada Q3-2026 Melampaui Prediksi

Selasa, 20 Okt 2026, 03:10 WIB

BEIJING - Ekonomi Tiongkok tumbuh sedikit lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal ketiga, tetapi angka yang dirilis pada Senin (19/10) masih berada di batas bawah target pertumbuhan pemerintah untuk tahun ini. Guncangan energi global dan lemahnya permintaan domestik mengimbangi lonjakan ekspor.

Perekonomian terbesar kedua di dunia itu dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang berbeda antara sektor eksternal dan domestik. Lonjakan ekspor yang didorong kecerdasan buatan (AI) menutupi dampak krisis berkepanjangan di sektor properti serta sentimen konsumen yang suram.

Ket. Foto: Sumber: National Bureau of Statistics of China — Sumber: koran jakarta /and - ones

Produk domestik bruto (PDB) Tiongkok tumbuh 4,5 persen pada Juli-September, menurut Biro Statistik Nasional (NBS). Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan 4,3 persen pada kuartal sebelumnya dan sedikit melampaui perkiraan 4,4 persen berdasarkan jajak pendapat AFP terhadap para ekonom.

Beijing menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 4,5-5,0 persen pada tahun ini, sasaran terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Dilansir dari AFP, Wakil Kepala NBS, Mao Shengyong menggambarkan kondisi internasional sebagai situasi yang "kompleks dan bergejolak" dalam konferensi pers setelah data tersebut dirilis.

Tidak Memadai

Pada akhir September, Beijing meluncurkan subsidi hipotek untuk pembelian rumah tertentu serta dukungan bagi investasi infrastruktur. Langkah tersebut ditujukan untuk memberikan dorongan terarah terhadap perekonomian di tengah melemahnya aktivitas ekonomi.

Meski aktivitas konsumen menjadi faktor penekan sepanjang tahun ini, data terpisah yang dirilis pada Senin menunjukkan penjualan ritel naik 1,1 persen pada bulan lalu, menjadi pertumbuhan tercepat sejak Maret.

Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management Zhiwei Zhang mengatakan momentum ekonomi masih “lesu” pada September.

“Setelah disesuaikan dengan inflasi, penjualan ritel riil hampir tidak tumbuh dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” tulisnya.

Ia menambahkan angka PDB yang lebih baik dari perkiraan dapat membuat pemerintah enggan mengambil perubahan kebijakan yang "signifikan" pada kuartal keempat demi mencapai target tahunan.

NBS juga melaporkan pada Senin bahwa produksi industri tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada September, meningkat dari 5,2 persen pada bulan sebelumnya.

Kenaikan tersebut “terbantu oleh kuatnya permintaan luar negeri”, tulis Nguyen Hoang Nam dari Capital Economics.

Namun data menunjukkan investasi aset tetap merosot 7,2 persen selama sembilan bulan pertama tahun ini secara kumulatif.

Tiongkok, importir minyak mentah terbesar di dunia, menghadapi tekanan akibat tingginya biaya energi yang dipicu perang Iran, yang menghambat pelayaran dari kawasan

Harga energi yang lebih tinggi serta "ketidakpastian berkepanjangan dan hambatan struktural" mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) pekan lalu sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhan tahunan Tiongkok menjadi 4,5 persen.

Para ekonom mengatakan perekonomian Tiongkok perlu beralih ke model pertumbuhan yang lebih mengandalkan konsumsi domestik, alih-alih bertumpu pada penggerak tradisional seperti konstruksi, pengembangan properti, dan ekspor.

Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan mengatakan dalam konferensi pers di Bangkok pekan lalu bahwa upaya "penyeimbangan kembali" perekonomian Tiongkok yang telah lama dinantikan belum terwujud.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.