Pasar Elektronika Global Tembus USD 1 Triliun, Kemenperin Siapkan IKM Tangkap Peluang
Sabtu, 17 Okt 2026, 11:45 WIBJAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen memperkuat keterlibatan industri kecil dan menengah dalam rantai pasok industri elektronika dan kelistrikan nasional, untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan industri global yang didorong transisi energi, digitalisasi, dan pengembangan kendaraan listrik.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia merupakan pasar elektronika konsumen terbesar di ASEAN. "Indonesia juga memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, serta sumber daya kobalt, tembaga, dan timah sebagai bahan baku komponen strategis. Ditambah dengan ekosistem manufaktur yang matang, kawasan industri Jabodetabek hingga Karawang berpotensi menjadi pusat pengembangan industri komponen elektronika,"ucapnya di Jakarta, Jumat (16/10).
Potensi tersebut perlu dioptimalkan seiring meningkatnya kebutuhan komponen elektronika dan kelistrikan di pasar global. Riset McKinsey Global Institute memproyeksikan nilai pasar komponen elektronika dunia akan melampaui USD 1 triliun pada 2030, didorong perkembangan kendaraan listrik, kecerdasan buatan, dan internet of things. Selain itu, permintaan komponen untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan pada periode 2023 sampai 2030 diproyeksikan tumbuh tiga kali lipat dibandingkan konsumsi elektronika konvensional.
Sarmuji menegaskan, pascapandemi, sejumlah negara dan kawasan ekonomi utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok semakin memperkuat produksi komponen domestiknya. Indonesia harus mampu mengambil peran aktif dalam transformasi industri global tersebut.
Saat ini, sejumlah IKM nasional telah memiliki kemampuan memproduksi berbagai komponen elektronika dan kelistrikan, antara lain printed circuit board assembly, wire harness, konektor, copper braid, panel listrik, serta sistem proteksi dan distribusi daya. Namun tantangan utama yang dihadapi IKM tidak hanya berkaitan dengan kemampuan produksi, tetapi juga akses pasar, kepastian penyerapan produk, serta keterlibatan secara formal dalam rantai pasok industri besar.
Menurut Sarmuji, di sinilah peran pemerintah tidak hanya terbatas pada pelatihan dan sertifikasi, tetapi juga mempertemukan IKM dengan industri besar serta mendorong terwujudnya kemitraan yang terstruktur, adil, dan berjangka panjang.
Sarmuji menilai IKM nasional memiliki sejumlah keunggulan, seperti fleksibilitas produksi, kemampuan menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar, kecepatan respons, kedekatan dengan konsumen domestik, serta pengalaman dalam memenuhi pasar ekspor. Meski demikian, masih terdapat sejumlah kendala yang perlu diatasi, terutama keterbatasan akses pasar formal, belum optimalnya kepastian kontrak jangka panjang, kebutuhan sertifikasi internasional seperti ISO dan IPC, serta akses pembiayaan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Sebagai langkah konkret, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka menggelar Forum Diskusi Kemitraan IKM Komponen Elektronika dan Kelistrikan dengan Industri Besar dan BUMN pada 12 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan pelaku IKM dengan industri besar, BUMN, asosiasi industri, serta pemerintah daerah untuk menjajaki peluang kerja sama dan memperkuat integrasi rantai pasok nasional. Sarmuji menyebut forum ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, memperkuat sinergi, dan merumuskan langkah konkret dalam pengembangan industri elektronika dan kelistrikan yang memiliki peran penting bagi masa depan industri nasional.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, mengungkapkan jumlah IKM pada kelompok Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia 26, yakni industri komputer, barang elektronika, dan optik, mencapai 5.816 unit usaha pada 2025. Jumlah tersebut meningkat hampir empat kali lipat dibandingkan 2021. Sementara jumlah IKM pada KBLI 27 atau industri peralatan listrik tercatat sebanyak 781 unit usaha. Menurut Reni, potensi ini menunjukkan IKM memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dalam penguatan industri elektronika nasional. Pemerintah perlu mempercepat kemitraan antara IKM dengan industri besar dan BUMN guna memperkuat basis produksi sekaligus memberikan kepastian pasar.
Menurut Reni, transisi energi dan elektrifikasi menjadi salah satu peluang pertumbuhan yang perlu dimanfaatkan IKM. Perkembangan kendaraan listrik, pembangkit listrik tenaga surya, serta infrastruktur kelistrikan meningkatkan kebutuhan berbagai komponen, mulai dari panel distribusi, inverter, hingga sistem proteksi. IKM berpeluang memasok modul pengisian daya, panel distribusi, komponen switchgear, konektor, wire harness untuk kendaraan listrik dan PLTS, PCB untuk battery management system, serta sistem proteksi dan sensor kelistrikan.
Selain itu, kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui penguatan tingkat komponen dalam negeri membuka peluang lebih luas bagi IKM untuk menjadi pemasok komponen bagi industri besar. Reni menyebut kebijakan TKDN pada industri elektronika dapat mempercepat substitusi impor komponen sekaligus membuka ruang bagi IKM yang mampu memenuhi spesifikasi teknis. Strategi China+1 yang diterapkan sejumlah perusahaan global juga memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjadi alternatif basis manufaktur komponen strategis.
Peluang lainnya berasal dari percepatan digitalisasi nasional, termasuk pembangunan jaringan 5G, serat optik, dan pusat data yang membutuhkan pasokan komponen elektronika dalam jumlah besar. Transformasi industri 4.0 juga mendorong peningkatan kebutuhan sensor, modul kontrol, serta PCBA untuk mendukung otomasi proses produksi.
Untuk menangkap peluang tersebut, Ditjen IKMA terus mendorong pengembangan platform kemitraan IKM dengan industri besar secara terstruktur dan berkelanjutan. Upaya ini dilakukan melalui penguatan regulasi dan insentif, pengembangan klaster IKM komponen strategis, serta pemantauan dan evaluasi kemitraan secara berkala.
Dukungan Industri
Sementara itu, Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Kemenperin, Emma Natalia, menekankan pentingnya komitmen industri besar dan BUMN untuk menempatkan IKM lokal sebagai mitra strategis dalam rantai pasok industri. Industri besar dan BUMN diharapkan dapat membuka akses nyata bagi IKM sebagai pemasok tier-2 formal, memberikan kepastian penyerapan produk melalui kontrak jangka menengah, memfasilitasi transfer pengetahuan teknis dan standar kualitas, serta mendukung pengembangan kapasitas IKM secara terstruktur.
Di sisi lain, IKM juga perlu meningkatkan konsistensi kualitas, ketepatan waktu pasokan, serta kemampuan memenuhi kebutuhan produksi industri besar. Emma mendorong IKM untuk meningkatkan standar produksi menuju sertifikasi ISO dan IPC, aktif mengikuti program business matching yang difasilitasi pemerintah, memanfaatkan akses pembiayaan seperti kredit usaha rakyat, serta membangun konsorsium untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam skala besar.
- Industri Kecil Menengah (IKM)
- industri elektronik
- rantai pasok global
- muhammad sarmuji
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Politik Uang Mengintai, Bawaslu Magelang Minta Desa Jadi Benteng Pertama
-
Menekraf Sebut Kreativitas Karya Seni Jadi Ruang Pemulihan Ekonomi Pascabencana
-
KKP Pacu Ekspor Nila, Pasar Global Jadi Sasaran Baru
-
IKM Hijau Jadi Masa Depan, Kemenperin Siapkan Akses Pasar dan Pembiayaan Berkelanjutan
-
Apakah Kerajaan Sriwijaya Memang Benar-benar Pernah Ada?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.