Bukan Sekadar Wisata, Camino de Flores Buka Peluang Baru bagi Warga Flores

Kamis, 15 Okt 2026, 00:46 WIB

KUPANG - Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otoritas Labuan Bajo Flores (BPOLBF) Andhy MT Marpaung mengatakan Camino de Flores memperluas manfaat pariwisata di Flores, Nusa Tenggara Timur, melalui perjalanan spiritual, pelestarian budaya, kepedulian sosial, dan pemberdayaan ekonomi.

“Camino de Flores menjadi momentum untuk memperkenalkan Flores melalui pengalaman perjalanan yang lebih mendalam, dengan menjadikan masyarakat dan kekayaan lokal sebagai bagian utama dari pengalaman tersebut,” kata Andhy dari Labuan Bajo, Kamis.

Ket. Foto: Peluncuran Camino de Flores di Jakarta. — Sumber: Antara foto/HO-Kemenpar

Ia berharap inisiatif tersebut dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat di sepanjang jalur perjalanan, sekaligus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, komunitas, pelaku pariwisata, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun pariwisata Flores yang inklusif dan berkelanjutan.

Camino de Flores atau The Sacred Journey of Flores merupakan pola perjalanan wisata religi Katolik yang menghubungkan situs keagamaan, desa wisata, lanskap alam, dan tradisi budaya masyarakat Flores melalui kegiatan berjalan kaki.

Program yang didukung Kementerian Pariwisata dan BPOLBF itu diharapkan dapat mendorong pemerataan kunjungan wisatawan yang selama ini masih terkonsentrasi di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Dia mengatakan, pengembangan Camino de Flores juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pemulihan ekonomi masyarakat Flores pascagempa bumi yang berdampak pada sejumlah wilayah di NTT.

Melalui pendekatan pariwisata berbasis masyarakat, perjalanan tersebut diharapkan memberikan manfaat ekonomi langsung kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pengelola homestay, perajin tenun ikat, penyedia kuliner lokal, serta pemandu wisata.

Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF menyiapkan proyek percontohan (pilot project) Camino de Flores Etape Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada 23-27 Oktober 2026.

Sebanyak sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif akan menempuh rute Bajawa-Nagekeo-Ende sepanjang kurang lebih 70 kilometer. Perjalanan itu memadukan pengalaman spiritual, penelusuran sejarah, pengenalan budaya, dan interaksi langsung dengan masyarakat setempat.

Selain menjadi perjalanan wisata religi, kegiatan tersebut mengintegrasikan misi sosial melalui penggalangan dana yang direncanakan untuk mendukung renovasi rumah sakit, gereja, sarana budaya dan pariwisata, serta penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.

Sebelumnya di Jakarta Selasa (13/10) Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan Camino de Flores menjadi langkah strategis untuk memperluas distribusi kunjungan wisatawan dan manfaat ekonomi pariwisata ke berbagai kabupaten di Flores.

“Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan (travel pattern) baru yang strategis, mengingat kunjungan wisatawan selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo,” katanya dalam konferensi pers peluncuran Camino de Flores di Jakarta, Selasa (13/10).

Ia menjelaskan, jalur tersebut menghubungkan berbagai potensi wisata, mulai dari situs religi, desa wisata, lanskap alam, hingga kegiatan dan ritual keagamaan, seperti Semana Santa, Festival Golo Koe, ziarah, serta prosesi budaya lainnya.

Inisiator Camino de Flores Mari Elka Pangestu mengatakan gagasan tersebut terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol, jalur ziarah yang telah berkembang selama berabad-abad.

Menurut dia, konsep tersebut diadaptasi untuk Flores dengan menggabungkan spiritualitas, keindahan alam, kekayaan budaya, dan pemberdayaan masyarakat lokal agar wisatawan memperoleh pengalaman lebih mendalam dan tinggal lebih lama.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.