Rupiah Hari Ini Melemah, Tembus Level Psikologis Baru Dipicu The Fed Tahan Bunga Tinggi
Jumat, 16 Okt 2026, 18:37 WIBJAKARTA â Pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan bertahan di level tinggi lebih lama dari perkiraan.
Kondisi ini memperkuat daya tarik aset berbasis dolar AS dan berpotensi mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah pun semakin besar di tengah ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan tingginya permintaan dolar AS.
Situasi ini menuntut Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengabaikan kebutuhan pelonggaran kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (16/10), bergerak melemah 89 poin atau 0,50 persen menjadi Rp18.027 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi potensi suku bunga AS bertahan lebih lama.
Dia menyampaikan bahwa inflasi Amerika Serikat pada September 2026 meningkat menjadi 3,7 persen persen secara tahunan dari 3,4 persen pada Agustus, yang dinilai membuat pasar terus mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
âJika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,â ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dinilai juga menjadi perhatian karena berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia untuk impor energi.
Melihat sentimen domestik, lanjut dia, pasar turut mencermati pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait usulan perubahan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar yang berdiri sendiri.
Menurut Amru, perkembangan ini berpotensi mempengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan mendorong penyesuaian portofolio investasi asing. Namun, dampaknya terhadap rupiah belum dapat dipastikan secara langsung dan perlu dilihat bersama faktor lain, termasuk pergerakan dolar AS dan kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
Di sisi lain, sejumlah indikator disebut menunjukkan fundamental ekonomi domestik masih memiliki penopang.
Bank Indonesia mencatat utang luar negeri Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 459,3 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan 5,6 persen secara tahunan. Aliran masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) turut mendukung pembiayaan pemerintah.
Sementara itu, penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan dan diprakirakan meningkat menjadi 1,4 persen pada September.
Dia mengatakan data tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih terjaga, meskipun belum cukup untuk mengimbangi tekanan eksternal terhadap rupiah.
âKe depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh arah dolar AS, ekspektasi kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik, serta dinamika arus modal asing. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menjadi perhatian pasar dalam menentukan arah rupiah selanjutnya,â ujar dia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.052 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.948 per dolar AS.
- rupiah hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bukan Cuma Dibuang, Limbah Makanan Bergizi Gratis Disulap Jadi Produk Berharga di Manado
-
Jonet Perkuat Komunikasi dan Peringatan Dini Bencana di Yogyakarta
-
Wakil Panglima TNI Pimpin Ziarah Nasional HUT Ke-81 TNI, Teladani Semangat Juang Para Pahlawan.
-
Iran Usulkan Rencana untuk Membuka Kembali Selat Hormuz dalam 7 Hari
-
Denon Prawiraatmadja Mulai Roadshow Asia, Whitesky Bawa Agenda Pengembangan eVTOL Rp21 Triliun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.