BMKG Prediksi Terjadinya Peningkatan Hari Panas

Kamis, 15 Okt 2026, 18:50 WIB

JAKARTA - BMKG menyebut seluruh wilayah Indonesia berpotensi mengalami peningkatan frekuensi hari panas, tetapi waktu terjadinya berbeda-beda setiap daerah setempat. Perbedaan tersebut berkaitan dengan pergerakan Matahari yang membuat periode suhu maksimum tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah Indonesia.

Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, menjelaskan Jawa mengalami suhu panas ekstrem pada Oktober. Namun, wilayah lain juga berpotensi mengalami kondisi serupa, meski puncak suhu maksimum terjadi pada bulan berbeda sepanjang tahun.

Ket. Foto: — Sumber: Freepik

"Secara umum, semua wilayah Indonesia berpotensi mengalami peningkatan frekuensi hari panas, tetapi periode terjadinya tidak sama. Jadi, kondisi panas yang dirasakan masyarakat Jawa pada Oktober bukan berarti wilayah lain tidak mengalaminya pada waktu berbeda," kata Supari, Kamis (15/10).

Menurut dia, posisi semu Matahari terus bergeser sepanjang tahun, sehingga waktu penerimaan panas maksimum berbeda antardaerah di Indonesia. Pergerakan tersebut membuat wilayah tertentu mengalami puncak suhu lebih dahulu, sementara daerah lainnya menyusul pada periode berbeda.

Pada Desember, posisi semu Matahari mencapai titik paling selatan sebelum bergerak ke utara dan melintasi ekuator sekitar Maret. Memasuki April hingga Mei, sejumlah wilayah di utara ekuator justru berpotensi mengalami suhu maksimum pada periode tersebut umumnya.

"Jawa mengalami suhu panas ekstrem pada Oktober, sedangkan wilayah lain dapat merasakan kondisi serupa pada periode berbeda. Perubahan posisi Matahari menyebabkan waktu suhu maksimum yang dialami setiap wilayah tidak selalu berlangsung bersamaan di Indonesia," ucap Supari.

Selain suhu panas, BMKG juga memproyeksikan perbedaan kecenderungan curah hujan antara wilayah Indonesia bagian selatan dan utara ekuator. Wilayah selatan diperkirakan cenderung semakin kering, sedangkan wilayah utara ekuator berpotensi mengalami peningkatan curah hujan dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut membuat wilayah selatan Indonesia perlu mewaspadai berkurangnya curah hujan dan meningkatnya potensi kekeringan pada masa mendatang. Sementara itu, wilayah utara ekuator perlu mengantisipasi peningkatan curah hujan yang dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi setempat lokal.

"Proyeksi iklim menunjukkan wilayah selatan Indonesia cenderung semakin kering, sementara wilayah utara ekuator cenderung semakin basah. Karena itu, potensi yang perlu diantisipasi berbeda, mulai dari kekeringan di selatan hingga bencana hidrometeorologi di utara Indonesia," ujarnya.

BMKG mengingatkan masyarakat memahami karakter iklim daerah masing-masing agar dapat menyesuaikan langkah antisipasi terhadap cuaca dan perubahan musim. Pemantauan informasi iklim secara berkala juga membantu pemerintah daerah dan masyarakat menyiapkan langkah mitigasi sesuai risiko wilayahnya setempat. ils/I-1

  • Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
  • Peningkatan Hari Panas

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.