• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Film Hungry Ghost Festival...

Film Hungry Ghost Festival Hadirkan Horor-Komedi dan Kisah Persahabatan

Senin, 19 Okt 2026, 20:45 WIB

JAKARTA - Film horor-komedi Hungry Ghost Festival produksi MVP Pictures menghadirkan kisah persahabatan tiga anak muda yang terjebak dalam petualangan supranatural saat perayaan tradisi Hungry Ghost Festival. Ditulis dan disutradarai Imam Darto, film ini memadukan teror, humor, dan dinamika pertemanan yang diwarnai perbedaan karakter.

Film ini dibintangi Endy Arfian sebagai Raka, Aci Resti sebagai Tintin, dan Fajar Nugra sebagai Bobi. Ceritanya mengikuti perjalanan Raka bersama kedua sahabatnya yang berubah menjadi pengalaman tak terduga setelah mereka tiba di tengah perayaan Hungry Ghost Festival dan tanpa sengaja melanggar sejumlah pantangan setempat.

Ket. Foto: Film horor-komedi Hungry Ghost Festival produksi MVP Pictures menghadirkan kisah persahabatan tiga anak muda yang terjebak dalam petualangan supranatural saat perayaan tradisi Hungry Ghost Festival. Ditulis dan disutradarai Imam Darto, film ini memadukan teror, humor, dan dinamika pertemanan yang diwarnai perbedaan karakter. — Sumber: Istimewa

Perbedaan kepribadian ketiganya menjadi salah satu daya tarik cerita. Raka dikenal kaku dan perfeksionis, Tintin cenderung spontan serta berani mengambil risiko, sedangkan Bobi berusaha menjadi penengah ketika situasi mulai tidak terkendali.

Pertemuan tiga karakter dengan cara berpikir yang berbeda tersebut menghadirkan berbagai situasi komedi sekaligus konflik dalam persahabatan mereka. Ketika berhadapan dengan kejadian di luar nalar, ketiganya harus belajar memahami satu sama lain agar bisa menghadapi teror yang semakin mengancam.

Bagi Endy Arfian, memerankan Raka menjadi tantangan tersendiri karena harus membangun interaksi komedi bersama Aci Resti dan Fajar Nugra yang memiliki latar belakang sebagai komika. Ia perlu mengikuti ritme humor kedua lawan mainnya tanpa kehilangan karakter Raka yang lebih serius.

Menurut Endy, respons Raka terhadap tingkah Tintin dan Bobi justru menjadi salah satu sumber humor dalam film. Perbedaan gaya akting mereka juga membantu membangun interaksi tiga sahabat yang terasa saling melengkapi.

“Buat aku, tantangannya adalah beradu akting sama Aci dan Fajar yang punya warna komedi masing-masing. Aku harus bisa mengikuti ritme mereka, tapi tetap membawakan Raka dengan karakter dan responsnya sendiri. Ternyata, karakter yang lebih serius juga bisa jadi bagian dari komedi, justru dari reaksinya saat menghadapi tingkah dua sahabatnya. Menariknya, kami jadi saling melengkapi untuk membangun dinamika kita bertiga,” ujar Endy Arfian.

Sementara itu, Aci Resti menggambarkan Tintin sebagai sosok yang spontan dan sulit menahan rasa penasaran. Karakter tersebut kerap mengambil tindakan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya terlebih dahulu, sehingga situasi sederhana bisa berkembang menjadi persoalan yang lebih rumit.

“Gue mah kalau udah penasaran atau pengin tahu sesuatu, biasanya susah disuruh diem. Tintin juga begitu, orangnya spontan dan kadang nggak mikir panjang dulu. Cuma ya itu, gara-gara sifatnya, situasi yang tadinya biasa aja bisa jadi panjang urusannya. Tapi seru sih mainin karakter kayak Tintin, karena dia punya cara sendiri buat menghadapi masalah, walaupun kadang caranya bikin orang lain ikut pusing,” kata Aci Resti.

Di antara Raka dan Tintin, Bobi hadir sebagai sosok yang berusaha menjaga keseimbangan. Fajar Nugra menilai karakter tersebut dekat dengan pengalaman dalam persahabatan sehari-hari, ketika seseorang ikut terseret ke dalam persoalan akibat perbedaan pendapat di antara teman-temannya.

“Si Bobi itu, kayaknya ada beberapa hal yang sama sama gue, terutama kalau lagi ada dua teman yang beda banget cara mikirnya. Kadang kita cuma pengin semuanya aman, tapi malah ikut kebawa ke masalah mereka, hahaha. Buat gue, itu yang menarik dari persahabatan mereka. Walaupun sering ribut atau beda pendapat, pas ada masalah mereka tetap jalan bareng. Apalagi kalau masalahnya udah berhubungan sama hal-hal supranatural kayak di film ini, mau nggak mau harus saling bantu,” ujar Fajar Nugra.

Untuk mendalami latar cerita, para pemain berkesempatan menyaksikan langsung rangkaian tradisi Hungry Ghost Festival di Klenteng Bu An Kiong, Bekasi, dan Vihara Boen San Bio, Tangerang. Pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengenal lebih dekat tradisi yang menjadi bagian penting dalam film.

Hungry Ghost Festival juga dikenal melalui tradisi seperti Cioko dan Sembahyang Rebutan di sejumlah komunitas Tionghoa Indonesia. Dalam film ini, perayaan tersebut menjadi latar perjalanan Raka, Tintin, dan Bobi, yang harus menghadapi konsekuensi setelah tanpa sengaja melanggar sejumlah pantangan.

Unsur supranatural tidak hanya menjadi sumber ketegangan, tetapi juga menguji keberanian dan kekompakan ketiga tokoh utama. Di tengah kejadian yang semakin sulit dijelaskan, perbedaan karakter mereka menghadirkan situasi yang memadukan rasa takut dengan humor.

Melalui pendekatan tersebut, Hungry Ghost Festival tidak hanya mengandalkan teror untuk membangun cerita. Hubungan antartokoh turut menjadi bagian penting ketika mereka harus menghadapi situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

MVP Pictures menghadirkan film ini sebagai perpaduan horor, komedi, dan drama persahabatan dalam sebuah petualangan yang dipenuhi kejadian tak terduga. Film Hungry Ghost Festival dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 26 November 2026.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.