• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Sir Francis Drake dan Awal...

Sir Francis Drake dan Awal Terungkapnya Pesisir Selatan Jawa di Peta Eropa

Senin, 19 Okt 2026, 05:22 WIB

Pelayaran Sir Francis Drake pada 1580 menjadi salah satu bab penting dalam sejarah pemetaan Pulau Jawa. Catatan ekspedisi Inggris itu membantu memperluas pengetahuan geografis Eropa mengenai wilayah yang dilalui, termasuk pesisir selatan Jawa yang selama berabad-abad belum tergambar seakurat pantai utara.

Meski demikian, persinggahan Drake tidak serta-merta menghasilkan peta pesisir selatan yang lengkap. Penyempurnaan gambaran geografis kawasan ini berlangsung secara bertahap melalui berbagai ekspedisi dan pengamatan selama berabad-abad berikutnya.

Ket. Foto: Peta berjudul Insulæ Indiæ Orientalis karya kartografer Jodocus Hondius terbit pada 1606. — Sumber: Wikimedia Commons

Pada abad ke-16, para pelaut Eropa menjelajahi samudra untuk mencari jalur perdagangan, wilayah baru, dan komoditas bernilai tinggi. Pulau Jawa memiliki posisi strategis karena berada di jalur pelayaran yang menghubungkan Samudra Hindia dengan kepulauan penghasil rempah-rempah di Nusantara.

Namun, pengetahuan geografis Eropa tentang pulau ini belum merata. Pesisir utara lebih dikenal berkat aktivitas perdagangan dan keberadaan pelabuhan, sedangkan pantai selatan yang menghadap langsung ke Samudra Hindia relatif kurang terdokumentasi dalam peta-peta asing.

Drake memimpin ekspedisi keliling dunia yang berangkat dari Plymouth, Inggris, pada 13 Desember 1577. Dengan kapal utama yang kemudian dikenal sebagai Golden Hind, ia melintasi Samudra Atlantik dan Pasifik, sebelum mencapai kawasan Asia Tenggara. Pada 1579, ekspedisinya singgah di Filipina dan Ternate, Maluku, untuk memperoleh perbekalan serta menjalin hubungan dengan penduduk setempat.

Setelah itu, rombongan Drake melanjutkan pelayaran menuju Jawa sebelum menyeberangi Samudra Hindia, mengitari Tanjung Harapan di Afrika, dan kembali ke Inggris pada 26 September 1580. Menurut Library of Congress, perjalanan tersebut merupakan ekspedisi keliling dunia kedua yang berhasil diselesaikan setelah pelayaran Ferdinand Magellan yang dituntaskan Juan Sebastián Elcano pada 1522.

Pendaratan di Pesisir

Selatan Jawa

Persinggahan Drake di Jawa menarik perhatian dalam kajian sejarah maritim dan kartografi karena dikaitkan dengan kedatangan pelaut Eropa di pesisir selatan pulau tersebut. Kawasan pantai barat daya Jawa kerap disebut dalam pembahasan sejarah ini.

Dalam sejumlah penulisan sejarah setempat, Cilacap juga muncul sebagai salah satu perkiraan lokasi pendaratan. Namun, lokasi persis tempat Drake mendarat belum dapat dipastikan secara meyakinkan berdasarkan informasi yang tersedia. Nama Cilacap dalam pengertian geografis modern pun tidak bisa langsung disamakan dengan lokasi yang disebut dalam catatan pelayaran abad ke-16.

Untuk menelusuri persoalan tersebut, kajian sejarawan kartografi Günter Schilder berjudul The Charting of the South Coast of Java, yang diterbitkan dalam jurnal Archipel pada 1981. Laporan ini menjadi salah satu rujukan penting saat itu.

Kajiannya membahas perkembangan pemetaan pesisir selatan Jawa dan memperlihatkan bahwa kawasan tersebut masih menyimpan banyak ketidakakuratan dalam peta Eropa bahkan berabad-abad setelah masa Drake. Hal ini menunjukkan bahwa kunjungan sebuah kapal tidak otomatis membuat seluruh garis pantai di wilayah tersebut dapat dipetakan dengan tepat.

Pemetaan pada masa itu membutuhkan lebih dari sekadar melihat daratan dari kapal. Pelaut harus mencatat bentuk garis pantai, memperkirakan posisi geografis, mengamati kondisi perairan, dan membandingkan hasil pengamatan dengan informasi dari perjalanan sebelumnya.

Keterbatasan instrumen navigasi serta kondisi laut juga memengaruhi ketepatan hasil pengukuran. Karena itu, persinggahan Drake lebih tepat dipahami sebagai bagian dari proses panjang pengumpulan informasi geografis Eropa tentang Jawa, bukan sebagai titik awal pemetaan pesisir selatan secara menyeluruh.

Pesisir Utara Lebih Dikenal

Perbedaan tingkat ketelitian antara pantai utara dan selatan Jawa berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan dan pola pelayaran. Pesisir utara memiliki pelabuhan-pelabuhan yang terhubung dengan jaringan perdagangan regional.

Kapal dari berbagai wilayah Asia singgah untuk menjual barang, membeli komoditas, mengangkut hasil bumi, dan bertukar informasi tentang jalur pelayaran. Aktivitas tersebut membuat pengetahuan mengenai pantai utara lebih sering diperbarui dan diteruskan kepada pelaut maupun pembuat peta.

Sebaliknya, pesisir selatan Jawa menghadap langsung ke Samudra Hindia yang memiliki karakter perairan berbeda. Gelombang besar, kondisi laut terbuka, serta terbatasnya pelabuhan yang dikenal dalam jaringan perdagangan asing membuat sebagian kawasan pantai selatan kurang sering disinggahi kapal Eropa.

Dampak dari engganya para pelaut berlayar di kawasan ini menbuat informasi mengenai teluk, tanjung, muara sungai, dan bentuk garis pantainya lebih terbatas. Dalam peta-peta yang beredar di Eropa, sejumlah bagian pesisir selatan masih digambarkan berdasarkan perkiraan atau informasi yang belum teruji melalui pengukuran langsung. hay

  • Sejarah Pelayaran

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.