Rupiah Hari Ini Loyo, Dolar Perkasa Usai Inflasi AS Naik

Kamis, 15 Okt 2026, 18:30 WIB

JAKARTA – Pelemahan rupiah mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal seiring penguatan dolar AS setelah inflasi Amerika Serikat (AS) pada September 2026 naik lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi ini berpotensi mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), bahkan membuka peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Ket. Foto: Ilustrasi-Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Akbar Nugroho Gumay

Dampaknya, daya tarik aset berbasis dolar AS menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Jika tekanan berlanjut, risiko kenaikan biaya impor dan beban pembayaran utang luar negeri dapat meningkat, sehingga stabilitas nilai tukar menjadi tantangan bagi Bank Indonesia tanpa mengabaikan kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (15/10), bergerak melemah 35 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.938 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.903 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa menyatakan sentimen rupiah masih dipengaruhi oleh langkah stabilisasi Bank Indonesia serta perkembangan fundamental ekonomi nasional.

“Penjualan eceran Agustus tumbuh 1,3 persen secara tahunan, meningkat dari 1,1 persen pada Juli, sementara penjualan eceran September diprakirakan tumbuh 1,4 persen,” ucapnya di Jakarta.

Menurut dia, hal ini menunjukkan konsumsi domestik masih relatif terjaga. Kendati begitu, lanjutnya, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan arus modal asing dan kebutuhan valuta asing yang dapat mempengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran dolar AS di dalam negeri.

Melihat sentimen global, rupiah disebut masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS setelah inflasi Amerika Serikat pada September 2026 meningkat menjadi 3,7 persen secara tahunan, dibandingkan 3,4 persen pada Agustus.

Kenaikan inflasi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, bahkan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.

“Kondisi ini berpotensi mendorong aliran modal menuju aset berdenominasi dolar AS dan membatasi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ungkap Amru.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.948 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.898 per dolar AS.

  • rupiah hari ini

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.