IEA Ungkap Kekurangan Pasokan Solar Global Diperkirakan akan Berlanjut hingga 2027

Jumat, 16 Okt 2026, 00:20 WIB

PARIS — Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan kekurangan pasokan solar global dapat berlanjut hingga 2027. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan harga solar pada tingkat tinggi, mendorong inflasi, dan menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.

IEA menyatakan gangguan pasokan dari Timur Tengah dan Russia menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar solar. Penurunan gabungan ekspor solar dari kedua kawasan tersebut mencapai 1,3 juta barel per hari pada September 2026. Ini setara dengan sekitar 4,5 persen dari proyeksi permintaan solar dan minyak gas global tahun ini.

Ket. Foto: — Sumber: Freepik

Solar digunakan secara luas dalam sektor industri, pertanian, dan transportasi. Karena itu, kenaikan harganya dapat meningkatkan biaya pengiriman barang, menekan pendapatan masyarakat, serta mempengaruhi aktivitas ekonomi. Harga solar yang mencapai rekor tertinggi juga menambah tekanan terhadap pemerintah negara-negara di dunia.

Pada Kamis (15/10), Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meminta negara-negara Uni Eropa mengurangi persediaan solar mereka. Washington DC juga memperingatkan kemungkinan larangan ekspor solar jika negara-negara tersebut mengabaikan permintaan tersebut.

IEA memperingatkan pasar minyak dapat lebih bergejolak dalam beberapa bulan mendatang jika konflik di Timur Tengah tidak terselesaikan. Pemulihan aktivitas kilang minyak global diperkirakan mulai menambah persediaan menjelang akhir tahun.

Namun, peningkatan tersebut dinilai belum cukup untuk menutupi kekurangan pasokan solar dan bahan bakar pesawat. Pasokan dan permintaan minyak gas global diperkirakan masih ketat pada paruh pertama 2027 sebelum membaik pada paruh kedua.

IEA memperkirakan surplus pasokan baru akan mulai muncul pada 2027. Untuk meredakan tekanan pasar, negara-negara anggota IEA telah menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat.

Total komitmen tersebut kemudian ditingkatkan menjadi 426 juta barel, dengan sekitar 100 juta barel masih harus disalurkan. Namun, laju pelepasan cadangan darurat melambat menjadi sekitar 270 ribu barel per hari pada September 2026.

IEA menyatakan peningkatan ekspor minyak mentah Timur Tengah pada September 2026 menghadapi risiko. Ini terjadi akibat eskalasi serangan infrastruktur energi dan lalu lintas kapal

Situasi tersebut menambah ketidakpastian terhadap pemulihan pasokan energi global. Karena itu, dewan pengurus IEA dijadwalkan membahas rincian pelepasan cadangan darurat.

Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Kamis 15 Oktober 2026 waktu setempat.. Langkah tersebut diharapkan membantu meredakan tekanan pasar, meskipun kekurangan pasokan solar diperkirakan masih menjadi tantangan hingga 2027. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.