- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ekonomi India Diproyeksi L...
Ekonomi India Diproyeksi Lampaui Jepang pada 2027
Jumat, 16 Okt 2026, 01:00 WIBBangkok - Dana Moneter Internasional (IMF) pada Kamis (15/10) memperkirakan India akan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2027, melampaui Jepang, berdasarkan proyeksi produk domestik bruto (PDB) nominal kedua negara tersebut.
Dilansir dari AFP, IMF menyatakan Jepang masih akan menempati posisi keempat sebagai ekonomi terbesar dunia pada 2026. Namun, pada 2027, India diperkirakan mengambil alih posisi tersebut dengan PDB nominal mencapai 4,52 triliun dollar AS.
Sementara itu, Jepang diproyeksikan turun ke peringkat keenam pada tahun yang sama, tertinggal dari India dan Inggris.
India mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dalam beberapa tahun terakhir meskipun menghadapi berbagai tantangan global. Pekan ini, IMF bahkan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi India pada 2026 menjadi 7 persen.
Sebaliknya, Jepang menghadapi persoalan populasi yang menua dan berbagai masalah struktural yang membebani pertumbuhan ekonominya.
Amerika Serikat masih menjadi ekonomi terbesar dunia, diikuti Tiongkok dan Jerman.
Saat merilis prospek ekonomi regional Asia-Pasifik pada Kamis, Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan mengatakan India memasuki periode guncangan harga energi akibat perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dengan kondisi fundamental ekonomi yang kuat.
"India memasuki situasi ini dengan fundamental yang sangat kuat," katanya.
"Pertumbuhan ekonomi kuat, kehati-hatian fiskal sudah terjamin, mereka memiliki banyak cadangan, dan sebagainya. Dalam konteks itu, mereka telah merespons guncangan ini dengan baik," ujar Srinivasan.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Jepang diproyeksikan melambat menjadi 0,7 persen pada 2026. Negara tersebut terdampak kenaikan harga energi dan inflasi yang lebih luas, yang turut mendorong Bank Sentral Jepang menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir.
Jepang, yang selama bertahun-tahun menghadapi tekanan deflasi, mengalami kenaikan harga konsumen secara berkelanjutan sejak musim semi 2022. Lonjakan harga energi akibat perang Iran semakin memperbesar tekanan inflasi tersebut.
Pelemahan nilai tukar yen, yang mencapai level terendah dalam 40 tahun terhadap dollar AS selama musim panas, turut meningkatkan biaya impor.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
PLTS 100 kWp Hasilkan 63.800 kWh, Bandara Ahmad Yani Genjot Energi Hijau
-
UEFA Bagikan 560 Miliar Rupiah kepada Klub yang Lepas Pemain ke Nations League
-
Estetika Regeneratif dan Skin Longevity Jadi Fokus Bmderma
-
Lorong Bangkai KM Virgo Transport 8 Banyak Tertutup, Penyelam Hadapi Akses Terbatas
-
AMSI: Media Kini Hadapi Tantangan Perubahan Perilaku Masyarakat dan AI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.