Siwarha, Bintang Pendamping Betelgeuse Akhirnya Terlihat
Kamis, 15 Okt 2026, 07:23 WIBDI BAHU rasi Orion, terdapat sebuah bintang merah yang mudah dikenali ketika langit malam cerah. Namanya Betelgeuse, bintang superraksasa merah yang telah lama menarik perhatian astronom karena ukurannya yang luar biasa besar dan kecerahannya yang berubah-ubah.
Namun, di balik cahaya bintang yang mencolok itu, astronom menduga terdapat objek lain yang selama puluhan tahun sulit diamati. Dugaan tersebut akhirnya memperoleh dukungan kuat setelah tim peneliti berhasil mendapatkan citra yang memperlihatkan bintang pendamping Betelgeuse secara langsung.
Temuan yang diumumkan pada 28 Juli 2026 itu menjadi perkembangan penting dalam penelitian bintang raksasa merah. Dengan menggunakan Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) di Gurun Atacama, Cile, para astronom memperoleh citra paling jelas sejauh ini dari objek yang diduga mengorbit Betelgeuse. Bintang pendamping tersebut dikenal sebagai Betelgeuse B dan diberi nama Siwarha.
Penelitian ini dipimpin Miguel Montargès dari Observatoire de Paris, Prancis. Hasilnya dilaporkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics melalui makalah berjudul VLT/SPHERE images the candidate companion of Betelgeuse.
ESO menyebut temuan tersebut sebagai bukti terkuat sejauh ini mengenai keberadaan bintang pendamping Betelgeuse. Meski demikian, tim peneliti masih memerlukan pengamatan lanjutan untuk memastikan pergerakan orbit objek tersebut.
Dalam laporan ESO mengenai temuan ini, Montargès menyebut penemuan tersebut sebagai penutup pencarian yang telah berlangsung sekitar satu abad. Selama puluhan tahun, astronom telah mencoba menjelaskan perubahan kecerahan Betelgeuse, termasuk kemungkinan bahwa bintang itu memiliki pasangan yang mengorbit di dekatnya.
Terhambat Cahaya Terang
Menemukan bintang pendamping bukan perkara sederhana, terutama ketika objek utama merupakan bintang raksasa yang sangat terang. Dalam kasus Betelgeuse, persoalannya bukan semata-mata jarak dari Bumi, melainkan perbedaan kecerahan yang besar antara kedua bintang dan jarak sudut mereka yang sangat dekat di langit.
Betelgeuse telah melewati sebagian besar tahap kehidupannya sebagai bintang. Ketika masih muda, bintang ini membakar hidrogen di bagian intinya melalui reaksi fusi nuklir, sebagaimana yang dilakukan Matahari saat ini. Setelah bahan bakar di inti berubah dan struktur internalnya berkembang, Betelgeuse membesar menjadi superraksasa merah.
Atmosfer luarnya membentang sangat luas dan memancarkan cahaya yang kuat. Kondisi tersebut membuat objek yang berada di dekatnya sulit dipisahkan dari pancaran cahaya Betelgeuse ketika diamati menggunakan teleskop.
Situasinya dapat dibayangkan seperti mencoba melihat sebuah lampu kecil yang menyala tepat di samping lampu sorot. Walaupun lampu kecil itu memancarkan cahaya sendiri, pancaran yang jauh lebih terang dari sumber di sebelahnya membuatnya sulit dibedakan. Masalahnya bukan berarti lampu kecil itu tidak ada, melainkan cahaya dari objek yang lebih terang mendominasi penglihatan.
Dalam astronomi, tantangan ini berkaitan dengan kontras kecerahan dan resolusi sudut. Resolusi sudut menunjukkan kemampuan teleskop untuk membedakan dua objek yang tampak berdekatan dari sudut pandang pengamat di Bumi. Ketika jarak sudut kedua bintang sangat kecil dan salah satunya jauh lebih terang, cahaya objek utama dapat menutupi sinyal objek pendamping.
Selain itu, pengamatan dari permukaan Bumi menghadapi gangguan atmosfer. Turbulensi udara membuat cahaya bintang tampak bergetar dan menyebar, sehingga pemisahan dua objek yang berdekatan menjadi semakin sulit.
Astronom membutuhkan instrumen khusus dan teknik pengolahan data yang mampu menekan pengaruh cahaya dari bintang utama. Itulah sebabnya keberadaan Betelgeuse B telah lama menjadi dugaan, tetapi sulit dibuktikan melalui pengamatan langsung.
Menurut ESO, dua penelitian yang terbit pada 2024 memperkirakan bahwa bintang pendamping tersebut akan mencapai posisi terjauh dari Betelgeuse jika dilihat dari Bumi pada Desember tahun itu. Posisi tersebut memberikan kesempatan penting karena jarak sudut yang lebih lebar dapat membantu astronom memisahkan cahaya kedua objek.
Tim Montargès kemudian melakukan pengamatan menggunakan VLT pada Desember 2024. Para peneliti tidak langsung mendapatkan jawaban setelah teleskop diarahkan ke bintang tersebut. Data hasil pengamatan harus diproses dan dianalisis selama beberapa bulan sebelum sinyal yang konsisten dengan keberadaan bintang pendamping dapat dikenali.
Lisa Grossman dalam laporan Science News, 28 Juli 2026, menjelaskan bahwa pengamatan tersebut memanfaatkan teknik pencitraan yang sebelumnya dikembangkan untuk mencari eksoplanet, yakni planet yang mengorbit bintang di luar Tata Surya.
Teknologi Pemburu Planet
Salah satu kunci keberhasilan pengamatan tersebut adalah instrumen SPHERE yang terpasang pada VLT. Instrumen ini dirancang untuk mengamati objek yang sangat redup di dekat bintang terang, termasuk planet di luar Tata Surya.
Teknik yang dikembangkan untuk pencarian eksoplanet ternyata dapat diterapkan untuk mengamati bintang pendamping Betelgeuse. Kesamaan tantangannya terletak pada upaya mendeteksi cahaya objek yang relatif redup di tengah pancaran cahaya objek utama yang jauh lebih terang.
Pengamatan dilakukan dengan memanfaatkan sistem optik adaptif dan teknik pemrosesan citra lanjutan. Optik adaptif membantu mengoreksi gangguan akibat turbulensi atmosfer Bumi yang dapat membuat citra bintang menjadi kabur. Sementara itu, teknik pengolahan citra digunakan untuk menekan pola cahaya dari objek utama agar sinyal yang lebih lemah dapat dikenali.
Dalam pengamatan Betelgeuse, para astronom tidak sekadar mengambil foto dengan memperbesar tampilan bintang. Mereka harus mengurangi dominasi cahaya Betelgeuse dalam data, kemudian memeriksa apakah terdapat sumber cahaya lain yang konsisten dengan keberadaan sebuah bintang.
Keberhasilan itu memperlihatkan bahwa teknologi pengamatan yang dikembangkan untuk mencari planet juga dapat membantu menjawab pertanyaan mengenai evolusi bintang. Instrumen yang mampu mendeteksi objek redup di sekitar bintang terang membuka peluang untuk mempelajari sistem bintang yang sebelumnya sulit diamati secara langsung.
Dalam rilisnya, ESO menegaskan bahwa SPHERE dan teknik pemrosesan citra lanjutan menghasilkan citra paling jelas sejauh ini dari Betelgeuse B. Temuan tersebut menjadi bukti kuat, meskipun konfirmasi lebih lanjut melalui pengamatan orbit masih diperlukan.
Pengamatan baru menunjukkan bahwa Betelgeuse B kemungkinan memiliki massa sekitar 2,6 hingga 3,1 kali massa Matahari. Perkiraan ini bergantung pada asumsi bahwa kedua bintang terbentuk pada waktu yang sama.
Angka tersebut lebih besar daripada perkiraan awal yang menyebut objek pendamping itu memiliki massa kira-kira setara dengan Matahari. Massa yang lebih besar juga membantu menjelaskan mengapa cahaya bintang pendamping itu akhirnya dapat dideteksi melalui pengamatan yang sangat teliti.
Namun, dibandingkan Betelgeuse yang merupakan bintang superraksasa merah, Siwarha tetap tampak jauh lebih redup. Perbedaan tahap evolusi dan karakteristik kedua objek membuat cahaya yang diterima teleskop dari masing-masing bintang berbeda. hay
- Siwarha
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.